sibernas.com - menjaga kelestarian tikar purun kebudayaan asli masyarakatpedamaran oki kini bertumpu pada daya tahan ekosistem gambut yang semakin terhimpit oleh ekspansi industri monokultur. Kondisi geografis Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, yang dahulunya dikenal sebagai Marga Danau, saat ini berada dalam titik kritis kelestarian hayati dan tradisi.
Data terbaru per 30 September 2026 menunjukkan penyusutan drastis lahan baku purun (Eleocharis dulcis) akibat kebakaran hutan berulang sejak 2015 serta alih fungsi lahan masif. Identitas daerah yang dijuluki Kota Tikar ini terancam sirna apabila akses masyarakat adat terhadap bahan baku alami terus dibatasi oleh konsesi perusahaan besar.
Tantangan Kelestarian Budaya di Tengah Menyempitnya Habitat Purun Pedamaran
Keberlangsungan tradisi menganyam di Pedamaran tidak dapat dipisahkan dari kondisi rawa lebak dan ekosistem gambut yang sehat. Berdasarkan catatan sejarah lokal, wilayah ini memiliki luas 150.000 hektar dengan 120.000 hektar di antaranya merupakan lahan gambut yang menjadi rumah bagi tumbuhan purun. Namun, angka ini mengalami penurunan tajam yang mengkhawatirkan bagi para pengrajin.
Aktivis dari Lingkar Adat Marga Danau mencatat bahwa lebih dari 75 persen lahan gambut di Kecamatan Pedamaran telah beralih fungsi. Dari luasan awal yang melimpah, kini hanya tersisa sekitar 10.000 hektar lahan yang masih memiliki tegakan purun. Realitas di lapangan jauh lebih getir karena mayoritas sisa lahan tersebut telah masuk ke dalam area konsesi perusahaan.
Masyarakat kini hanya memiliki akses bebas pada lahan seluas 30 hektar, dengan pemanfaatan efektif baru menyentuh angka 4 hektar. Keterbatasan ruang gerak ini memaksa warga mencari bahan baku hingga ke pelosok yang memakan waktu perjalanan hingga tujuh jam menggunakan perahu ketek. Perjalanan jauh ini menjadi beban biaya tambahan yang menekan pendapatan ekonomi para pengrajin tradisional.
Dampak Ekspansi Perkebunan Sawit Terhadap Ekosistem Gambut Lokal
Ekspansi perkebunan kelapa sawit yang mencapai luas 80.000 hektar di kawasan tersebut telah mengubah bentang alam secara fundamental. Pembangunan kanal-kanal untuk pengeringan lahan perkebunan menyebabkan muka air tanah di sekitar habitat purun menurun drastis. Akibatnya, tanaman purun yang sangat bergantung pada ketersediaan air menjadi kering, kerdil, dan tekstur batangnya mengeras.
Purun yang tumbuh di lahan yang terdampak kekeringan akibat kanalisasi memiliki kualitas rendah. Batang purun menjadi sulit ditumbuk karena seratnya yang kaku dan mudah pecah saat proses penganyaman. Kondisi ini secara langsung menurunkan nilai estetika dan ketahanan tikar yang dihasilkan, yang pada gilirannya mengancam daya saing produk di pasar regional.
Fenomena ini menciptakan efek domino bagi 45.448 jiwa penduduk Pedamaran yang menggantungkan hidup pada keseimbangan alam. Perubahan kualitas air dan hilangnya vegetasi asli juga memicu konflik ekologis yang berkepanjangan, di mana masyarakat sering kali menjadi korban stigmatisasi sebagai penyebab kebakaran hutan, padahal pola pengambilan purun secara tradisional terbukti bersifat konservatif.
Konflik Akses Lahan dan Hilangnya Sumber Bahan Baku Masyarakat Adat
Masuknya delapan perusahaan besar ke dalam wilayah kelola masyarakat telah menciptakan tembok pembatas yang nyata bagi para pencari purun. Warga sering kali diusir atau dianggap melakukan pelanggaran saat memasuki lahan yang secara turun-temurun mereka anggap sebagai wilayah adat. Konflik horizontal ini diperparah dengan hilangnya hak kelola atas sumber daya alam yang menjadi urat nadi kebudayaan.
Pola pengambilan purun oleh masyarakat Pedamaran sebenarnya merupakan bentuk kearifan lokal yang menjaga kelestarian. Dengan teknik mencabut batang purun yang sudah dewasa, tanaman tersebut justru akan tumbuh lebih subur dan rapat. Berbeda dengan pembukaan lahan besar-besaran yang mencabut hingga ke akar dan mengubah struktur tanah gambut secara permanen.
Hilangnya akses ini membuat biaya produksi meningkat karena kelangkaan bahan baku di dekat pemukiman. Jika dahulu purun dapat diperoleh secara gratis di belakang rumah panggung mereka, kini masyarakat harus mengeluarkan biaya bahan bakar mesin perahu dan waktu berhari-hari untuk mendapatkan satu bidas purun yang hanya cukup untuk membuat tiga lembar tikar.
Identitas Kota Tikar dan Filosofi Kearifan Lokal Masyarakat Marga Danau

Penyebutan Kota Tikar bagi Pedamaran bukanlah sekadar julukan komersial, melainkan pengakuan atas kemahiran teknis yang mendarah daging. Budaya menganyam di sini merupakan simbol resistensi budaya terhadap modernisasi yang merusak. Bagi warga Marga Danau, selembar tikar purun adalah manifestasi dari kesabaran, ketelitian, dan penghormatan terhadap alam rawa yang menghidupi mereka.
Filosofi hidup masyarakat yang menetap di rumah rakit dan rumah panggung ini sangat bergantung pada irama air sungai. Purun menjadi jembatan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian identitas. Tanpa purun, struktur sosial dan narasi sejarah masyarakat Pedamaran akan kehilangan konteks utamanya sebagai penjaga rawa lebak Sumatera Selatan.
Peran Vital Perempuan Pedamaran dalam Mewariskan Tradisi Menganyam
Dalam struktur sosial masyarakat Pedamaran, kaum perempuan memegang peran sentral sebagai penjaga gawang kebudayaan. Statistik menunjukkan bahwa sekitar 90 persen perempuan di wilayah ini menguasai teknik menganyam purun. Keahlian ini bukan didapat melalui pendidikan formal, melainkan melalui proses observasi dan partisipasi sejak usia dini di teras-teras rumah panggung.
Menganyam tikar dilakukan di sela-sela tugas domestik, menciptakan ritme kerja yang unik dan produktif. Aktivitas ini juga berfungsi sebagai sarana sosialisasi antarwarga, di mana pengetahuan kolektif tentang motif dan teknik dibagikan secara lisan. Perempuan Pedamaran telah membuktikan bahwa kearifan lokal dapat menjadi instrumen ketahanan ekonomi keluarga di tengah fluktuasi harga komoditas lain.
Gerakan Solidaritas Mahasiswa dalam Menyelamatkan Simbol Budaya Daerah
Kesadaran akan ancaman kepunahan ini memicu lahirnya gerakan dari kalangan intelektual muda, seperti Organisasi Keluarga Mahasiswa Kota Tikar (KMKT) dan Lingkar Adat Marga Danau. Mereka berperan sebagai penyambung lidah masyarakat adat di tingkat kebijakan, menyuarakan pentingnya perlindungan sisa lahan gambut yang masih produktif menghasilkan purun.
Para mahasiswa ini aktif mendokumentasikan teknik-teknik lama yang mulai langka serta membantu dalam inovasi produk. Gerakan ini bertujuan untuk menaikkan nilai tawar kerajinan purun agar tidak lagi dipandang sebagai produk kelas bawah. Dengan membawa narasi pelestarian lingkungan, mereka berusaha menarik minat pasar yang lebih luas, termasuk kalangan yang peduli pada produk ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Proses Panjang Pembuatan Tikar Purun Melalui Teknik Tradisional Turun-Temurun

Pembuatan tikar purun berkualitas tinggi memerlukan ketelatenan yang luar biasa. Tahapan dimulai dari pemilihan batang purun yang tepat di rawa, di mana hanya batang yang memiliki panjang 50 hingga 200 sentimeter yang layak diambil. Setelah dicabut, purun diikat dalam satuan bidas dan dibawa pulang melalui jalur sungai, sebuah pemandangan ikonik di mana perahu ketek menarik ratusan ikatan purun yang menghanyut di air.
Proses pengeringan memakan waktu dua hari di bawah sinar matahari langsung hingga warna hijau mengilat berubah menjadi kuning keemasan. Kelembapan harus dijaga agar purun tidak menjadi terlalu rapuh. Teknik tradisional ini menjamin kekuatan serat purun sehingga tikar yang dihasilkan dapat bertahan hingga bertahun-tahun penggunaan intensif.
Tahapan Pengolahan Bahan Baku Menggunakan Alat Penumbuk Antan
Salah satu tahap paling krusial adalah pemipihan batang purun. Masyarakat Pedamaran menggunakan alat tradisional yang disebut Antan, yaitu sebuah kayu penumbuk berat. Purun diletakkan di atas landasan kayu, kemudian ditumbuk berulang kali hingga batangnya menjadi pipih dan halus namun tetap elastis. Proses ini biasanya dilakukan pada pagi hari sebagai bentuk aktivitas fisik yang menyehatkan bagi para pengrajin.
Keahlian menumbuk ini sangat menentukan kualitas anyaman. Jika tumbukan tidak merata, tikar akan terasa kasar dan tidak nyaman saat digunakan sebagai alas tidur. Penumbukan dengan antan juga berfungsi untuk mengeluarkan sisa-sisa air dan kotoran yang masih terperangkap di dalam batang purun, sehingga bahan menjadi lebih bersih dan siap untuk tahap pewarnaan atau langsung dianyam.
Teknik Pewarnaan Sumbo Alami dan Filosofi di Balik Ragam Motif Anyaman
Untuk memberikan nilai estetika lebih, purun diwarnai menggunakan sumbo atau pewarna. Meskipun saat ini banyak tersedia pewarna kimia, sebagian pengrajin masih mempertahankan penggunaan bahan alami seperti kulit manggis untuk warna ungu, kunyit untuk warna kuning, dan daun pandan untuk penguat aroma. Purun direbus dalam kawah besar berisi larutan warna hingga meresap sempurna ke dalam serat kayu.
"Proses pewarnaan alami membutuhkan waktu ekstra, namun hasil warnanya jauh lebih awet dan tidak mudah luntur dibandingkan bahan sintetis, sekaligus menjaga nilai otentik dari produk Marga Danau."
Setelah diwarnai dan dijemur kembali, barulah proses penganyaman dimulai dengan teknik netar atau membuat pondasi. Terdapat berbagai motif tradisional yang masing-masing memiliki fungsi sosial yang berbeda di masyarakat Pedamaran. Berikut adalah klasifikasi jenis tikar purun yang masih diproduksi:
| Jenis Tikar | Fungsi Utama | Karakteristik Motif | Estimasi Harga (Rp) |
|---|---|---|---|
| Tikar Putih | Ibadah & Makan | Polos tanpa warna | Rp 8.000 |
| Tikar Pejalur | Komersial/Dijual | Garis-garis simpel | Rp 10.000 |
| Sisik Salak | Menyambut Tamu | Anyaman rapat bersisik | Rp 12.000 |
| Tikar Kotak | Dekorasi Rumah | Motif geometris berwarna | Rp 15.000 - Rp 25.000 |
Potensi Ekonomi Kreatif dan Strategi Keberlanjutan Tradisi di Masa Depan
Meskipun harga di tingkat pengrajin masih tergolong rendah, yakni berkisar antara Rp 8.000 hingga Rp 12.000 per lembar, potensi ekonomi kreatif dari purun sangat besar. Saat ini, para pengrajin mulai melakukan diversifikasi produk. Purun tidak lagi hanya dijadikan tikar alas lantai, melainkan telah bertransformasi menjadi tas modis, dompet, tempat tisu, hingga kemasan undangan pernikahan yang eksklusif.
Langkah diversifikasi ini merupakan strategi cerdas untuk menyasar pasar urban yang menghargai nilai seni dan aspek keberlanjutan. Dengan sentuhan desain modern, sebuah tas purun dapat terjual berkali-kali lipat dari harga selembar tikar biasa. Pengepul atau tengkulak yang ada di tiap desa (sekitar 5-8 pengepul per desa) kini juga mulai melirik platform digital untuk memasarkan produk-produk inovatif ini ke luar Sumatera Selatan, hingga menjangkau Jambi dan Jakarta.
Keberlanjutan tradisi ini pada akhirnya bergantung pada kebijakan perlindungan lahan gambut. Tanpa adanya jaminan ketersediaan bahan baku alami, keahlian menganyam perempuan Pedamaran akan menjadi sia-sia. Diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, perusahaan pemegang konsesi, dan masyarakat adat untuk menetapkan zona lindung purun sebagai cagar budaya ekologis yang tidak boleh diganggu gugat.
Menjaga kelestarian tikar purun bukan sekadar urusan ekonomi kreatif semata, melainkan upaya mempertahankan benteng terakhir kearifan lokal di lahan basah Sumatera Selatan. Jika purun punah, maka identitas Kota Tikar hanya akan menjadi catatan kaki dalam buku sejarah, dan masyarakat Pedamaran akan kehilangan pegangan budayanya yang paling berharga.
Dapatkan pembaruan berita mendalam seputar kearifan lokal dan ekonomi kreatif masyarakat Sumatera Selatan hanya di sibernas.com agar tetap terhubung dengan tradisi nusantara.
