PALEMBANG

Penataan 41 Rumah di Lebak Cindo Selesai Akhir Tahun

Sibernas.com, Palembang-Pemberantasan kawasan kumuh terus dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, di antaranya penataan 1500 rumah tidak layak. Salah satunya 41 rumah di restorasi Lebak Cindo, Kelurahan 24 Ilir, yang ditarget selesai Desember 2020.

Penataan kawasan ini merupakan bantuan pembangunan rumah untuk empat kawasan di Kota Palembang dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Yakni Gandus, Sematang Borang, penataan rumah dan bangunan di pinggir Sungai Sekanak Lebak Cindo dan kawasan rumah penduduk korban kebakaran di Karanganyar.

Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda mengatakan, penataan kawasan ini di antaranya pembangunan rumah, jalan dan infrastruktur lainnya. Total ada 1500 perbaikan rumah tidak layak dan juga ada di bibir sungai yang tersebar di Kota Palembang.

Lihat Juga :  Mulai 26 Oktober 2020 Satlantas Polrestabes Palembang Gelar Operasi Zebra Musi 2020, Ini Daftar Lokasinya

“41 rumah diantaranya di Kelurahan 24 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil. Segera akan dibangunkan jalan dengan lebar 5 meter dari bibir sungai,” kata Fitrianti Agustinda usai meninjau Lebak Cindo, Jumat (16/10/2020).

Penataan ini juga sejalan dengan program restorasi Lebak Cindo yang berada di bantaran Sungai Sekanak. Kawasan seluas 17 hektar tepatnya bersebelahan dengan Hotel Santika Jalan Radial ini, juga sejalan dengan retorasi Sekanak – Lambidaro.

Penanganan kawasan kumuh meliputi satinasi, perlimbahan, sampah, pemadam kebakaran, air bersih dan lainnya. Setiap rumah mendapatkan bantuan Rp17,5 juta untuk membeli bahan bangunan dan untuk membayar tukang bangunan.

“Semua rumah di pinggiran sungai, dibangun menghadap ke sungai dengan ditata dengan rapi dan dicat agar terlihat menarik,” katanya.

Lihat Juga :  Deru: Pembangunan Masjid Sriwijaya Harus Segera Dilanjutkan

Salah seorang pemilik rumah, Nyimas Marini mengatakan, sebelum penataan dilakukan, pemerintah telah memberikan arahan. Masyarakat yang terkait sudah menyetujui. Ia mengaku telah tinggal di bibir aliran Sungai Sekanak itu sejak tahun 1981. Awalnya, rumah yang ia tinggali hanya bejarak sekitar 1-2 meter saja dari sungai. Tetapi sekarang mundur sekitar 3 meter.

“Kita dapat bahan bangunan seperti batu, bata, semen yang diantar langsung, sedangkan kami cari tukang dan dibayarkan dari uang bantuan itu,” ungkapnya.

Reporter: Kamayel Ar-Razi
Editor: Zahid Blandino

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close