KOLOM

Jujur, Sifat Pribadi Sejati

Dan jujur adalah konsekuensi terhadap janji

Oleh: N Salyadi [ Redaktur Pelaksana Sibernas.com ]

 

SIBERNAS.COM – Jujur dalam arti sempit adalah sesuainya ucapan lisan dengan kenyataan. Dan dalam pengertian yang lebih umum adalah sesuainya lahir dan batin. Maka orang yang jujur bersama Allah dan bersama manusia adalah yang sesuai lahir dan batinnya. Karena itulah, orang munafik disebutkan sebagai kebalikan orang yang jujur.

Dalam  firman Allah : “Dan jujur adalah konsekuensi terhadap janji seperti firman Allah : “Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab:23)

Jujur termasuk akhlak utama. Al-Harits al-Muhasibi rahimahullah berkata: ‘Ketahuilah -semoga Allah memberi rahmat kepadamu- sesungguhnya jujur dan ikhlas adalah pondasi segala sesuatu. Maka dari sifat jujur, tercabang beberapa sifat, seperti: sabar, qana’ah, zuhud, dan ridha.

Dan dari sifat ikhlas tercabanglah beberapa sifat, seperti: yakin, khauf (takut), mahabbah (cinta), ijlal (membesarkan), haya` (malu), dan ta’dzim (pengagungan).

Dan kejujuran mempunyai ikatan kuat dengan iman. Rasulullah memaafkan (memakluminya) terjadinya sifat yang tidak terpuji dari seorang mukmin, namun beliau menolak bahwa seorang mukmin terjerumus dalam kebohongan, karena sangat jauhnya hal itu dari seorang mukmin.

Para sahabat pernah bertanya:”Ya Rasulullah, apakah orang beriman ada yang penakut? Beliau menjawab,’Ya.’ Maka ada yang bertanya kepada beliau, ‘Apakah orang beriman ada yang bakhil (pelit, kikir).’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Ada lagi yang bertanya, ‘Apakah ada orang beriman yang pendusta?’ Beliau menjawab, ‘Tidak.’

Dalam cerita taubatnya Ka’ab bin Malik , Ka’ab berkata kepada Rasulullah setelah turunnya ayat yang menjelaskan bahwa Allah menerima taubat tiga orang yang ketinggalan dalam perang Tabuk: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamatkan aku dengan kejujuran, dan sesungguhnya termasuk taubatku bahwa aku tidak akan berbicara kecuali yang benar selama hidupku.”

Dan ia berkata pula: ‘Maka demi Allah , Allah tidak pernah memberikan nikmat kepadaku selamanya, setelah memberikan petunjuk Islam kepadaku, yang lebih besar dalam diriku daripada kejujuranku kepada Rasulullah , bahwa aku tidak berbohong kepadanya , lalu (kalau aku berbohong) aku menjadi binasa sebagaimana binasanya orang-orang yang berdusta…’

Ibnu al-Jauzi rahimahullah meriwayatkan dalam manaqib (riwayat hidup) Imam Ahmad, sesungguhnya dikatakan kepadanya: ‘Bagaimana engkau bisa selamat dari pedang khalifah al-Mu’tashim dan cambuk khalifah al-Qatsiq? Maka ia menjawab, ‘Jikalau kebenaran diletakkan di atas luka, niscaya luka itu menjadi sembuh.

‘ Dan pada hari kiamat, dikatakan kepada manusia:” Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka (jujur dan ikhlas). …”. (QS. Al-Maidah :119)
Kejujuran itu membawa pelakunya bersikap berani dan beradap, dan itupula yang menjadikan seseorang memiliki pribadi yang sejati.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *