KULINER

Nikmatnya, Sensasi Makan Pindang Khas Palembang di Warung Terapung Sungai Musi

Sibernas.com, Palembang-Menikmati pindang Palembang di restoran dan rumah makan nampaknya sudah sangat biasa. Para pencinta kuliner dan wisatawan bisa merasakan sensasi berbeda dengan makan langsung di warung terapung Sungai Musi.

Warung terapung ini layaknya sebuah kapal yang bisa terombang-ambing saat datangnya gelombang dari kapal yang lewat. Para pengunjung bisa menikmati sensasi makan seperti di atas ayunan. Uniknya, rumah makan terapung yang berada tepat di belakang Pasar 16 Ilir ini, hanya menyajikan makanan khas daerah.

Selain itu, saat menyantap makanan, pengunjung juga bisa melihat indahnya Jembatan Ampera dan kapal-kapal yang melintas di bawah ikon Kota Palembang. Tidak heran mengingat kapal merupakan transportasi andalan masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Musi.

Wardillah, salah satu pemilik rumah makan terapung di pinggiran Sungai Musi mengatakan, pengunjung warung terapungnya didominasi para pelanggan Pasar 16 Ilir juga sopir tongkang. Meski ada juga yang sengaja datang untuk menikmati masakan khas Sumatera Selatan ini.

Lihat Juga :  Sampah Rumah Tangga Dominasi Sendimentasi Sungai Musi

“Untuk menu makanan yang dijual seperti pindang baung, pindang gabus, pindang ikan tapa, pindang patin, pindang tulang, ikan bakar dan ayam bakar,” kata Wardillah.

Untuk harga pun beragam. Untuk pindang ikan patin termasuk nasi harganya Rp20 ribu dan ini menjadi favorit para penikmat pindang yang datang ke rumah makannya.

Selain itu, ada pindang ikan baung seharga Rp35 ribu sampai Rp40 ribu. Ia juga menyediakan menu lainnya seperti ayam bakar, ayam goreng, ikan goreng dan lainnya dengan harga terjangkau. Warung ini buka mulai dari pukul 06.30 WIB-15.00 WIB.

Pindang yang dijual di Warung Mbok War ini, merupakan pindang pegagan khas Indralaya. Dengan bumbu khas seperti cabai, bawang merah, nanas, serai, asem, terasi, gula dan garam secukupnya.

Lihat Juga :  Sampah Rumah Tangga Dominasi Sendimentasi Sungai Musi

“Bedanya dengan pindang Palembang lain ada dibumbunya, pindang dusun (daerah-red) lain dikasih bumbu dapur,” kata pemilik warung yang telah buka sejak 1993.

Salah seorang pengunjung Lisa mengatakan, ia telah beberapa kali makan di atas warung terapung dan tentunya menu pindang yang dipilihnya. Lisa datang dari Kabupaten Banyuasin untuk belanja barang yang akan dijualnya lagi. Setidaknya sebelum Covid-19 lalu, Lisa selalu datang satu bulan sekali.

“Di masa Covid ini baru kali ini lagi ke Palembang. Di sini ada beberapa warung makan terapung dengan khas bumbu pindang berbeda. Ada yang lebih kental dan banyak rempahnya, ada yang sedikit. Saya suka semua pindang khas Sumsel,” katanya.

Reporter: Kamayel Ar-Razi
Editor: Zahid Blandino

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close