WISATA DAN BUDAYA

Merindukan Yudhistira-Bisma

Mari Bercemin pada Mahabharata (2 - Habis)

TAK putus harapan, Kunti dan Madrm memohon kepada Dewata agar diberi keturunan. Kunti kemudian melahirkan Yudhistira dari Batara Dharma, Bima dari Batara Bayu, dan Arjuna dari Batara Indra. Sementara Madrim, mendapatkan Nakula dan Sadewa dari Batara Aswin. Sebelum menikah dengan Pandu, Kunti telah memiliki putra bernama Aradea –ini dirahasiakan—dari Betara Surya.

Setelah Pandu meninggalkan Hastina, Sengkuni makin menjadi. Kakaknya pun dipengaruhi sedemikian rupa agar tak melepaskan tahta. Sehingga, Anggandari pun memohon agar mendapatkan anak yang banyak untuk memertahankan kekuasaan. Suatu malam, dia melahirkan tetapi hanya berbentuk segumpal daging yang besar. Marah, perempuan ini menendang daging itu hingga terpecah menjadi 99 bagian. Satu bagian lagi, tetap dalam ukuran besar.

Sebuah suara dari angkasa menyuruhnya untuk menutupi serpihan-serpihan daging itu dengan daun talas. Fajarnya, semua daging menjelma jadi bayi. Sesuai bentuk fisik dan ukurannya, bayi-bayi itu kemudian diberi nama Suyudana. Adiknya yang setengah raksasa diberi nama Dursasana. Lalu, ada Citrayuda, Citraksa, Citraksi, Citrakala, Carucitra, Jayawikata, dan Jayabama (ini antara lain). Sementara satu-satunya perempuan, diberi nama Dursilawati.

Semua bayi, kecuali Suyudana, tidak bertali pusar. Nah, tali pusar Suyudana ini dihanyutkan ke sungai. Tali pusar itu kemudian menjelma jadi bayi, ditemukan dan diasuh Begawan Sempani. Setelah dewasa, anak yang diberi nama Jayadrata ini menjadi Temenggung Hastina.

Sementara itu, Pandu yang tidak mampu menahan hasrat birahi, melakukan hubungan suami istri dengan istrinya. Kutuk berlaku, Pandu mangkat. Sesuai ajaran Hindu, istri yang suaminya meninggal, harus ikut dalam upacara Labuh Geni. Namun, Madrim meminta agar Kunti tidak ikut agar dapat mengasuh dan membesarkan kelima anak mereka.

Sengkuni dan Pandita Durna

SEBAGIAN besar kalangan masih menilai Durna merupakan pangkal segala kejahatan. Sesungguhnya, tokoh ini tidaklah sejahat itu. Memang dia terkesan licik, tetapi itu merupakan akalnya untuk tetap berada di dalam lingkar kekuasaan yang dapat memberikan kemewahan.

Ini juga ada latar belakangnya. Putra Pandita Baradwaja ini, semasa kecil memiliki saudara angkat bernama Sucitra, putra Raja Pancala. Setelah dewasa, Suditra menggantikan ayahnya dan menjadi Raja Drupada di Pancala. Durna yang miskin dan papa, kemudian menemui saudara angkatnya itu tetapi tak diterima. Dendam berkarat. Dia pun datang ke Hastina untuk menumpang hidup dengan menjadi guru Pandawa dan Kurawa.

Dendam dan kebencian membuatnya berkeinginan menghancurkan Raja Drupada. Hal ini pun disanggupi Arjuna, murid kesayangannya. Pancala ditaklukkan, tetapi keinginan Durna membunuh Drupada dialangi Pandawa. Apabila kemudian Durna lebih memilih Kurawa, ada dua alasan. Pertama, dia tidak ingin hidup sederhana, apalagi terlunta. Kedua, dia marah kepada Pandawa karena kelima saudara itu justru bersahabat dengan Raja Drupada. Bahkan, putri Drupada, yaitu Drupadi, dipersunting Yudhistira.

Gambaran sifat Durna memang sangat tampak pada Wayang Purwa. Bahkan, berbeda dengan Mahabharata, Durna digambarkan dalam Wayang Purwa sebagai lelaki tua yang bertubuh bungkuk, berhidung bungkuk, bertangan pengkor, dan mata picek (buta sebelah).

Sifat yang sangat licik dan pengadu domba dipegang oleh Sengkuni. Dialah yang mengatur siasat untuk menyingkirkan Yudhistira dari kursi Adipati Hastina. Atas siasatnya, Pandawa dan Kunti dikirim Destarata untuk menghadiri pesta raja di Waranawata. Dia telah menyiapkan orang untuk membunuh keenam orang itu. Namun, Yama Widura yang memiliki firasat tak baik atas kejadian ini, berpesan kepada Pandawa untuk “menggunakan ilmu landak, masuk ke liang, apabila terjadi apa-apa”.

Diam-diam, dia mengirim orang untuk menggali tanah di kamar yang diperuntukkan bagi Yudhistira di sebuah rumah yang berada di Waranawata. Benar, ketika utusan Sengkuni membakar rumah itu, Kunti dan kelima anaknya selamat. Mereka kemudian sempat menetap di Pancala sampai akhirnya diketahui oleh Hastina.

Sengkuni juga mengatur siasat agar posisi adipati yang dipegang sementara oleh Suyudana tidak lepas lagi. Dia mengatur pemberian wilayah kekuasaan bagi Pandawa di rimba Kandawa. Akhirnya, rimba ini menjelma jadi Negeri Indraprasta yang makmur, hingga Yudhistira diangkat sebagai Raja Samrat (Raja Diraja atau Maharaja). Lagi-lagi, Sengkuni mengatur agar Pandawa terusir. Permainan dadu yang curang merupakan siasat Sengkuni. Akibatnya, Yudhistira yang jujur –bahkan saat main judi—pun dikalahkan dalam permainan itu. Kembali Pandawa terusir.

Mahabharata dan Kekuasaan

SECARA umum, Mahabharata merupakan simbolisasi dan analogi sifat manusia. Lima kebaikan lawan 100 kejahatan. Di dunia ini, sifat baik tidaklah sebanding dengan sifat jahat. Ini merupakan tantangan bagi kita untuk selamat. Di sekeliling kita, dapatlah kita rasakan bagaimana godaan untuk berbuat “miring” justru lebih besar daripada ajakan untuk berbuat “lurus”.

Bahkan, sifat jahat yang pada masa dulu selalu digambarkan sebagai bentuk hitam-putih, kini tak lagi menunjukkan watak asli. Contoh, gratifikasi berupa pemberian hadiah –kini melibatkan banyak anggota dewan dan kepala daerah kita—itu adalah wujud lain dari korupsi. Birokrasi panjang dan berbelit, sehingga melahirkan beragam tindak negatif –serupa suap, komisi, persen, atau apa pun namanya—juga melahirkan korupsi. Sikap kita yang enggan menempuh prosedur tilang dengan menawarkan “damai” kepada polisi, juga merupakan bentuk suap dan korupsi. Apabila kita pernah melakukan itu, adakah tebersit rasa berdosa? Atau, saat kita clubbing hingga meninggalkan ibadah wajib –salat bagi Muslim—demi kesenangan, adakah tebersit rasa berdosa?Secara implisit, Mahabharata memberikan gambaran mengenai “dosa-dosa” ini. Tentu saja, sesuai dengan situasi dan kondisi kitab itu ditulis.

Apabila memelajari sejarah kekuasaan di negara kita –setelah berbentuk RI—akan tampaklah di mana posisi Bisma, Durna, Sengkuni, Kurawa, Pandawa, Aradea (Karna), dan peran lainnya. Dapat dikatakan, rusaknya kepemimpinan bangsa ini akibat perbuatan orang-orang yang berada di dalam lingkar kekuasaan. Siapa yang merusak Bung Karno? Siapa yang merusak Pak Harto? B.J. Habibie? Gus Dur? Megawati?

Namun, adakah kesadaran kita untuk mengubahnya? Adakah keinginan semua orang untuk mengarahkannya ke “jalur” yang lebih baik? Tentu saja hanya waktu yang akan menjawab serangkaian pertanyaan ini.

Sesungguhnya, apabila kita punya harapan agar pemimpin kita memiliki sifat dan karakter Pandawa, pemimpin kita saat ini –maaf, saya bukan pendukung fanatik—sedikit banyak telah mewakili sifat itu. Cuma satu yang belum ditampakkannya, yaitu sifat playboy Arjuna. Hahahaha… intermezo saja.

Dalam situasi dan kondisi negara kita sekarang, masih satu yang kurang. Yaitu, sosok Bisma. Di manakah sosok Bisma sekarang? Pada episode Yudhistira menjadi Adipati Hastina, Bisma sebagai penasihat. Demikian pula saat Yudhistira menjadi Raja Samrat.

Apabila sosok ulama tak didapat –bisa saja sosok ini merupakan jelmaan DPR RI, DPD, atau lembaga tinggi negara lainnya, bukan perorangan—pada pemerintahan kini, tentu kita akan butuh waktu yang lebih lama lagi. Dan, kita pun berharap, pemimpin kita (soalnya pemilihan presiden belum berlangsung) adalah sosok intelektual yang religius. Merupakan sosok yang tidak pernah henti belajar dari beragam aspek, termasuk nilai filosofis yang dikandung Mahabharata.
Sesungguhnya pula, “adopsi” terhadap filosofi dalam kisah pewayangan (bersumber dari Mahabharata) dapat menghasilkan sesuatu yang dahsyat.

Tak lepas kekaguman kita terhadap keberhasilan yang diraih Sunan Kalijaga dalam syiar Islamnya. Tentu kata-kata “Ibu Pertiwi telah hamil tua” tetap kita ingat sebagai bagian dari peristiwa 30 September 1965. Kita juga masih ingat bagaimana Pak Harto dengan sangat berhasil mengidentikkan diri sebagai Semar, Dewa Ismaya yang bijak itu. Tokoh ini hanya ada di Wayang Purwa, tidak ada di Mahabharata. Ini juga merupakan ciptaan Sunan Kalijaga. Untuk menyampaikan syiar Islam yang “sersan” (serius tapi santai), Sunan Kalijaga menghadirkan sosok Punakawan, Semar bersama anak-anaknya; Petruk, Gareng, dan Bagong. Bahkan, menjelang akhir kekuasaannya, tahun 1996, Pak Harto sempat “mencipta” lakon baru dalam pewayangan. Lakon yang didalangi Ki Timbul itu berjudul Semar Mbeber Jatidiri pada acara Ruwat Nasional di Monas.

Wah, kalau diteruskan, panjang betul tulisan ini. Namun, intinya, kita memang harus lebih banyak belajar. Saya rasa, konsep dan filosofi kekuasaan berdasarkan perpektif Timur ini tidaklah kalah apabila dibandingkan dengan Plato, Socrates, Tales, Jean Jacquese Rosseu, Voltaire, Karl Marx, Lenin, atau Stalin.

Penulis: Yudhy Syarofie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *