BUDAYA

Budaya Ruwatan Masih Eksis di Palembang

Sibernas.com, Palembang-Tradisi Ruwatan atau dalam bahasa jawa adalah membuang sial, saat ini masih eksis di Palembang. Bahkan, ratusan orang tergabung dalam komunitas Olah Spiritual dan Kebatinan Kusuma Sejati sejak 17 tahun lalu.

Ketua Paguyuban Olah Spiritual dan Kebatinan Kusuma Sejati, Diajeng Kartika Sari mengatakan, Ruwatan, dalam Bahasa Jawa, yang memiliki arti “membuang sial” atau “menyelamatkan” orang atau sesuatu dari gangguan tertentu.

Gangguan itu bisa dikatakan sebagai kelainan dari suatu kondisi yang umum dalam suatu keluarga maupun pada diri seseorang. Gangguan yang harus diruwat yakni gangguan bagi seseorang yang disebabkan oleh suatu perbuatan yang dapat menimbulkan sial/celaka atau dampak sosial lainnya.

“Ruwatan ini budaya Jawa yang sudah jadi budaya nusantara. Sudah ada di Palembang 17 tahun. Kita hanya berupaya untuk tetap melestarikan budaya Ruwatan ini,” katanya usai melakukan Ruwatan di Museum Balaputra Dewa, Selasa (10/11/2020).

Dalam prosesi Ruwatan ini, dihadirkan juga sinden ruwat, pemain wayang dan diiringi dengan bunyi gamelan. Selain itu ada juga membaca doa-doa, menyiram kepala dengan air bunga, memotong rambut dan lainnya.

Ia mengakui, jika proses ini dinilai banyak orang sebagai ajaran yang melenceng. Namun, menurutnya tidak demikian. Hal ini merupakan prosesi turun temurun yang biasa dilakukan sejak dulu. Hingga kini, Ruwatan dilakukan setahun sekali setiap malam 1 Muharram.

“Kami berupaya untuk melestarikan budaya ini, banyak yang beranggapan melenceng. Sebetulnya ada nilai-nilai spirit yang ada di setiap ritual, doa, walaupun ada sesajen ini untuk menghormati makhluk tidak kasat mata. Apa salahnya kita memberikan penghormatan di tempat kita melakukan ruwatan,” katanya.

Ruwatan yang dilakukan kali ini, yakni Ruwatan Sengkolo/ kesialan. Seperti Sulit mendapat anak, dirundung banyak penyakit yang tidak kunjung sembuh, pasangan selalu bentrok, karena beda weton, tanggal perkawinan tidak cocok, karir macet, jabatan tidak naik-naik, rejeki seret.

“Setiap orang bisa melakukan Ruwatan sekali seumur hidup,” katanya.

Ruwatan dipimpin oleh juru ruwat yang sudah paham dan sepuh, sudah mempunyai keluarga, mengetahui tata cara untuk meruwat. Tidak dilakukan oleh sembarang orang.

“Pemerintah mendukung kita, seperti Gubernur Sumsel Herman Deru, bahkan kita melakukan Ruwatan kali ini di museum,” katanya.

Reporter: Kamayel Ar-Razi
Editor: Zahid Blandino

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close