BERITA UTAMANASIONAL

Ratna Sarumpaet, ‘Kegoncangan Politik’ Menuju Pilpers 2019

Bola panas politik menuju Pilpres 2019 pun menggelinding begitu cepatnya usai Ratna Sarumpaet mengakui bahwa dirinya berbohong.

BERITA UTAMA – Bola politik telah menggelinding, masih akan banyak kometar yang muncul terutama karena Ratna adalah tim pemenangan Prabowo Subianto. Tentu arah sejumlah tudingan yang macam- macam masih  bisa saja muncul ke depan.

SIBERNAS.Com Ratna Sarumpaet membikin heboh dunia politik di tanah air. Awalnya Ratna mengatakan dirinya digebuk oleh oknum tak dikenal. Begitu polisi menyebutkan bahwa dirinya bukan digebuk, tetapi baru saja operasi plastic di bagian muka,  Ratna pun mengakui  bahwa dirinya bukan digebukin. Ia bilang bahwa itu kebohongannya.

Sejumlah petinggi di negeri ini tak lebih dari kubu Prabowo Subiyanto, memprihatinkan sikap dari Ratna karena saat ketemu Prabowo, ia mengemukakan perlakuan jahat dari oknum yang menggebukinya, tapi kemudian kepada masyarakat Ratna mengakui bahwa dirinya berbohong atas kasus tersebut.

Tidak diketahui secara jelas apa motif dari Ratna mengakui bahwa dirinya berbohong. Namun, pihak – pihak tertentu telah mengambil langkah untuk menyebut bahwa Prabowo melindungi Ratna. Namun, dari pihak Prabowo sendiri mengatakan, bahwa sebenarnya Prabowo ingin melindungi Ratna. Jikapun Ratna berbohong, artinya Prabowo disuguhi cerita bohonga atau HOAX.

Akibat dari itu, Kepada sejumlah wartawan Prabowo Subianto mempersilakan pihak kepolisian jika hendak memproses hukum mantan anggota Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno, Ratna Sarumpaet terkait kabar bohong soal dugaan penganiayaan.

. “Kami persilakan aparat kepolisian, jika ada proses hukum, beliau harus bertanggungjawab,” ujar Prabowo saat menggelar konferensi pers di kediaman pribadinya, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Rabu (3/10/2018) malam.(Kompas.com)

BACA JUGA: Ratna Menghancurkan Hidupnya Dengan Kebohongan

Ulah Ratna Sarumpaet yang mengemukakan secara luas kepada masyarakat Indonesia memang bukan main luasan respon masyarakat. Tentu, pihak-pihak tertentu akan memainkan persoalan ini menjadi persoalan politik terutama Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Tak kurang dari Garda Nasional Untuk Rakyat (GNR) akan menggelar aksi damai menuntut agar pasangan capres-cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno didiskualifikasi akan digelar pagi ini. Namun begitu pihak Gerindra menilai aksi tersebut berlebihan.

Lihat Juga :  Setelah 2023, Pemerintah Pastikan Tidak Ada Lagi Tenaga Honorer

“Pertama soal tuntutan aksi demo di Bawaslu ya, menuntut menggugurkan pencapresan Pak Prabowo dan Bang Sandi saya rasa ini terlalu berlebihan, lebay,” ujar Anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra Andre Rosiade kepada detikcom, Kamis (4/10/2018).

BACA JUGA : PT. INKA Garap Proyek Ekspor Rp 2 Triliun

Bola politik telah menggelinding, masih akan banyak kometar yang muncul terutama karena Ratna adalah tim pemenangan Prabowo Subianto. Sekarang sudah dinon-aktifkan. Tentu arah sejumlah tudingan yang macam- macam masih  akan diarahkan kepada Prabowo.

Anggota Badan Komunikasi Partai Gerinda Andre mengemukakan, tak seharusnya aksi demo tersebut ditujukan kepada Prabowo-Sandi. Sebab, Prabowo-Sandi merupakan korban dari kebohongan Ratna Sarumpaet soal penganiayaan yang dialaminya.  “Pak Prabowo ini kan korban hoax ya, beliau yang menjadi korban penipuan ya,” katanya.

 

“Jadi ini nggak elok kalau Pak Prabowo, nggak etis kalau mau didemonstrasi karena kan beliau korban. Tapi terserahlah, kalau ada pihak-pihak yang ingin menggoreng-goreng kan wajar,” imbuh Andre seperti dilansir detik.com.

Memang aksi kalaupun itu  kebohongan Ratna, dalam kasus penganiayaan, ia sudah  mengajukan pengunduran diri dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Namun, ia mengaku tetap akan berjuang untuk Prabowo-Sandi di Pilpres 2019.

Surat pengunduruan diri yang ia tandatangani dan tertanggal 5 Oktober 2018 itu ia unggah di akun Twitternya, @RatnaSpaet, Kamis (4/10). (CNNIndonesia). Surat tersebut ditujukan kepada Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, Ketua BPN Prabowo Sandi Djoko Santoso, dan seluruh Tim Pemenangan Prabowo Sandi, Semua Pimpinan partai Koalisi Prabowo Sandi.

Kebohongan Ratna Sarumpaet atas rekayasa kasus penganiayaan berbuntut panjang ini pun menyebabkan sejumlah nama turut dipolisikan.  Sebelum Ratna membuat pengakuan dirinya berbohong dianiaya di Bandung pada 21 September 2018, polisi sudah menerima 3 laporan. Apabila benar hoax, pelaku penyebar harus diusut. Begitu kemudian kabar yang menggelinding.(Detik.com).

“Di mana laporan tersebut, mereka mencantumkan dan meminta polisi menyelidiki terkait berita bohong,” ucap Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta di Polda Metro Jaya, Rabu (3/10/2018)..

Lihat Juga :  2023 Dihapuskan, Nasib 4.000 Orang Honorer Palembang Dipertanyakan

Dari ketiga laporan yang diterima, Fadli Zon dan Dahnil Anzar terseret. Mereka dilaporkan atas dugaan penyebaran hoax terkait kabar penganiayaan Ratna..

Jadi yang dilaporkan yang menyebarkan. Laporannya ke Polda Metro Jaya. Terlapor FZ dan DS,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (3/10).

Pada sore harinya, Farhat Abbas dan kawan-kawan yang tergabung dalam Garda Nasional Untuk Rakyat (GNR), Biar Pak Jokowi Saja (BPJS), Saya Tetap Memilih Jokowi (STMJ) dan Komunitas Pengacara Indonesia Pro Jokowi (Kopi Pojok) melaporkan 17 nama soal hoax Ratna ke Bareskrim Polri. Nama Prabowo Subianto-Sandiaga Uno turut dilaporkan.

“Yang kami laporkan berkaitan dengan konspirasi dan permufakatan jahat, fitnah Ratna Sarumapet dirinya seolah-olah dizolimi,” ujar Direktur Eksekutif Kopi Pojok, Abdul Fakhridz Al Donggowi di Bareskrim Polri, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Rabu (3/10).

Pada Rabu (3/10) malam, laporan atas hoax Ratna kembali bertambah. Cyber Indonesia melaporkan 8 orang dalam kasus kabar bohong Ratna dianiaya. Mereka dilaporkan dalam dugaan ujaran kebencian.  Delapan orang yang dilaporkan adalah Ratna Sarumpaet, Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simajuntak, Rachel Maryam, Fadli Zon, Ferdinand Hutahaean, dan Habiburokhman.

“Bukti yang disampaikan, flashdisk isi video. Ada pidato Pak Pabowo saat Prescon (Press Conference), kemudian Ratna Sarumpaet, dan lainnya,” ujar Ketua Cyber Indonesia, Muannas Al Aidid, kepada wartawan usai melapor di Mapolda Metro Jaya, Rabu (3/10), sebagaimana dilansir detikcom.

Begitulah drama turgi yang kemudian muncul, pasca pengakuan Ratna Sarumpaet yang mengaku dipukuli oknum tak dikenal, lalu kemudian mengakui bahwa dirinya berbohong  atas  kejadian tersebut. Begitu cepat warna warni politik menggelinding untuk saling menyudutkan kubu-kubu yang sedang bertarunng dalam Pilpres 2019. Kecerdasan masyarakat tentu diutuntut dalam menentukan sikap dalam Pilpres 2019.

Editor: Bangun Lubis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *