BUDAYA

Pandawa dan Kurawa, Cermin Sifat Manusia

Mari Bercemin pada Mahabharata (1)

HITAM dan putih. Demikian kesan umum yang didapat dari kisah Mahabharata.  Hitam adalah sifat buruk yang diwakili Kurawa putra Destrarata (yang jumlahnya mencapai 100 orang). Putih, diwakili lima bersaudara putra Pandu (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa). Itu kesan umum. Jika didalami, sesungguhnya tidaklah se-“hitam-putih” itu. Namun, ada baiknya kita bercermin pada nilai “hitam-putih” ini terlebih dahulu.

Pada dasarnya, semua tokoh dalam kisah Mahabharata ini adalah ejawantah dari sifat baik dan sifat buruk manusia. Pada konteks ini, saya sangat mengagumi sang maestro, sang penggubah kitab itu. Salut, pada masa sekian puluh abad lalu, sudah ada manusia yang mampu menganalogikan sifat baik dan buruk dalam bentuk manusia. Kalau ini berupa ajaran, sungguh luar biasa. Soalnya, teknik mengajar dengan bercerita, baru-baru ini saja diterapkan secara sistematis dan terencana dalam ranah pendidikan kita. Walau, sesungguhnya, nenek moyang kita –dengan kearifan tradisional sesuai kondisi setempat—telah melakukannya lewat dongeng, denggung, pantun, pepatah, dan bahasa-bahasa ungkap berbentuk simbol lainnya—dalam sejarah bangsa ini.

Sesungguhnya –ini yang membuat saya sangat tertarik—ada persamaan yang dekat antara Mahabharata dan ajaran Islam. Bahkan, saat penyebaran Islam di Jawa, Sunan Kalijaga memakai pendekatan ajaran Islam dengan Mahabharata ketika berdakwah. Kala itu, penduduk Jawa mayoritas Hindu. Karenanya, ada simbolisasi yang terasa sangat mengena ketika Sunan Kalijaga menyimbolkan Rukun Islam dengan Pandawa.

  • Yudhistira yang jujur, adil, bijaksana, dan hanya bicara dengan kata-kata yang benar disimbolkan sebagai “mengucap dua kalimah syahadat”;
  • Bima yang bertubuh besar, tegap, kuat, jujur, dan selalu membela kebenaran, diibaratkan sebagai “melaksanakan salat lima waktu”. Hal ini selaras dengan kekukuhan Bima sebagai “tiang” karena “salat adalah tiang agama”. Bahkan, sikap Bima yang menolak melakukan sembah terhadap sesama manusia –dalam Wayang Purwa, satu-satunya tokoh yang tidak menggunakan bahasa kromo inggil tetapi ngoko terhadap orang yang lebih tua dan berkedudukan lebih mulia, hanyalah Bima—memerkuat ‘alasan” bahwa hanya Allah yang layak disembah;
  • Arjuna yang tampan, selalu bersikap sopan santun, halus tutur bahasa, dan rajin melaksanakan tapa brata; disimbolkan sebagai “berpuasa pada bulan Ramadhan”;
  • Nakula yang baik budi, welas asih, dan dermawan disimbolkan sebagai zakat fitrah; dan
  • Perjalanan panjang Pandawa, dengan ketabahan yang kuat Sadewa, saat menjalani “hukuman” setelah kekalahan Prabu Semiaji (Yudhistira) saat bermain dadu dengan Suyudana, disimbolkan sebagai “menunaikan ibadah haji apabila mampu”.

Untuk memerkuat ajaran Islam pada cerita wayang, Sunan Kaijaga juga membuat simbol pada konsep yang sangat mendasar dalam Islam, yaitu tauhid. Yaitu, dua kalimah syahadat. Ini digambarkan lewat perjuangan yang ulet Gatot Kaca dalam merebut pusaka Pringgandani, yaitu Serat Kalimushada. Kalimushada adalah perwakilan dua kalimah syahadat hasil gubahan Sunan Kalijaga.

Baik dan Buruk, Benar dan Salah

SAAT cerita dibuka, penggambaran sifat baik dan buruk manusia telah ditunjukkan dalam Mahabharata. Sifat baik ini diwakili oleh Bisma. Putra Mahkota Negeri Astina ini digambarkan sebagai putra yang sangat berbakti kepada orangtuanya (kelak, dia rela berkorban untuk negara dan bangsanya). Bisma adalah putra tunggal Raja Santanu yang memerintah Astina. Santanu adalah putra Maharaja Pratida dan cucu Raja Rasti, pendiri Astina.

Syahdan, Santanu yang duda, pergi berburu dan bertemu dengan seorang perempuan yang memikat hatinya. Perempuan itu adalah Setyawati, putri raja dari Wirata. Dia diasingkan karena mengidap penyakit, lalu dipungut seseorang bernama Dasa. Setyawati bersumpah akan menikahi orang yang dapat menyembuhkan penyakitnya, dan Begawan Parasaralah orangnya. Dari pernikahan dengan begawan ini, dia mendapat seorang anak bernama Abiasa, yang buruk rupa.

Putranya itu dibawa Parasara ke pertapaan, ketika mereka bercerai. Hanya saja, Santanu tidak serta-merta dapat menikahi Setyawati karena perempuan itu telah bersumpah hanya akan menikah dengan raja dan keturunannya harus pula menjadi raja. Bisma menjadi “pengalang” pernikahan itu. Demi kebahagiaan sang ayah –yang sakit keras karena ditolak cintanya—Bisma pun berumpah tidak akan menjadi raja dan tidak akan menikah seumur hidupnya. Justru sumpah inilah yang menjadi cikal bakal rusuh keturunan Bharata.

Santanu-Setyawati pun mendapatkan anak kembar, Citragada dan Citrasena. Setelah Santanu mangkat, Citragada menjadi raja, didampingi Bisma. Namun, dia tak berumur panjang. Mangkat pada usia muda. Adiknya, Citrasena yang menggantikan kedudukan, tampaknya bakal mengalami nasib sama. Agar raja memiliki ahliwaris, Bisma mencarikan istri untuk adiknya itu. Peristiwa ini pun akan berdampak pada kehidupan Bisma selanjutnya. Dia melarikan dua putri Kasi, raja dari Negeri Kasi, yaitu Ambika dan Ambahini. Saat itu, sang raja mengadakan sayembara untuk mencarikan suami bagi kedua putrinya ini.

Namun, Bisma juga membawa putri sulung raja, Amba, yang telah bertunangan dengan Raja Salwa. Akibatnya, Amba yang kemudian dikembalikan ke negerinya, ditolak oleh Salwa. Dia dendam dan melakukan tapa brata agar diubah menjadi lelaki. Tujuannya cuma satu, balas dendam terhadap Bisma. Dewata pun mengabulkan keinginannya, tetapi tidak untuk saat itu. Amba meninggal dan kelak akan bereinkarnasi menjadi Srikandi.

Citrasena tak berumur panjang. Dia mangkat sebelum memiliki keturunan. Sebetulnya, Setyawati yang sangat mencintai Bisma layaknya anak sendiri, telah menyerahkan Astina kepada putra tirinya itu. Namun, sebagai ksatria, Bisma menolak karena terikat sumpah. Dia pun menyarankan agar mengambil keturunan dari Abiasa, karena lelaki ini adalah putra Setyawati.

Karena Abiasa buruk rupa, Ambika memejamkan mata saat bertemu Abiasa. Sedangkan Ambahani, terbelalak pucat.

Baik dalam Mahabharata maupun Wayang Purwa, memang tidak digambarkan terjadi hubungan seks. Yang ada, Abiasa menemui kedua perempuan itu. Akibat reaksi Ambika, putranya –diberi nama Destarata—terlahir buta. Sedangkan Ambahini melahirkan Pandu Dewanata yang berwajah pucat dan kepala teleng ke kanan.

Setyawati yang tidak puas, kembali meminta Abiasa memberikan cucu baginya. Namun, Ambika dan Ambahini yang takut melihat lelaki itu, membayar seorang dayang dari kasta sudra yang cantik parasnya. Dari perempuan ini, lahir Yama Widura. Lagi-lagi, ada cacatnya, yaitu pincang.

Kondisi Destarata yang buta ini kemudian menjadi masalah baru. Ketika tiga bersaudara berbeda ibu itu dewasa, Pandu yang lebih cakap berhasil memenangi sayembara Raja Kunti Boja dari Negeri Mandura. Sesungguhnya, mereka terlambat tiba di negeri itu karena harus menuntun Destarata. Namun, pemenang sayembara, Narasoma, adalah orang yang congkak. Ksatria itu menantang Pandu dengan syarat tertentu. Alhasil, Pandu memenangi tantangan.

Di tengah perjalanan pulang, Pandu, Destarata, dan Yama Widura, dihadang Narasoma yang mengajak adu kesaktian. Karena kalah, Narasoma kemudian menyerahkan Madrim, adiknya yang juga sahabat Kunti. Sebelum tiba di Hastina, mereka lagi-lagi dihadang Sengkuni, yang ingin merebut Kunti dan Madrim. Lelaki ini pun dikalahkan, sehingga menyerahkan kakak perempuannya, Anggandari.

Episode inilah yang memberi pengaruh besar terhadap jalan cerita Mahabharata hingga terjadi Bharatayudha. Sengkuni menyimpan maksud lain dengan menjodohkan kakak perempuannya itu. Dia ingin Anggandari menjadi permaisuri –tentu saja harus menjadi istri raja—agar keturunan mereka kelak menjadi raja. Siasatnya, Anggandari dilumuri lendir ikan tampra (sampai sekarang, tak diketahui jenis ikan apa itu di Indonesia) agar Destarata yang buta –jelas tidak kalah syarat dengan Pandu—tidak memilih kakak perempuannya itu. Soalnya, Pandu yang berbudi sangat mulia, memberikan kesempatan kepada Destarata untuk lebih dahulu memilih satu dari tiga perempuan yang di-“dapat”-nya. Kebetulan, saat itu Naga Kowara yang sedang bertarung dengan Naga Erawata untuk memerebutkan Mustika Sasraludira, dikejutkan oleh semacam serangan dari Begawan Druwasa. Nah, Naga Kowara ini sempat merasuki Destarata, sehingga penciuman lelaki itu justru memilih Anggandari. Karena itu pula, Anggandari menutup matanya kala siang hingga menjelang senja karena sumpahnya untuk tidak akan melihat matahari seumur hidup.

Sedikit lagi latar belakang yang perlu diulas untuk memahami bagaiman pertikaian antara baik dan buruk, benar dan salah pada kisah ini. Pandu, yang memang gemar berburu, suatu ketika melakukan kesalahan. Dia memanah seekor kijang jantan –merupakan jelmaan Begawan Suhatra—yang sedang birahi dengan pasangannya. Pandu dikutuk, akan menemui ajal apabila melakukan hubungan suami istri. Karenanya, Pandu bersama Kunti dan Madrim menyepi. tampuk kekuasaan Astina diberikan kepada Destarata.

Penulis: Yudhy Syarofie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close