KALAM

Menuntut Ilmu Agama, Meluruskan Jalan Ibadah

Oleh: Emil Rosmali [ Pemimpin Umum Sibernas.com ]

SIBERNAS.com –  Tulisan mengenai ilmu, sudah banyak kita baca dari orang-orang ilmuwan. Tetapi, tak salah bila kita membaca yang terkait dengan ilmu agar selalu ingat, betapa ruginya bila tidak berilmu dan betapa untungnya bila terus menuntut ilmu.

Bahkan dalam Islam disebutkan menuntut ilmu adalah wajib. “Menuntut ilmu itu fardhu (wajib) bagi Muslimin dan Muslimat”. ( H.R. Bukhari dan Muslim). Apalagi kehidupan sekarang ini, ragam informasi begitu banyaknya. Maka bila tidak punya ilmu, kita akan tersesat dalam mengartikannya, bahkan bisa bisa lebih jauh menyimpang dari arti yang sebenar-benarnya.

 Ilmu adalah kunci segala kebaikan. Ilmu merupakan sarana untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan pada kita. Tak sempurna keimanan dan tak sempurna pula amal kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu Allah disembah, dengannya hak Allah ditunaikan, dan dengan ilmu pula agama-Nya disebarkan, dengan ilmu seluruh yang diajarkan Rasulullah ditunaikan.  Imam Ahmad mengatakan, “Manusia lebih memerlukan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu diperlukan di setiap waktu.”

Jika kita ingin menyandang kehormatan luhur, kemuliaan yang tak terkikis oleh perjalanan malam dan siang, tak lekang oleh pergantian masa dan tahun, kewibawaan tanpa kekuasaan, kekayaan tanpa harta, kedigdayaan tanpa senjata, kebangsawanan tanpa keluarga besar, para pendukung tanpa upah, pasukan tanpa gaji, maka kita mesti berilmu.Ini secuil filosofi ilmu yang banyak kita peroleh dari para ulama terdahulu.

*Ilmu Islam*

Namun, yang dimaksud dengan kata ilmu di sini adalah ilmu syar’i. Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan”

Baca Juga  Wanita Butuh Memahami Ilmu Fiqih khusus

Meskipun demikian, bukan berarti kita mengingkari manfaat belajar ilmu duniawi. Karena hukum mempelajari ilmu duniawi itu tergantung pada tujuannya. Apabila digunakan dalam kebaikan, maka baik. Dan apabila digunakan dalam keburukan, maka buruk.

Menjalani hidup dalam pandangan Islam adalah pertanggungjawaban. Dan, bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan jika kita tidak memiliki ilmu atas apa yang menjadi pilihan hidup kita sehari-hari. Itulah mengapa Islam mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut (mencintai) ilmu. Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya Al-‘Ilmu wal ‘Ulama menguitip pernyataan seorang ahli hikmah menganai pentingnya ilmu ini. “Ilmu seseorang adalah anaknya yang kekal.”

Hal ini menunjukkan bahwa ilmu yang dimiliki seseorang akan diingat manusia, kemudian mereka mengamalkannya dan ia akan mendapatkan pahalanya selama ada orang yang mengamalkan ilmunya. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, “Barangsiapa menunjukkan pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.”

*Lebih Utama Dari Harta*

Lebih lanjut Abu Bakar Jabir Al-Jazairi mengutip riwayat yang disampaikan oleh Sayyidina Ali tentang keutamaan ilmu. “Ilmu lebih utama daripada harta karena tujuh adanya alas an yaitu; Ilmu adalah warisan para nabi, sedangkan harta adalah warisan Fir’aun. Ilmu tidak akan berkurang dengan diberikan kepada orang lain, sedangkan harta akan berkurang jika dinafkahkan.  Harta perlu dijjaga, sedangkan ilmu dapat menjaga pemiliknya. Jika seseorang meninggal dunia, ia akan meninggalkan hartanya, sedangkan ilmu akan dibawa ke dalam kubur. Harta dapat dicapai oleh orang mukmin dan kafir, sedangkan ilmu hanya dapat dicapai oleh orang mukmin. Semua orang membutuhkan seorang yang berilmu yang mengetahui urusan agama dan mereka tidak memutuhkan pemilik harta. Ilmu akan menguatkan seseorang dalam menyeberangi shirath (jalan menuju surga), sedangkan harta akan menghalanginya.

Baca Juga  Masalah Selalu Ada, Pasti Ada Jalan Keluar

Pantas jika kemudian Mush’ab bin Zubair radhiyallahu ‘anhu berwasiat kepada anaknya seperti ini, “Wahai anakku, tuntutlah ilmu, karena ilmu akan menjadi keindahan jika kamu memiliki harta, dan ilmu itu akan menjadi harta jika kamu tidak memiliki harta.”

 Selain tujuh keutamaan di atas, ilmu juga akan menjadi penentu kualitas (kelurusan) agama seorang Muslim. Dengan kata lain, bagus tidak agamanya ditentukan oleh lurus tidaknya ilmu yang dimiliki.  Diriwayatkan dari Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada seorang yang berusaha mencari sesuatu seperti keutamaan ilmu yang dapat memberikan petunjuk kepada pemiliknya atau mengangkatnya dari kehinaan, dan tidaklah seseorang akan lurus agamanya hingga lurus ilmunya.” (HR. Thabrani).

  Dalam surah al-Zumar ayat 9 juga dijelaskan yang artinya: “Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya (hanya) orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.

Lalu,    “Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya” (HR. Muslim).  Allah Tidak Memerintahkan Nabi-Nya Meminta Tambahan Apa Pun Selain Ilmu

Allah berfirman:  “Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu“. (QS. Thaaha [20] : 114). Ini dalil tegas diwajibkannya menuntut ilmu. Orang Yang Dipahamkan Agama Adalah Orang Yang Dikehendaki Kebaikan  Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘’Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan (memberi ilmu) dia tentang agama.” (HR. Bukhari – Muslim)

 

 

 

 

Bangun Lubis

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close