PALEMBANG

Media Massa Harus Jaga Independensi Jelang Pilpres 2019

SIBERNAS.com, Palembang –  Menyikapi dinamika media dalam menjelang tahun 2019 mendatang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang menyelenggarakan diskusi melalui lembaga kajian dan pusat studi komunikasi, di Gedung Rektorat UIN Raden Fatah Palembang, Senin (12/11/2018).

Dalam kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan kerjasama antara Fisip UIN Raden Fatah dengan Fikom Unisba Bandung.

Penandatanganan naskah kerjasama dilakukan Dekan Fisip UIN Raden Fatah Prof Dr H Izomiddin dan Dekan Fisikom Unisba Bandung DR Septiawan Santana. Hadir juga Pembantu Dekan 1 Fisip UIN Dr Yenrizal, Pembantu Dekan II M Rofik, M.Si dan Pembantu Dekan III Dr Kun Budianto.

Hadir sebagai narasumber Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisba Bandung, Dr. Septiawan Santana Kurnia, M.Si, juga Weny Ramdiastuti Pemimpin Redaksi Harian Teribun Sumsel.

Dalam paparannya, DR Septiawan menjelaskan, setiap pemilihan presiden atau pemilihan umum (Pemilu) kerap mengundang bahasan mengenai kedudukan media. Hal ini yang juga menjadi perhatian, bahwa kualitas dari sebuah produk jurnalistik harus tetap dijaga independensinya.

Lihat Juga :  2023 Dihapuskan, Nasib 4.000 Orang Honorer Palembang Dipertanyakan

“Jangan sampai para pekerja media ikut dalam arus kepentingan-kepentingan politik, yang pada akhirnya akan menghasilkan berita yang tidak independen,” katanya.

Menurut Septiawan, pekerja media dalam masa pemilihan presiden tentu harus sigap dalam mencium gejala ‘politis’ yang seringkali dilancarkan demi kepentingan suatu kelompok.

“Terutama gerakan politis bisa ditangkap dari gerakan ekonomi politik media, dimana media diberikan biaya iklan untik mempromosikan calon presiden dan wakil presiden.

Oleh karena itu, para pemilik media diminta bertindak tegas dalam mengarahkan awak medianya untuk tidak memberitakan hal terkait politik semacam infotainment atau human interest sifatnya hanya konfirmasi, menolak proyek-proyek politik, demi kepentingan demokrasi dan komunikasi,” tambah Septiawan.

Septiawan juga mengatakan jurnalistik selalu saja dibutuhkan, meski zaman sudah berubah dan media sosial yang terus menerpa. Karena orang akan mencari informasi yang benar, sebagai verifikasi melalui media massa.

Lihat Juga :  Gejala DBD dan Covid-19 Mirip, Segera Datangi Fasilitas Kesehatan Terdekat

“Selama media itu masih hidup, berarti masih dipercaya oleh masyarakat,” tuturnya.

Narasumber kedua, Pemimpin Redaksi Tribun Sumsel, Weny Ramdiastuti menjelaskan, dalam praktik media massa, masyarakat seringkali masih rancu terhadap media massa dan media sosial. Media massa tentu menjadi verifikasi terakhir terkait isu yang seringkali dimunculkan melalui media sosial.

“Oleh karena itu, media massa tidak boleh sampai mengikuti arus isu media sosial, dan melewatkan verifikasi sedikit pun,” ujarnya.

Menurut Weny, terkait dengan pilpres 2019, harus ada rambu-rambu tersendiri bagi media untuk tidak terjerumus dalam permainan isu politik. Selain itu, pekerjaan seorang jurnalis harus mempunyai hati nurani, dan menjaga kepercayaan, tanpa melupakan atau teriring juga dengan bisnis media itu sendiri.

Reporter : Maya Citra Rosa

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *