WISATA DAN BUDAYA

TungguTubang Penghimpun Keluarga Adat Semende

Betapa penting perempuan dalam pelestarian kekerabatan, dapat dilihat pada posisi anak perempuan pertama yang “diharuskan” menjaga harta waris dan menjadi penghimpun anggota keluarga lainnya.

TUNGGU tubang, sistem kekerabatan dan pewarisan yang menjadi jatidiri masyarakat Semende, Muaraenim, Sumatera Selatan. Tradisi yang masih terus berlaku hingga kini menempatkan perempuan sebagai sosok penting, baik di dalam keluarga maupun di tengah masyarakat.

Betapa penting perempuan dalam pelestarian kekerabatan, dapat dilihat pada posisi anak perempuan pertama yang “diharuskan” menjaga harta waris dan menjadi penghimpun anggota keluarga lainnya.

Suro sejak masa kecilnya sudah ditentukan sebagai tunggu tubang, warga Desa Pelakat, Semende Darat Ulu, ini mengatakan bahwa seorang tunggu tubang berkewajiban menjaga warisan seperti rumah, tanah, dan sawah. Namun, dia tidak berhak untuk menjualnya. Hanya mengelola demi kepentingan keluarga besarnya.

Tunggu tubang sudah jadi tradisi sejak nenek moyang kite. Kalaupun sudah menikah, suami tunggu tubang harus menetap dan mengikuti tradisi masyarakat Semende,” ujarnya.

Lihat Juga :  Bahan 4 Batu Nisan Kuno Ditemukan di Galian Proyek IPAL ini Dipesan Khusus di Zamannya
Hariyanto, penggiat sosial di Desa Pelakat, Semende Darat Ulu, Kabupaten Muaraenim. Foto: Maya Citra Rosa

Penggiat sosial di Desa Pelakat, Hariyanto, mengatakan bahwa makna tunggu tubang berasal dari kata /tunggu/ yang artinya yang berhak menunggu harta orangtua. Sedangkan /tubang/ berarti tempat kembali.

“Keluarga yang merantau, makaru mah tunggu tubang menjadi tempat kembalinya sanaksaudara di kampong halaman,” ujarnya.

Seperti Suro, Hariyanto –kelahiran Datar Lebar, 25 Oktober 1982—ini merupakan anak pertama dari lima bersaudara yang semuanya laki-laki. Maka, dia yang berhak menjadi tunggu tubang. Menurutnya, tunggu tubing adalah tradisi yang paling tidak bisa lepas dari masyarakat keturunan Semende.

“Seorang tunggu tubang harus merangkul semua adik-beradik, karena tradisi ini sudah teradat, sehingga menjadi tempat berkumpulnya seluruh keluarga,” kata Hariyanto.

Di Desa Pulau Panggung, peran penting tunggu tubang sudah dibuat tugu perlambangnya, persis di tengah desa. Adat ini dilambangkan dengan kapak, tombak, bumbung bambu, jala, dan guci penyimpan beras.

Lihat Juga :  29-30 Januari, Sekanak Lambidaro Dilaunching Dengan Festival Sungai

Kapak berarti seorang tunggu tubang harus mampu memecahkan masalah yang dihadapi keluarga dan kerabatnya. Tombak sebagai simbol kemampuan mencari dan menemukan kerabat di mana pun berada. Bumbung bambu selama ini merupakan tempat menyimpan bekasam –ikan yang diawetkan dengan nasi dan garam—sebagai bahan lauk-pauk. Makanan ini berbau asam. Artinya, seorang tunggu tubang harus mampu menyimpan dan menjaga rahasia keluarga. Jala adalah simbol kemampuan mengumpulkan dan menghimpun sanak saudara. Sedangkan guci penyimpan beras, berarti tunggu tubang berkemampuan menyediakan makan bagi seluruh anggota keluarga yang berkumpul. Karena itu pula, seorang pemegang adat ini diberi hak mengelola sawah.

Reporter : Maya Citra Rosa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *