Uncategorized

Srikaya

SRIKAYA, dapat dikatakan sebagai makanan yang sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Palembang. Penganan yang sama sekali tidak mengandung tepung –hanya terdiri atas gula, santan, dan telur—ini selalu menjadi pelengkap dalam tiap prosesi adat.

Hubungannya sangat erat dengan kebiasaan masyarakat Palembang menanam buah srikaya (Annona squamosa) di muka rumah pada masa lalu.Buah ini juga menjadi bagian dari ukiran khas Palembang. Coba saja perhatikan permukaan kulit buah srikaya. Lalu, bandingkan dengan tekstur permukaan srikaya. Ada kemiripan, kan?
Sekayo, demikian wong Plembang menyebutnya, selalu hadir di idangan sebagai pelengkap botekan. Keberadaan srikaya di “kambang”—sebutan untuk rangkaian hidangan yang disusun sedemikian rupa—pada prosesi adat Palembang, sama pentingnya dengan keberadaan tunjung (makanan atau buah penghias bagian tengah hidangan) dan tapak (sebutan untuk juadah atau penganan yang ditempatkan di hidangan dalam posisi utuh). Kelezatan srikaya juga dapat menjadi semacam prestise bagi ahli hajat. Soalnya, kelezatannya tergantung pada komposisi telur, gula, dan santan. Apabila tuan rumah maunya serba-irit, takkan didapat srikaya yang legit dan lezat itu. Terkait hal ini, bagi pengidap diabetes dan kolesterol tinggi, disarankan untuk tidak mengonsumsinya. Jika memungkinan –dengan mengurangi kenikmatan, tentu saja—kurangi takaran gula.
Sebagai teman makannya, wong Plembang biasa memakai ketan. Walau kemudian, seiring perjalanan waktu, roti tawar dapat menjadi pengganti ketan. Cara menempatkan ketan sebagai teman srikaya juga dapat bervariasi. Pada masa lalu, srikaya ditempatkan di semacam mangkuk kecil. Sementara ketan, dibentuk menyerupai wajik. Lalu dicocol ke srikaya. Kini, seiring dengan pola keseharian masyarakat yang menuntut kepraktisan, srikaya dan ketan “dicetak” bersama, sehingga jadilah srikaya lapis ketan atau ketan lapis srikaya.
Berikut, resep srikaya. Takaran bahan telah disesuaikan dengan kondisi masa kini. Soalnya, dahulu takaran untuk membuat penganan Palembang biasa menggunakan cangkir atau pinggan. Antara lain, satuan cc dipakai sebagai takaran.

Lihat Juga :  Bahan 4 Batu Nisan Kuno Ditemukan di Galian Proyek IPAL ini Dipesan Khusus di Zamannya

Bahan:
• 3 butir telur ayam
• 3 butir telur bebek
• 500 cc santan dari 1 butir kelapa
• 500 cc gula pasir
• 20 helai daun pandan
• 10 helai daun suji
• air secukupnya.

Cara Membuat:
1. Larutkan gula di dalam santan, yang telah diberi perasan air pandan dan suji.
2. Kocok telur hingga bagian putih dan kuningnya menyatu.
3. Satukan adonan 1 dan 2.
4. Tempatkan di dalam wadah, baik cetakan khusus maupun mangkuk kecil.
5. Kukus hingga matang.

Ketan
Bahan:
• 0,5 kg beras ketan
• santan dari 0,5 butir kelapa

Cara Membuat:
1. Masak ketan dengan santan hingga setengah matang (Palembang: diaroni).
2. Kukus hingga matang.

Lihat Juga :  Bahan 4 Batu Nisan Kuno Ditemukan di Galian Proyek IPAL ini Dipesan Khusus di Zamannya

Apabila ketan akan dilapis dengan srikaya;
1. Masukkan ketan ke dalam cetakan, lalu tekan-tekan hingga padat.
2. Tuangkan adonan srikaya ke dalam wadah yang sama.
3. Kukus hingga matang.

Catatan: Semua resep tidak menggunakan penyedap rasa. Mulailah menjauhkan MSG, bahan pengawet, pewarna kimia, dan pemanis buatan dari kehidupan keluarga kita.

Penulis: Yudhy Syarofie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *