EKONOMI

Sawit, Baikkah Untuk Lingkungan Hidup?

"Agar Indonesia tidak berfokus lagi menjadi raja sawit dunia," kata Tungkot Sipayung.

SIBERNAS.com, Palembang – Menampik Isu kampanye negatif terkait buruknya sawit (Elais guinensiss Jacq) bagi lingkungan hidup Indonesia, Palm of Agribussines Strategic Policy Institute (Papsi), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit indonesia (Gaski), dan Globalplanet.news bekerja sama dengan UIN Raden Fatah Palembang Seminar Anti Hoax, di Gedung Akademik Center UIN RF, Kamis (22/11/2018).

Kepala Papsi, Tungkot Sipayung, mengatakan bahwa Indonesia menjadi raja sawit dunia. Hal inilah yang menyebabkan kampanye negatif datang dari negara Eropa terhadap Indonesia, melalui lembaga swadaya masyarakat (LSM) bahwa sawit tidak baik bagi lingkungan Indonesia.

“Agar Indonesia tidak berfokus lagi menjadi raja sawit dunia,” katanya.
Menurutnya, banyak riset yang menyebutkan bahwa isu tersebut hoaks. Tidak benar jika sawit merupakan tanaman yang dapat merusak lingkungan. Justru sawit berpotensi menggantikan energi fosil yang akan habis.

Lihat Juga :  Penerapan Satu Harga Minyak Goreng Baru Terserap 11 Persen

“Oleh karena itu, saya hadir untuk berbagi pengetahuan mengenai sawit. Mengajak bersama-sama untuk memerangi hoaks,” katanya.

Menurutnya, sawit itu tidak ada kaitannya dengan pemanasan global. Pemanasan global itu karena emisi atau polusi karbon yang dihasilkan dari minyak fosil. Karena itu, masyarakat harus mengurangi bahan energi yang menyebabkan karbondioksida, dan beralih ke minyak nabati.

“Dan, sawit bagian solusi dari itu. Sumatera Selatan (Sumsel) salah satu sentra sawit nasional, termasuk provinsi yang memulai sawit. Sebanyak 1,6 juta hektare perkebunan sawit di Sumsel. Ini sangat penting dipertahankan,” katanya.

Terpisah, pengamat lingkungan Sumsel, Dr. Yenrizal Tarmizi, mengatakan bahwa masalah baik atau tidaknya sawit bagi lingkungan masih menjadi perdebatan. Ada riset yang mengatakan baik, tetapi ada yang sebaliknya.

Lihat Juga :  Kabar Gembira, Mulai Besok Harga Minyak Goreng di Pasar Tradisional Rp14 ribu/liter
Pengamat Linfkungan Yenrizal Tarmizi.

“Tapi, bukan itu masalahnya. Tanaman sawit yang termasuk monokultur, yaitu tanaman yang hanya bisa ditanami satu jenis saja. Dengan jumlah yang luasnya bisa beratus-ratus hektare, akan merusak ekosistem,” ujarnya.

Menurut Yenrizal, pembukaan lahan yang besar, menggunakan cara seperti dibakar itu tidak ramah lingkungan, menyebabkan polusi.

“Merusak ekosistem lainnya, hak hidup makhluk lain terganggu,” katanya.
Perkebunan sawit yang hanya dikelola masyarakat tentu tidak akan sampai beratus-ratus hektare, hanya 2 sampai 3 hektare.

“Mengenai perkebunan sawit, sebaiknya dibatasi. Jangan sampai diperluas lagi. Moratorium dulu, jangan beri izin pengembangan perkebunan sawit yang lebih luas lagi, sebelum jelas bagaimana baiknya untuk lingkungan hidup,” kata Yenrizal.

Reporter: Maya Citra Rosa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *