CAHAYA ISLAM

Bolehkah Berkurban Atas Nama Orang yang Meninggal?

Sibernas.com, Palembang-Kurban adalah amalan yang dilakukan pada hari-hari di hari Idul Adha bagi umat muslim atas nama dirinya dan keluarganya. Bolehkah berkurban atas nama orang yang meninggal?

Kurban menjadi salah satu upaya takarub atau mendekatkan diri kepada Allah SWT. Takarub yang dilakukan yakni menyembelih hewan ternak sebagaimana yang juga dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dari salah satu hadits yang dinukil dari Aisyah RA.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ فَقَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

Artinya: Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk dibawakan dua ekor kambing kibas bertanduk yang kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka dibawakanlah kambing tersebut kepada beliau untuk dijadikan kurban. Beliau lalu berkata kepada Aisyah, “Wahai Aisyah, asahlah pisau,”

Nabi Muhammad SAW mengambil pisau tersebut dan kambing tersebut, beliau membaringkannya dan menyembelihnya sambil berkata, “Bismillah (dengan nama Allah). Ya Allah, terimalah (kurban ini) dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya.” (HR Muslim)

Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Fatawa Islamiyah, tidak ada masalah untuk berkurban atas nama orang yang sudah meninggal dunia. Namun, ada dua perkara yang perlu diperhatikan dalam hal ini.

Pertama, kurban yang diamalkan memang merupakan wasiat dari orang yang meninggal tersebut. Allah SWT berfirman mengenai pemenuhan wasiat selama tidak mengandung keburukan dalam surah Al Baqarah ayat 181-182.

فَمَنْۢ بَدَّلَهٗ بَعْدَمَا سَمِعَهٗ فَاِنَّمَآ اِثْمُهٗ عَلَى الَّذِيْنَ يُبَدِّلُوْنَهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ۗ

فَمَنْ خَافَ مِنْ مُّوْصٍ جَنَفًا اَوْ اِثْمًا فَاَصْلَحَ بَيْنَهُمْ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ

Arab latin: Famam baddalahū ba’da mā sami’ahū fa innamā iṡmuhū ‘alal-lażīna yubaddilūnah(ū), innallāha samī’un ‘alīm(un). Faman khāfa mim mūṣin janafan au iṡman fa aṣlaḥa bainahum falā iṡma ‘alaih(i), innallāha gafūrur raḥīm(un).

Artinya: “Siapa yang mengubahnya (wasiat itu), setelah mendengarnya, sesungguhnya dosanya hanya bagi orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Akan tetapi, siapa yang khawatir terhadap pewasiat (akan berlaku) tidak adil atau berbuat dosa, lalu dia mendamaikan mereka, dia tidak berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Perkara yang kedua adalah kurban yang dilakukan murni untuk orang yang meninggal tersebut. Namun, para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini.

Sebagian menyebutnya perbuatan masyru’ atau hal yang disyariatkan sebagaimana atas nama orang hidup dan sedekah atas nama orang meninggal tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa hal itu tidak masyru’ atau tidak disyariatkan karena tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Syaikh Ibnu Utsaimin juga menambahkan, padahal, banyak anggota keluarga dari Rasulullah SAW yang wafat selama beliau hidup. Baik para istri, anak-anaknya, hingga pamannya tidak membuat Rasulullah SAW melakukan kurban khusus atas nama mereka.

Sebab itu, Syaikh Ibnu Utsaimin lebih menyarankan muslim untuk tetap berkurban atas nama diri masing-masing atau keluarga. Tentunya dengan berharap pahala kurban tersebut dapat bermanfaat bagi orang yang meninggal dunia.

“Jika Anda hendak melakukan kurban atas nama mayit, maka berkurbanlah atas nama diri Anda, keluarga Anda, dan berniatlah semoga pahala kurban itu untuk Anda dan untuk keluarga Anda yang masih hidup maupun yang telah wafat. Keutamaan Allah itu sangat luas,” terangnya seperti diterjemahkan Hammud bin Abdullah Al-Mathr dalam buku Kumpulan Tanya Jawab Bid’ah dalam Ibadah.

Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.