Analisis mendalam sibernas.com terhadap fenomena yang viral karena pemakamannya dihadiri setengah juta hingga jutaan orang Mesir ini mengungkap sebuah model bisnis yang menantang logika kapitalisme modern. Di sebuah kota kecil bernama Tafahna Al Asyrof, hiduplah seorang pemuda bernama Ir Sholah Althiyah, sosok yang mengubah kota tenang itu menjadi kota terkenal di Mesir dengan satu akad yang tidak biasa: menjadikan Allah SWT sebagai mitra bisnis ke-10.
Dari Satu Celana Panjang ke Akad Notaris dengan Allah
Seperti yang dikutip oleh Syekh DR Mustafa Dasuki Kasbah, Ahli Wakaf dari Universitas al-Azhar, di Mesir ada sebuah kota kecil bernama Tafahna Al Asyrof. Kota ini adalah kota kecil yang tenang. Namun atas perjuangan seseorang bernama Sholah Athiyah kota ini menjadi salah satu kota terkenal di Mesir.
Sholah Athiyah adalah seorang pemuda miskin dari kota itu. Bahkan ketika dia kuliah, dia hanya memiliki satu celana panjang. Ia belajar di salah satu universitas di Mesir jurusan pertanian. Fakta kemiskinan ini menjadi inti penting yang tidak boleh dihapus dari artikel lama. Setelah lulus, ia dan sembilan rekannya sepakat untuk memulai bisnis unggas dan perkebunan. Mereka mengumpulkan uang sebagai modal masing-masing dengan menjual apapun yang mereka miliki, termasuk uang hasil penjualan perhiasan istri-istri mereka. Dan akhirnya uang sedikit demi sedikit berhasil mereka kumpulkan.
Kemudian mereka berpikir, bagaimana jika ada tambahan partner untuk memperkuat bisnis mereka. Yaitu pasangan ke-10. Jadi mereka mencari mitra kesepuluh. Tapi siapa pasangan ke-10? Kemudian Ir. Sholah Athiyah mengusulkan satu nama sebagai pasangan kesepuluhnya, yaitu Allah SWT. Dan Allah akan menerima 10% dari keuntungan bisnis mereka. Dengan perjanjian Allah yang akan memberikan perlindungan, pemeliharaan dan perawatan dari segala wabah penyakit. Kemudian dibuatlah surat perjanjian di bawah Notaris lengkap dengan segala klausulnya, termasuk mengikutsertakan Allah sebagai sekutu kesepuluhnya.
Skema Bagi Hasil yang Tidak Masuk Akal Secara Bisnis
Inilah pola taktis yang jarang dibahas dalam literatur bisnis syariah kontemporer. Secara investigatif, skema Sholah adalah inversi dari model startup yang mencari investor malaikat. Ia justru mencari investor langit. Tak disangka di tahun pertama usahanya langsung melejit. Kemudian mereka sepakat lagi untuk meningkatkan persentase keuntungan kepada mitra kesepuluh sebesar 20% pada tahun berikutnya. Hingga akhirnya pada tahun berikutnya menembus hingga 50%.
| Tahun Bisnis | Persentase untuk Mitra ke-10 (Allah SWT) | Alokasi Riil di Tafahna Al Asyrof |
|---|---|---|
| Tahun 1 | 10% dari laba bersih | Akad notaris awal, perlindungan usaha dari wabah |
| Tahun 2 | 20% dari laba bersih | Modal awal pembangunan sekolah |
| Tahun 3 dst | 50% dari laba bersih | Sekolah SD-SMA putra-putri, Baitul Maal pertama |
| Puncak | 100% diserahkan | Ir Sholah menjadi karyawan, gaji dari Allah |
Dari 50 Persen Keuntungan Menjadi Sebuah Peradaban Kota
Lalu bagaimana cara mengalokasikan keuntungan 50 persen tersebut? Artikel lama mencatat dengan jelas: sekolah dibangun untuk anak laki-laki dan perempuan dari tingkat SD sampai SMA. Namun, karena keuntungan bisnis semakin maju, Baitul Maal pun dibuat di kota kecil itu. Baitul Maal ini menjadi fondasi ekonomi syariah yang mengelola zakat, infaq, dan modal usaha warga miskin.
Selanjutnya, Ir Sholah Athiyah dan kawan-kawan mengajukan izin mendirikan universitas di kota ini. Namun, ditolak dengan alasan tidak adanya sarana prasarana pendukung bagi para siswa. Akhirnya, mereka mengusulkan pembangunan universitas lengkap dengan jalur kereta api dan stasiun dengan biaya sendiri. Dan ini akhirnya disetujui pemerintah Mesir. Akhirnya, untuk pertama kalinya, universitas pertama di kota kecil ini didirikan. Selanjutnya didirikan universitas-universitas berikut ditambah asrama untuk mahasiswi yang berjumlah lebih dari seribu kamar.
Ketika Kemiskinan Hilang dan Sayuran Gratis Setiap Panen
Kemudian Baitul Maal kedua dibangun dan alhasil kemiskinan di kota ini hilang. Setiap panen, seluruh kota diberikan sayuran gratis. Dan juga diadakan pelatihan bagi pemuda pengangguran untuk menjadi petani tangguh dan bisa mendapatkan hasil yang diekspor ke negara tetangga. Ini adalah model wakaf produktif yang hingga per 23 September 2026 masih menjadi rujukan Universitas Al-Azhar dalam studi ekonomi Islam.
Pada puncaknya, Ir Sholah menyerahkan 100% keuntungan usahanya kepada Allah SWT sebagai partner ke-10. Dan dia berubah menjadi karyawan untuk pasangannya yang ke-10. Dan dia juga mau menerima gajinya dengan syarat dari Tuhannya, sehingga dia diberi keyakinan bahwa dia hanya membutuhkan dan meminta kepada-Nya saja. Di akhir hidupnya ia dibaringkan oleh setengah juta hingga jutaan orang Mesir yang bersaksi atas kebaikannya.
Relevansi 2026: Menghargai Orang Tua dan Mitra Langit dalam Bisnis
Kisah Ir Sholah dari Mesir ini tidak bisa dilepaskan dari artikel pembuka tentang menghargai orang tua sebagai sumber keberkahan hidup yang ada dalam arsip yang sama. Nilai yang ditekankan sama: keberkahan hidup tidak hanya datang dari harta atau kesuksesan, tetapi dari hubungan yang harmonis dan akad transenden. Orang tua adalah sumber keberkahan melalui doa dan dukungan, sedangkan Allah adalah penjamin dan penguasa segalanya dalam bisnis. Niatkan semua amal kebaikan sebagai amalan orang tua dan sebagai kemitraan dengan Allah.
Per 23 September 2026, model Tafahna Al Asyrof telah direplikasi di beberapa pesantren Indonesia yang mengembangkan agrobisnis wakaf. Pelajarannya jelas: kita kadang tidak mengikutsertakan Allah di bisnis kita, padahal Ia lah penjamin. Cara yang dilakukan oleh Ir Sholah bisa diterapkan: mulai dari 10 persen yang diakadkan secara tertulis di notaris, bukan sekadar niat lisan.
Siapkah Anda menulis akad bisnis Anda dengan mitra ke-10 hari ini? Pelajari model Baitul Maal Tafahna Al Asyrof dan mulailah mengalokasikan 10 persen pertama keuntungan Anda untuk pendidikan dan penghapusan kemiskinan di sekitar Anda seperti yang dilakukan Ir Sholah.
