Uncategorized

Mau Dibawa Kemana Partai Politik Islam?

Partai politik islam memiliki persentase pemilih yang sudah mulai terdegradasi,

Oleh: Herliansyah
Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi

FISIP UIN RF Palembang dan BGH Sinergi Sriwijaya

Partai Politik Islam merupakan partai politik yang secara tegas mencantumkan asanya berorientasikan Islam.

Pada pemilu tahun 2014, paling tidak ada lima partai politik Islam yang ikut berkontestasi, antara lain; Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Partai politik islam memiliki persentase pemilih yang sudah mulai terdegradasi, terbukti dari penurunan persentase pemilihnya dari 43,7% menjadi 31,4%. Indonesia merupakan negara yang mayoritas rakyatnyanya beragama Islam.

Namun perkara politik tidak berbanding lurus dengan kuantitas umat muslim di Indonesia.

Partai Poitik Islam mengalami penurunan peminat, dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu pertama, hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap tokoh politik dari Partai Politik Islam.

Kedua, kegagalan konsolidasi Partai Politik Islam, baik dalam parlemen maupun konsolidasi struktural dan kultural dalam Partai Politik Islam.

Ketiga, banyaknya tokoh agama Islam yang bergabung dengan Partai Politik bermassakan Islam dan Partai Politik Nasionalis.
Perjalanan dalam kontestasi politik di Indonesia sudah memasuki jalan yang kotor untuk memikat suara rakyat.

Ada serangan fajar, penyogokan terhadap Komisi Pemilihan Umum atau Mahkama Konstitusi, penyebaran kebencian (hate speech) terhadap lawan politik, dan masih banyak lagi kecurangan yang dilakukan untuk memenangkan kontestasi politik.

Partai Politik Islam yang berkontestasi memperebutkan suara rakyat yang semestinya dengan syariat Islam. Kemudian menjadi dipertanyakan ketika kontestasi politik berlangsung.

Ketika Politik yang hakikatnya mengunakan “cara” untuk mencapai tujuan. Maka kata “cara” menjadi multimakna ketika dalam kontestasi perebutan suara pada pemilihan umum.

Didalam syariat Islam jelas melarang tindakan korupsi atau penyogokan sesuai dengan Q. S Al-Baqarah ayat 188, menghianati atau penyalahgunaan kekuasaan yg dipercayakan dalam Q. S Al-Anfal ayat 27

Dan masih banyak lagi syariat-syariat Islam yang perlu diperhatikan oleh Partai Politik Islam dalam berkontestasi memperebutkan suara rakyat.

Akan tetapi, kognisi politik yang menghalalkan segalah cara untuk memikat suara rakyat menjadi hal yang perlu dipikirkan kembali oleh partai-partai politik Islam.

Jika Partai Politik Islam tetap istikamah dengan syariat Islam dalam memikat suara rakyat.

Maka degradasi pemilih Partai Politik Islam akan terus berlangsung seiring berjalannya waktu. Terlebih untuk memikat suara pemilih yang nonmuslim.

Partai Politik Islam perlu mengkaji ulang strategi yang seperti apa yang diperlukan untuk meningkatkan atensi rakyat yang nonmuslim. Partai Politik Islam tentunya membutuhkan suara yang bukan hanya dari umat muslim.

Maka dari itu Partai Politik Islam juga perlu meningkatkan minat konstituen nonmuslim yang jelas-jelas belum mengerti syariat islam.
Kotornya perjalanan kontestasi politik sangat sulit untuk dikembalikan dengan poros kompetisi politik yang adil dan jujur.

Hal ini ditopang dengan banyaknya sikap apatis dan dukungan dari rakyat terhadap kekotoraan kontestasi politik di Indonesia yang terus berlangsung.
Partai politik islam dihadapkan dengan tantangan zaman.

Dimana keadan yang mengharus untuk menentukan pilihan agar keberlangsungan Partai Politik Islam masih berlangsung.

Mengunakan cara yang kotor dalam berkontestasi jelas melangar syariat Islam. Namun, keadaan rakyat yang sudah menerima dan mendukung jalannya kontestasi politik yang kotor.

Lantas Partai Politik Islam harus bagaimana untuk tetap mempertahakan keberadaanya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *