KALAM

Penjelasan Hukum Salat Berjamaah Menurut Para Ulama

Sibernas.com,-Salat berjamaah adalah kegiatan salat yang dilakukan secara bersama-sama. Untuk melakukan salat berjemaah, minimal diikuti oleh dua orang dengan salah satunya menjadi pemimpin atau imam dan yang lainnya adalah makmum.

Salat berjamaah merupakan syariat dari Allah SWT dan juga sesuatu yang sudah disepakati oleh umat muslim untuk dilakukan. Dalam pelaksanaannya, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum salat berjamaah.

Perbedaan pendapat tersebut dikarenakan sisi pandang terhadap dalil-dalil yang ada dikalangan para ulama berbeda. Berikut penjelasan mengenai hukum salat berjemaah.

1. Fardhu ‘ain

Fardhu ‘ain berarti wajib bagi setiap umat muslim laki-laki yang sudah baligh dan mampu untuk melaksanakannya. Jika meninggalkan salat berjamaah tanpa uzur, maka salatnya sah namun ia berdosa. Mari kita lihat berdasarkan dalil-dalil berikut.

Allah SWT berfirman dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 43, yang berbunyi
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.”

Menurut Ibnu rahimahullah menyatakan bahwa kebanyakan para ulama berdalil dengan ayat ini menjadi dasar wajibnya salat berjamaah. Kata “bersama” dalam ayat tersebut memiliki makna menemani atau menyertai. Jadi pada dasarnya ayat ini berarti:
“Dirikanlah salat bersama yang lain secara berjamaah.”

Dalil lain adalah dari sunah Rasulullah SAW. Dalam hadis dinyatakan adanya seorang laki-laki buta meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk tidak mengikuti salat berjamaah di masjid.

أَتَى النَّبِيَّ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُولَ اللهِ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ، فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ: هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَجِبْ

Lihat Juga :  Enam Waktu Mustajab Dikabulkannya Doa

Beliau bertanya, “Apakah kamu mendengar suara azan?” Ia pun menjawab, “Ya.” Lalu beliau berkata, “Kalau begitu penuhilah (panggilan azan itu).”
Demikian pula hadis dari Ibnu Abbas RA,
مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ
“Barang siapa mendengar azan kemudian ia tidak mendatanginya, tidak sah salatnya kecuali karena uzur.” (HR. Ibnu Majah).

Adapun perbuatan sahabat, seperti riwayat dari Ibnu Mas’udz beliau berkata, “Sungguh aku telah menyaksikan para sahabat, tidak ada seseorang yang tidak ikut salat berjamaah selain munafik yang jelas kemunafikannya.”

Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat memerhatikan salat berjamaah serta berpandangan bahwa ini merupakan kewajiban dan tidak ingin mengingkarinya. Ada beberapa ulama yang menguatkan pendapat ini, seperti Abu Tsaur, Ibnu Mundzir, mazhab Hanbali, serta salah satu penadpat dalam mazhab Syafi’I dan Hanafi.

2. Fardhu Kifayah

Tak banyak penjelasan mengenai hukum salat berjamaah adalah fardhu kifayah. Mayoritas ulama mazhab Syafi’I, Hanafi, dan maliki menguatkan pendapat ini. Mereka berdalil dari pernyataan para ulama mengenai fardhu ‘ain yang dipalingkan kepada makna fardhu kifayah.

3. Sunah

Salah satu pendapat dalam mazhab Syafi’I, Maliki, dan Hanafi dalam sebuah hadis diriwayatkan,
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Salat berjamaah lebih utama daripada salat sendirian dengan kelipatan 27 derajat.”

Lihat Juga :  Hukum Menyingkat Penulisan Singkatan SWT dan SAW, Ulama pun Berbeda Pendapat

Kalimat “lebih utama” bermakna hanya lebih utama dan bukan wajib. Namun, pendalilan mereka dalam hal ini sangat lemah. Pasalnya, hadis ini menjelaskan pahala orang yang salat berjamaah lebih utama dan lebih banyak, bukan menjelaskan hukum salat berjamaah.

Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadis mengenai salat berjamaah. Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya aku ingin menyuruh seseorang supaya menunaikan salat secara berjemaah bersama orang banyak. Kemudian aku pergi kepada beberapa orang yang tidak menunaikan salat berjamaah. Lalu baginda menyuruh supaya membakar rumah mereka dengan seikat kayu. Sekiranya salah seorang dari mereka mengetahui bahwa dia akan mendapat segumpal daging yang gemuk pasti dia akan menunaikan salat ini yaitu salat isya.”

Rasulullah SAW juga bersabda, “Barangsiapa yang mendengar adzan lalu tidak menjawab maka tidak sah salatnya kecuali jika ada udzur.” (HR. Ibnu Majah).

Menurut pendapat para ulama, salat berjamaah sebenarnya hukumnya wajib bagi laki-laki yang mampu namun bukan menjadi syarat sahnya salat. Tetapi bagi yang meninggalkannya, maka ia berdosa. Terkecuali orang yang mempunyai udzur syar’i atau ada dalil yang menunjukkan bahwa salat berjamaah bukan merupakan syarat sahnya salat.
Rasulullah SAW mengutamakan salat berjamaah atas salat sendirian. Pengutamaan salat berjamaah atas salat sendirian menunjukkan bahwa salat sendirian juga memiliki keutamaan dan itu terjadi jika sah hukumnya.

Editor: Ferly M

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close