NASIONAL

Pertamina Ungkapkan Alasan kenapa Harga BBM di RI Mahal

SIBERNAS.com, Jakarta — PT Pertamina (Persero) mengungkapkan alasan kenapa harga BBM di dalam negeri sulit ditekan. Menurut mereka, kondisi tersebut dipicu biaya produksi yang tinggi.

Biaya produksi mahal terjadi karena kilang perusahaan hanya bisa mengolah jenis minyak tertentu. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menuturkan kilang perusahaan hanya mampu mengolah 3 persen dari minyak mentah dunia.

“Jenis minyak mentah yang bisa diolah di kilang kami sangat terbatas, hanya sekitar 3 persen dari minyak mentah dunia. Ini yang menyebabkan harga tinggi. Supply dan demand kurang seimbang,” ungkap Nicke dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (5/10).

Ia mengatakan untuk mengatasi masalah itu, Pertamina kini sedang melakukan modifikasi kilang eksisting atau refinery development master plan (RDMP). Selain itu, perusahaan juga mengembangkan kilang baru atau Grass Root Refinery (GRR).

Lihat Juga :  Libur Maulid Nabi Digeser ke Rabu 20 Oktober 2021, Ternyata ini Alasannya

“Dengan moderinisasi kilang-kilang yg ada maka akan memperbaiki fleksibilitas minyak mentah yang diolah. Dengan begitu, harga minyak mentah bisa kami tekan dan akan berpengaruh pada produksi, dengan begitu harga BBM akan affordable,” papar Nicke dilansir dari cnnindonesia.com

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Kilang Pertamina International (KPI) Ignatius Tallulembang mengatakan rata-rata kilang di Indonesia sekarang ini memang sudah berumur tua. Bahkan, ada yang berusia hampir 100 tahun.

“Kami ada enam kilang yang beroperasi dengan kapasitas terpasang 1 juta barel per hari,” kata dia.

Salah satu kilang yang berusia cukup tua adalah Kilang Balongan. Kilang tersebut dibangun pada 1990 dan beroperasi pada 1994 silam.

Lihat Juga :  Libur Maulid Nabi Digeser ke Rabu 20 Oktober 2021, Ternyata ini Alasannya

“Sudah 26 tahun (Kilang Bontang). Tapi ada (kilang lain) yang sudah berusia 36 tahun, 50 tahun, dan ada yang hampir 100 tahun,” terang Ignatius.

Sebelumnya, Ignatius menyatakan perusahaan membutuhkan dana US$48 miliar atau sekitar Rp672 triliun (asumsi kurs Rp14 ribu per dolar AS) untuk proyek pengembangan kilang RDMP dan GGR hingga 2027 mendatang.

Proyek RDMP dan GRR tersebut tersebar di beberapa lokasi yakni Dumai, Plaju, Cilacap, Balongan, Balikpapan, Tuban, dan wilayah lainnya di Indonesia Timur.

Ignatius menambahkan bahwa investasi pembangunan kilang penting meski membutuhkan dana besar. Pasalnya, selama 30 tahun, Indonesia belum pernah membangun kilang untuk menambah kapasitas produksi BBM dari dalam negeri.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close