KALAM

Majelis Ilmu, Taman Surga Umat Muslim

Sibernas.com, Palembang-Dunia ini sejatinya ada tempat-tempat yang disebut sebagai taman surga. Tempat itu adalah majelis ilmu. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang beriman. Walau masih di dunia, mereka sudah diberi keutamaan menikmati taman-taman surga.

Seperto kisah Anas bin Malik yang suatu hari mendengar sabda Nabi Muhammad SAW yang ditujukan kepada para sahabat:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الجَنَّةِ فَارْتَعُوا

Idza marartum bi riyaadhil-jannah farta’u

“Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” maksudnya silakan menikmati dan bersenang-senang di dalamnya.”

Para sahabat penasaran, apa gerangan yang dimaksud dengan taman surga dan singgah di dalamnya. Menurut beberapa penelusuran hadits, misalnya Tirmidzi, Thabrani dan lain-lain, ada tiga yang disebut sebagai taman surga, yaitu: masjid, majelis dzikir dan majelis ilmu.

Dengan singgah di masjid untuk berdzikir, bermajelis ta’lim, misalnya, nilanya seperti berada di taman surga. Sebuah tamsil atau analogi yang indah bagi orang yang benar-benar peka menikmati diksi dari hadits ini.

Keutamaan masjid, majelis zikir dan majelis ilmu memang sangat besar. Salah satunya dirangkum dalam hadits berikut:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah Ta’ala (masjid), sembari membaca Kitab Allah, saling mendaras (mengkaji) di antara mereka, melainkan turun ketenangan pada mereka, rahmat menyelimuti mereka, malaikat mengerumuni mereka dan mereka akan disebut Allah pada makhluk di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud)

Dalam hadits lain riwayat Abu Dawud, majelis seperti ini bahkan didoakan oleh makhluk Allah di langit dan di bumi. Mereka memintakan ampun untuk orang yang berada di majelis ini. Bahkan, ikan-ikan di lautan yang dalam pun berdoa untuk kebaikan orang yang berada dalam majelis tersebut.

Sementara menurut Ustadz Hadi Maulana Al Hafidz saat mengisi kegiatan keagamaan di Mushola Al Muttaqin Jakabaring mengatakan,
bagi siapa saja yang ingin ke taman surga saat berada di dunia, kunjungilah masjid, majelis dzikir dan majelis ilmu.

Lihat Juga :  Bolehkan Menggabung Utang Puasa dan Puasa Syawal?

“Majelis ilmu adalah tempat bagi orang-orang yang mau menempuh jalan yang diridhoi Allah mencapai surga. Allah hanya memilih orang-orang tertentu yang mau duduk di majelis ilmu dan mendengarkan dengan seksama para ulama yang mengajarkan ilmu, niscaya akan memperoleh kunci-kunci untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat,” kata Hadi Maulana.

Ya, menuntut ilmu merupakan kewajiban semua umat manusia baik laki-laki maupun perempuan. Dengan menuntut ilmu pengetahuan kita akan bertambah, dan Insya Allah ilmu tersebut akan bermanfaat untuk kita.

Dalam Islam pun kita dianjurkan untuk senantiasa menuntut ilmu, karena sebaik-baiknya seseorang adalah yang senang menuntut ilmu. Berikut ini ada beberapa keutamaan menuntut ilmu menurut pandangan Islam:

1. Merupakan jihad fi sabilillah

Orang yang berangkat ke masjid untuk menuntut ilmu dengan dating ke majelis ilmu, dianggap sebagai jihad fi sabilillah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن دخَل مسجِدَنا هذا لِيتعلَّمَ خيرًا أو يُعلِّمَه كان كالمُجاهِدِ في سبيلِ اللهِ ومَن دخَله لغيرِ ذلكَ كان كالنَّاظرِ إلى ما ليس له
“Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarinya, maka ia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa yang memasukinya bukan dengan tujuan tersebut, maka ia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya” (HR. Ibnu Hibban no. 87, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Mawarid, 69).

2. Dimudahkan jalannya menuju surga

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga” (HR. At Tirmidzi no. 2682, Abu Daud no. 3641, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

3. Mendapatkan ketenangan, rahmat dan dimuliakan para Malaikat

Orang yang mempelajari Alquran di masjid disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat ketenangan, rahmat dan dimuliakan para Malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim no. 2699).

4. Dicatat sebagai orang yang salat hingga kembali ke rumah

Lihat Juga :  Bolehkan Menggabung Utang Puasa dan Puasa Syawal?

Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk salat, kemudian setelah salat ada pengajian (majelis ilmu), maka selama ia berada di majelis ilmu dan selama ada di masjid, ia terus dicatat sebagai orang yang sedang salat hingga kembali ke rumah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إذا تَوضَّأَ أحدُكُم في بيتِهِ ، ثمَّ أتَى المسجدَ ، كان في صلاةٍ حتَّى يرجعَ ، فلا يفعلْ هكَذا : و شبَّكَ بينَ أصابعِهِ
“Jika seseorang berwudhu di rumah, kemudian mendatangi masjid, maka ia terus dicatat sebagai orang yang salat hingga ia kembali. Maka janganlah ia melakukan seperti ini.. (kemudian beliau mencontohkan tasybik dengan jari-jarinya)” (HR. Al Hakim no. 744, Ibnu Khuzaimah, no. 437, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/101).

5. Dicatat amalannya di ‘illiyyin

Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk salat, kemudian setelah salat terdapat pengajian (majelis ilmu) hingga waktu salat selanjutnya (misalnya pengajian antara maghrib dan isya), maka ia terus dicatat amalan kebaikan yang ia lakukan di masjid, di ‘illiyyin. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
صلاةٌ في إثرِ صلاةٍ لا لغوَ بينَهما كتابٌ في علِّيِّينَ
“Seorang yang setelah selesai salat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga shalat berikutnya, tanpa melakukan laghwun (kesia-siaan) di antara keduanya, akan dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin” (HR. Abu Daud no. 1288, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Yuk, mari bersama pergi ke taman surga! Dan nikmatilah keindahan dan pesonanya. Semoga! Kelak kita bisa reuni di taman surga yang sesungguhnya! Amin….

Editor: Ferly M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *