Uncategorized

Anak dan Zamannya

Oleh: Mukarrom, M.Pd.I

Guru SDIT Al Furqon Palembang

Dalam sebuah perbincangan ringan dengan salah satu orang tua mengenai kondisi  anaknya di salah satu sekolah. Banyak hal yang sangat berbeda ditemui oleh anaknya, ketika berada di sekolahnya saat ini. Sehingga setiap pulang dari sekolah. Beragam cerita negatif yang diceritakan mengenai segala hal yang ada di sekolahnya saat ini. Tidak terhitung lagi. Berapa kali si anak meminta pindah ke sekolah yang lain seperti sekolah sebelumnya. Tentu sebuah pilihan sulit yang harus dilakukan oleh orang tua tersebut untuk melangkah selanjutnya. Apakah harus pindah atau tetap bertahan dengan kondisi anak yang merasa selalu tertekan??.

Untuk apa orang tua bekerja dari pagi hingga malam mencari nafkah?. Tentu tidak lain untuk mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani anaknya. Pemenuhan makanan yang bergizi dan pendidikan yang bermutu menjadi landasan kerelaan orang tua untuk mencurahkan segala kemampuaan mereka dalam mencari nafkah. Namun pemenuhan makanan bergizi dan pendidikan yang bermutu bukan menjadi bagian yang telah sempurna dalam mempersiapkan masa depan si anak. Namun pembentukan mental menjadi salah satu bagian penting dalam pembentukan psikologis anak dalam menghadapi beragam problematika yang akan dihadapinya ke depan di masanya nanti.

Untuk saat ini saja berdasarkan survey yang dilakukan Asia One. Berdasarkan survey terhadap 14.500 responden berasal dari 23 negara. Tingkat stress Indonesia berada di 61 point dibandingkan rata-rata global yang mencapai 61,2 point. Selisih hanya 0,2 point (www.kompas.com).  Point yang masih berada di titik aman menurut survey tersebut. Namun tidah bisa diprediksi beberapa tahun kemudian. Apabila mental dari para generasi masa depan Indonesia tidak bisa berhadapan dengan tekanan pekerjaan dan kehidupan. Pelajaran yang tidak ada di materi khususnya sekolah. Namun, bisa didapat melalui pengalaman kehidupan dalam menyelesaikan masalah (problem solving) hinggga mendapatkan jalan ketuntasan. Bukan menghindari masalah dengan membuka lembaran kehidupan baru.

Sebelum tahun 90-an. Para orang tua yang mayoritas tidak memiliki pendidikan hingga sarjana. Ternyata mampu menyiapkan generasi-generasi yang unggul pada masanya. Pendidikan tidak hanya berfokus pada penguasaan materi pembelajaran yang di sekolah. Pendidikan juga dilakukan dalam pembentukan mental diri dalam menghadapi kehidupan nyata pada zamannya. Sehingga orang-orang yang terbentuk adalah orang-orang yang mampu dalam Intelligence Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient. Meskipun istilah IQ, EQ dan SQ mulai sering didengar pada tahun 90-an. Pada saat ini, istilah tersebut sangat menjadi bahan dagangan bagi para motivator untuk menarik minat para orang tua dalam mendidik anaknya. Maupun menjadi magnet tersendiri bagi orang tua saat ini untuk meng-upgrade kemampuan mereka.

Namun, orang tua zaman now yang telah mengenyam pendidikan yang cukup tinggi.  Ternyata banyak yang terjebak dengan pemikiran-pemikiran yang menggiring mereka pada kondisi kekhawatiran yang terus menerus dan kasih sayang yang terlalu berlebihan kepada anak. Sehingga secara bertahap telah membentuk pribadi-pribadi anak yang lemah. Takut untuk berjuang tanpa melihat apa yang akan dihadapinya di kemudian hari.

Setiap anak yang mengalami permasalahan. Selalu tidak diberikan peluang untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut atau bertanggung jawab dengan masalah yang sedang dihadapinya. Karena terlalu cinta dan tidak ingin si anak mengalami perjuangan yang mereka lakukan pada saat kecil. Sehingga setiap si anak mengalami permasalahan. Orang tua selalu turun tangan dalam mengambil langkah penyelesaian. Penanaman proses menjadi suatu yang selalu dilewatkan dalam mengambil keputusan.

Oleh karena itu, sebagai orang tua harus mulai memahami bahwa mendidik seorang anak bukan instan tapi melalui proses yang panjang. Ketidaknyamanan anak terhadap sebuah tempat atau sekolah. Harus mampu  diubah sebagai sebuah peluang dalam memahamkan bahwa seperti itulah dunia nyata yang akan dihadapi nanti. Dengan selalu memberikan penjelasan dari setiap perbuatan menyimpang yang pernah dialami atau dilihat.

Sabda Rasulullah SAW, “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu”. Pesan tersebut memiliki pengertian bahwa orang tua harus benar-benar mempersiapkan anaknya dalam menghadapi zamannya. Persiapan tersebut haruslah dengan ilmu.

Ilmu itu harus diajarkan dengan teladan, konsisten dan berkelanjutan. Melalui teladan dapat diajarkan langsung sebuah pola pikir dan budaya hidup ketika menghadapi sebuah atau bermacam-macam masalah yang datang secara bersama atau bergantian. Sehingga pada masanya. Saat si anak menemui permasalah telah mampu diselesaikan sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Melalui jalan yang benar bukan memotong jalan pintas tanpa menjalani proses penyelesaian. Selain teladan harus konsisten dan berkelanjutan dalam menerapkan cara menyelesaikan sebuah permasalahan. Sehingga anak akan menemukan sebuah pola yang terbentuk secara menetap. Tidak timbul pergolakkan dalam pemikiran. Berdampak pada kebingungan saat anak menemukan permasalahan yang dihadapinya.

Sehingga ketika telah waktunya berinteraksi di dunia masyarakat dengan kondisi pola pikir dan budaya yang berbeda. Tentu tidak akan merasa kaget. Dengan segala kondisi yang diluar teori-teori pengetahuan yang telah didapatnya saat di sekolah maupun di rumah. Praktek nyata kehidupan yang penuh dengan beragam dinamika kehidupan. Sedih dan senang menjadi satu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *