KRIMINALITAS

Motif Pembunuhan Mahasiswi Unsri: Incar Motor Korban, Panik Lengan Ditarik

Sibernas.com, Palembang-Aparat kepolisian Polda Sumsel mengungkap fakta terkait kasus kematian mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) yang tewas dibegal di Tanjung Senai, Kabupaten Ogan Ilir (Ogan Ilir).

Dari penyelidikan kedua tersangka Herly Diansyah (36) warga Gelumbang, Muara Enim dan Nopriandi (27), warga Kecamatan Lembak, Muara Enim, mengincar motor milik dan barang berharga milik korban.

“Para pelaku memang mengincar orang yang sedang melintas dan mengambil motor dan barang milik korban,” ujar Dirreskrimum Polda Sumsel Kombes Pol M Anwar Reksowidjojo, Kamis (8/2/2024).

Kronologi kejadian bermula saat korban Nazwar Keyzha Safira (19) dan Aldo Prasetio (19) duduk di pinggir Jembatan Tanjung Senai. Kedua korban lalu didekati oleh para pelaku lalu menodongkan senjata api, namun korban Aldo mencoba melawan tersangka namun kepalanya dipukul oleh Nopriadi menggunakan senjata api.

Sedangkan korban Nazwar yang juga menghentikan aksi ditusuk Herly di bagian punggung kiri. Setelah kejadian tersebut para pelaku kabur membawa motor hasil begal dan meninggalkan korban dengan keadaan luka parah.

Lihat Juga :  Sengaja Dibakar Orang Tidak Dikenal, Pemilik Toko Lapor Polisi

“Korban Nazwar sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, namun sayang nyawanya tidak tertolong,” katanya.

Selain itu, juga diamankan barang bukti satu pucuk senjata api rakitan jenis revolver milik Nopriandi, senjata tajam jenis pisau milik Herly, pakaian korban Nazwa yang sudah berlumuran darah, para pakaian para pelaku, dan 1 unit sepeda motor Yamaha Xerox milik korban. Sedangkan senjata tajam jenis pisau milik Herly sudah dibuang ke sungai di sekitar tempat kejadian.

“Kami masih mencari barang bukti lainnya yaitu senjata tajam jenis pisau yang digunakan untuk menusuk korban,” tuturnya.

Para pelaku merupakan residivis beberapa tindak pidana kriminal dan keluar dari sel tahanan Muara Enim pada tahun 20222. Herly pernah 3 kali menjalani hukuman penjara kasus Narkoba dan kepemilikan senpi ilegal. Sedangkan tersangka Nopriadi pernah 2 kali menjalani hukuman terkait kasus kepemilikan senjata ilegal.

Para pelaku dikenakan tindak pidana pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan korban meninggal dunia sebagaimana di maksud dalam pasal 365 ayat (3) KUHPidana dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Sementara Herly mengaku, tega menusuk korban Nazwa karena panik korban menarik lengannya

“Saya panik dan langsung menusuk korban pakai pisau, setelah itu saya buang pisau ke sungai,” katanya.

Tersangka Nopriandi membeli senjata api dari temannya dengan harga Rp300 ribu.

“Saya memang selalu bawa senpi itu ke mana-mana dan saya bertemu Herly di penjara,” katanya.

Reporter: Yola Dwi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.