PALEMBANG

Cerita di Balik Hari Santri

Ketika Presiden RI, Joko Widodo, hendak menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri, Ustaz Mulisin menjadi perwakilan Sumatera Selatan (Sumsel) yang turut merumuskan penetapan Hari Santri.

SIBERNAS.com, PALEMBANG – Serba-biru langsung tertangkap mata saat memasuki kawasan Pondok Pesantren (Ponpes) Ar Rahman. Warna ini mendominasi gedung pesantren yang terletak di Jalan Tegal Binangun, Kelurahan Plaju Darat, Kecamatan Plaju,  Kota Palembang ini.

Pelang bertuliskan nama ponpes terpajang di pinggir jalan masuk. Beberapa santri terlihat sedang beraktivitas,  beberapa sedang bermain di lapangan, beberapa lainnya mengobrol dan bercanda. Ada juga yang berjalan menuju masjid.

Dr. (HC) K. Mohammad Mulisin, S.Ag., M.Pd.I, adalah mudir atau pemimpin Ponpes Ar-Rahman. Sosok ini merupakan salah seorang promotor terlaksananya Kirab Hari Santri di Kota Palembang, Sabtu (20/10/2018) lalu.

Tokoh yang akrab disapa para santri sebagai Ustaz Mulisin menuturkan proses penetapan Hari Santri pada Tahun 2015 lalu. Ketika Presiden RI, Joko Widodo, hendak menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri, Ustaz Mulisin menjadi perwakilan Sumatera Selatan (Sumsel) yang turut merumuskan penetapan Hari Santri.

Lihat Juga :  Capaian Vaksin Anak Baru 39%, Ini Penyebabnya!

Mengapa Hari Santri harus jatuh 22 Oktober? Menurut Ustaz Mulisin, banyak pertimbangan hingga tanggal itu dipilih. Salah satunya, situasi dan kondisi pada tanggal itu menunjukkan peristiwa-peristiwa perjuangan para pejuang Indonesia yang hendak merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

“Siapa saja yang memerjuangkan kemerdekaan Indonesia waktu itu, ya para kyai dan santri. Salah satunya, siapa yang tidak kenal cerita Cut Nyak Dien yang mengajak para santri berjuang setelah kematian suaminya melawan penjajah,” katanya.

Lelaki kelahiran 10 November 1971 ini juga bercerita mengenai pendiri Ponpes Ar-Rahman, H. M. Sukarman Dewana, yang mengamanahkannya sebagai pemimpin ponpes ini, sejak penerimaan santri baru, pada Tahun 2000.

Bukan waktu yang singkat baginya membangun Ponpes Ar Rahman. Dalam waktu kurang lebih 18 tahun, mulai dari hanya mendidik 15 santri, hingga saat ini tercatat ada 584 santri dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

Lihat Juga :  Dapat Nilai Kuning, Pelayanan Publik Pemkot Palembang Kurang Memuaskan

“Saya senang sekali melihat santri dan santriwati dari hari ke hari berkembang, beraktivitas, dan bersosialisasi dengan baik. Tapi juga sedih, karena tidak bisa memenuhi semua kebutuhan santri saya, karena keterbatasan kita sebagai pimpinan ponpes,” ujar Ustaz Mulisin.

Menurutnya, perkembangan saat ini sangat menggemberikan. Jika dahulu hanya dipandang sebelah mata, kini ponpes menjadi pilihan bagi orangtua untuk mendidik anaknya berakhlakul karimah.

“Kalau dulu masyarakat sekitar, terutama, sangat tidak suka dengan ponpes dan santri di sini. Sampai-sampai pernah jalan ditutup. Tapi sekarang, tidak ada lagi seperti itu. Masyarakat mulai mengerti bahwa pendidikan pesantren sangat dibutuhkan,” katanya.

Reporter : Maya Citra Rosa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *