NASIONAL

Harga Kopi Bikin Petani Menjerit

SIBERNAS.com, Palembang – Harga tak kunjung naik membuat petani Kopi di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan menjerit. Memasuki masa musim panen sejak beberapa bulan lalu, namun harga kopi tak kunjung beranjak stabil, yang saat ini hanya berkisar Rp 16 hingga Rp 17 ribu perkilogramnya.

Para petani kopi OKU Selatan mengeluhkan turunya harga kopi yang mengalami anjlok dari tahun sebelumnya mencapai Rp 20 ribu perkilonya.

“Hasil panen sudah menurun harga pun tidak kunjung membaik. Padahal saat ini sudah memasuki masa panen tanaman kopi di kabupaten ini,” ungkap Agus, salah seorang petani asal Kecamatan Sindang Danau sebagaimana dikutip dari sripoku.com (21/5)

Lihat Juga :  Kemenag Hentikan Pengiriman Jamaah Umrah Tanah Air

Menurutnya penurunan harga kopi tersebut telah terjadi sejak beberapa bulan terakhir, harga menurun hingga Rp 4 – 7 ribu perkilogramnya.

Agus mengungkapkan harga sempat membaik menembus Rp 22 ribu lebih perkilogram. Namun hingga saat ini harga tak kunjung membaik.

Salah seorang petani lainnya Darwan, tidak tahu persis penyebab anjloknya harga yang tak kunjung membaik, kendati demikian ia mengungkapkan dengan harga yang cenderung mengalami kenaikan tidak sebanding dengan harga kopi saat ini.

“Harga kebutuhan sekarang kan masih tinggi semua. Belum ditambah biaya perawat kebun kopinya. Jadi tidak sebandinglah kalau harga seperti itu,” katanya.

Dirinya juga mengeluh sebab, memasuki musim panen raya ini harga tak kunjung membaik, sebagai petani yang bergantung pada hasil dan harga panen kopi menentukan ekonomi mereka kedepan.

Lihat Juga :  Setelah 2023, Pemerintah Pastikan Tidak Ada Lagi Tenaga Honorer

Ia bersama petani lain meminta kepada pihak terkait untuk menjamin akan harga kopi hingga pasca panen tetap stabil dan menindak para tengkulak yang memainkan harga kopi dipasaran khususnya dikabupaten setempat.

“Kepada pihak terkait harapan kami ikut mengawasi harga komuditas ini. Jangan sampai ada permainan harga yang cukup tinggi di tengkulak – tengkulak, itu sangat merugikan kami petani.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *