LIFESTYLE

Sumsel Juaranya Penghasil Kopi, Namun Terasa Getir Kala Dinikmati…!

Oleh : Jemmy Saputera ( Jurnalis di Palembang)

SIbernas.com, Palembang, —- Ibarat buih di tengah lautan, seperti itulah wajah industri kopi Sumatera Selatan (Sumsel) di mata dunia. Banyak menghasilkan, namun getir untuk dinikmati. Mungkin ungkapan ini sedikit ada benarnya untuk menggambarkan suasana kondisi  Sumsel sebagai pemilik rekor kelas wahid kelima kali berturut-turut sebagai provinsi penyumbang kopi terbesar nasional dengan nilai kontribusi diatas 25 persen. Artinya, lebih dari seperempat produksi kopi di Indonesia bersumber dari provinsi ini.

Meski menyandang peringkat nomor satu produksi nasional, brand kopi Sumsel Selatan tidak begitu dikenali di Indonesia. Popularitasnya kalah jauh dari kopi asli dari provinsi lain yang title kopinya mendunia mengharumkan nama bangsa. Sebutlah semisal kopi Gayo, kopi Kintamani, kopi Flores, bahkan juga kalah populer dengan provinsi tetangga, kopi Lampung. Ini yang kemudian menjadikan, Sumsel bak terbentur dilema realita. Oleh sebab itu maka, pantas, Sumsel tak bisa bersaing di pasar global sebagai eksportir kopi mancanegara yang demand-nya terus tumbuh kian kompetitif,  bahkan di pasar dalam negeri pun identitas dan popularitasnya  kopi  Sumsel tidak masuk dalam top of mind para pelaku bisnis dan penikmat kopi. Sehingga hal itu turut mempengaruhi rendahnya kesejahteraan petani kopi.

Melansir detik.com, 9 Desember 2023, Sumsel tercatat sebagai provinsi penghasil kopi dengan 212,4 ribu ton yang tersebar di sepanjang Bukit Barisan mulai dari Ogan Komering Ulu Selatan (yang berbatasan dengan Provinsi Lampung) hingga Pagaralam (yang berbatasan dengan Provinsi Bengkulu) dengan luas lahan kopi mencapai 267 ribu hektar dan terbesar di Indonesia.

Dengan hasil produksi dan lahan begitu luas, mengapa kopi Sumsel tak mampu menembus pasar global , apa yang sebenarnya terjadi dalam tata niaga industri perkopian di Sumsel, berikut analisis penulis yang dirangkum dari pelbagai sumber  :

  1. Komoditas kopi kurang di Prioritaskan, Banyak Perusahaan Gulung Tikar

Diakui atau tidak, komoditas kopi Sumsel masih kalah dengan komoditas perkebunan lainnya seperti sawit dan karet. Hal ini pula yang menjadikan, seberapa sulitnya untuk mendongkrak performa kopi yang produksinya selalu melimpah ini masuk di jajaran specialty?

Berdasarkan laporan Statistik Indonesia 2023 dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kopi Indonesia mencapai 794,8 ribu ton pada 2022, meningkat sekitar 1,1% dibanding tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Sumatra Selatan menjadi provinsi penghasil kopi terbesar tahun 2022. Volume produksinya mencapai 212,4 ribu ton atau 26,72% dari total produksi kopi nasional.

Produksi kopi di Sumatra Selatan naik tipis 0,33% dari tahun sebelumnya (yoy)Pada 2021 produksi kopi di provinsi ini  sebanyak 211,7 ribu ton.

Berikut rincian 10 provinsi penghasil kopi terbesar nasional pada 2022:

  1. Sumatra Selatan: 212,4 ribu ton
  2. Lampung: 124,5 ribu ton
  3. Sumatra Utara: 87 ribu ton
  4. Aceh: 75,3 ribu ton
  5. Bengkulu: 60,1 ribu ton
  6. Jawa Timur: 45,8 ribu ton
  7. Sulawesi Selatan: 29,4 ribu ton
  8. Jawa Tengah: 26,9 ribu ton
  9. Nusa Tenggara Timur: 26,6 ribu ton
  10. Jambi: 19,5 ribu ton

Adapun Kepulauan Bangka Belitung, Gorontalo, dan Papua Barat merupakan provinsi dengan produksi kopi paling sedikit di Indonesia, yaitu hanya 0,1 ton atau 100 kilogram (kg). Di sisi lain, Kepulauan Riau, Maluku Utara, dan DKI Jakarta sama-sama tidak memproduksi kopi pada 2022.

BPS mencatat, ada 76 perusahaan perkebunan kopi di Indonesia sepanjang 2022, masih sama dengan posisi tahun sebelumnya. Namun, jika dirunut lebih jauh jumlahnya sudah menyusut. Pada 2018 masih ada 94 perusahaan perkebunan kopi di Tanah Air, kemudian jumlahnya turun menjadi 89 perusahaan pada 2019, dan 82 perusahaan pada 2020.

  1. Sumsel Kurang Memiliki Kepercayaan Diri

Sebagai wilayah penghasil kopi terbesar di tanah air, seharusnya Sumsel memiliki modal kepercayaan diri untuk tampil terdepan. Hanya saja, sebagian, orang masih berpandangan bahwa, Sumsel memiliki kekayaan sumber daya alam yang handal. Tidak hanya kaya dengan lambung energi seperti, batubara dan minyak.  Bumi Sriwijaya pun mempunyai hasil komoditas pertanian dan perkebunan yang luar biasa salah satunya adalah  sawit, karet kopi dan teh. Hal ini pula lah yang menjadikan image kopi kurang mendapat ruang sehingga tak memiliki brand sendiri seperti halnya wilayah lain. Katakanlah Kopi Lampung,  Kopi Kintamani dan sebagainya.

Pandangangan inilah yang kemudian menjadikan para stakeholder menyadari situasi ini. Apalagi kurangnya langkah strategis kebijakan pemerintah daerah dalam pencarian solusi terhadap salah satu komoditas unggulan asli daerah ini. Sehingga wajar, jika kopi Sumsel yang nikmat terasa menjadi getir saat dijukuki “juara kopi” malah menjadi si penderita yang hanya mendapat ampas dan pahitnya kopi saja.

  1. Perlunya Dukugan dari Pemerintah Daerah

Melihat potensi luar biasa tersebut, Pemprop Sumsel mengukir sejarah baru dengan dukungan penuh dari Pj Gubernur Sumsel H Agus Fathoni serta partisipasi aktif UMKM Kopi, termasuk Kopi Jiklar kemarin, Ahad (12/5/2024) Sumsel meluncurkan brand Kopi sendiri sekaligus  menandakan momen bersejarah bagi industri kopi di Bumi Sriwijaya.

Pantauan media ini, hadir sekitar sekitar 20 pengiat UMKM Kopi bubuk, termasuk Kopi Jiklar, menjadi bukti konkret dalam rangka memajukan dan meramaikan pangsa pasar kopi Sumsel agar lebih dikenal, tidak hanya di level nasional, melainkan juga mancanegara dan dunia.

Dalam kesempatanya, Pj Gubernur Sumsel H Agus Fatoni saat menghadiri morning coffee dan ‘Launching Kopi Sumsel Bersama Gubernur’ di Pelataran Sungai Sekanak Lambidaro, Palembang mengatakan, pihaknya akan membuat peraturan Gubernur (Pergub) tentang kopi Sumsel yang mengatur bagaimana pengembangan berbagai jenis kopi, kita juga akan patenkan.

” Diharapkan dari pergub itu nanti, dapat  mengatur bagaimana kopi ini diproduksi, dikelola dan dikembangkan,” katanya didampingi Pj Ketua TP PKK Sumsel Tyas Fatoni.

Ia menambahkan, nantinya Pergub Kopi Sumsel juga akan dibuatkan peraturan daerahnya (perda) juga. Dengan begitu kopi Sumsel diharapkan akan dikenal dan diminati oleh masyarakat secara luas baik nasional maupun internasional.

Untuk mewujudkan hal itu diakui Agus Fatoni butuh komitmen dan dukungan dari semua pihak yang terlibat dalam pembangunan Sumsel. Karenanya Pj Gubernur Sumsel mengapresiasi dukungan Kadin Sumsel dalam merealisasikan ide agar Kopi Sumsel menjadi lebih dikenal di daerah sendiri.

“Potensi ini harus dimanfaatkan, digali dan dikembangkan dan dalam prosesnya harus melibatkan semua pihak. Saya bangga karena Kadin hadir sebagai wadah berkumpulnya dunia usaha mendukung program Pemprov Sumsel,” ujarnya.

Diungkapnya, saat ini ada pameran kopi Sumsel di Korea Selatan yang sangat diminati dan dinilai sangat potensial. Pemprov Sumsel berkomitmen mendukung kemajuan kopi Sumsel antara lain melakukan peremajaan pada perkebunan kopi dan berbagai upaya meningkatkan produktivitas kebun kopi di Sumsel melalui pemberian bantuan pupuk dan bibit.

“Kopi jadi komoditi andalan kita dan ini akan terus dikembangkan. Nanti kopi apapun harus dibuat merek kopi Sumsel dengan berbagai jenisnya. Sehingga jadi kebanggaan masyarakat Sumsel,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia, M. Arsjad Rasjid mengapresiasi dan menyambut baik launching kopi Sumsel. Katanya, Kadin Indonesia berkomitmen mendorong kopi Sumsel naik kelas dan merambah ke pasar ekspor.

“Kami memiliki jaringan perusahan besar dan berkomitmen jadi konektor akses pasar bagi kopi Sumsel dengan skema tertentu supaya kualitas terjaga dan melakukan pendampingan secara anggaran sehingga ini dapat terlaksana dengan baik,” jelasnya

Kadin Indonesia terkoneksi dengan kamar dagang di luar negeri. Melalui kolaborasi dan kerjasama Kadin Sumsel,Kadin Indonesia dan Pemprov Sumsel akan mampu memajukan industri kopi di Indoesia khususnya kopi Sumsel untuk naik kelas secara global.

 Saatnya Kopi Sumsel Mendunia

Ketua Umum Kadin Sumsel, Affandi Udji menambahkan pengembangan kopi Sumsel akan memberikan kontribusi PAD Sumsel dan mengurangi angka pengangguran. Untuk itu Kadin bekerjasama, berkolaborasi dan bersinergi dengan Pemprov Sumsel dalam menghimpun potensi kopi di Sumsel, salah satunya melalui launching kopi Sumsel.

Kemudian, Arsjad juga berharap agar Kopi Sumsel mampu mendunia. Oleh karena itu, cita-cita tersebut baru bisa diwujudkan melalui sinergi dan kolaborasi yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak.

“Luasnya potensi Kopi di Sumsel ini menjadi kontribusi pergerakan ekonomi, tidak hanya di Sumsel tetapi juga Indonesia.

Bagaimana memberikan dampak luar biasa untuk lapangan pekerjaan, pemberdayaan manusia untuk pengembangan kopi,” kata Arsjad.

Tak hanya itu, Arsjad menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendorong Kopi Sumsel agar bisa naik kelas dan merambah ekspor ke seluruh Indonesia maupun mancanegara.

“Saat ini di Korea Selatan sedang digelar event Kopi Sumsel dan antusiasme masyarakat Korsel sangat tinggi karena negara tersebut menjadi pengkonsumsi kopi terbesar di dunia dan ini jadi kesempatan untuk Kopi Sumsel makin dikenal dan go internasional,” ujarnya.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *