Uncategorized

Jika Bersyukur Hati pun Jadi Tenang

“Selalulah bersyukur kepada Allah, biar jiwa gembira”

 SIBERNAS.com Bersyukur itu menandakan bahwa seseorang itu berterimakasih atas pemberian  dan kebaikan yang diperolehnya. Bila Allah Swt. telah memberikan sesuatu kepada kita maka patutlah kita bersyukur dengan bentuk yang juga dituntun dalam Islam.

Dalam bahasa Indonesia, bersyukur artinya berterima kasih.  Sedangkan istilah syukur dalam agama, adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Ibnul Qayyim:  “Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya.”  

Bersyukur atas nikmat Allah adalah orang yang sesuai dengan apa kata Allah dalam Al-Qur’an dan Hadist, yakni mereka itu patuh dan istiqomah dalam menjalankan perintah Allah. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah.

Syukur adalah salah satu sifat Allah. Ketahuilah bahwa syukur merupakan salah satu sifat dari sifat-sifat Allah yang husna. Yaitu Allah pasti akan membalas setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya, tanpa luput satu orang pun dan tanpa terlewat satu amalan pun. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah itu Ghafur dan Syakur” (QS. Asy-Syura [62] : 23).

Seorang ahli tafsir, Imam Abu Jarir Ath-Thabari, menafsirkan ayat ini dengan riwayat dari Qatadah, “Ghafur artinya Allah Maha Pengampun terhadap dosa, dan Syakur artinya Maha Pembalas Kebaikan sehingga Allah lipat-gandakan ganjarannya” (Tafsir Ath Thabari, 21/531).  Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman, “Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu.

Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. (QS. At-Taghabun [64] : 17).  Ibnu Katsir menafsirkan Maha pemberi kesyukuran kepada hamba-Nya, “Maksudnya adalah memberi membalas kebaikan yang sedikit dengan ganjaran yang banyak.  Sehingga orang yang merenungi bahwa Allah adalah Maha Pembalas Kebaikan, dari Rabb kepada Hamba-Nya, ia akan menyadari bahwa tentu lebih layak lagi seorang hamba bersyukur kepada Rabb-Nya atas begitu banyak nikmat yang ia terima.”

Seorang Islam Sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mukmin sejati.  “Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim no.7692).

Syukur dan Rezeki

Merupakan sebab datangnya ridha Allah Ta’ala dalam firmanNya, “Jika kalian ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian. Dan Allah tidak ridha kepada hamba-Nya yang ingkar dan jika kalian bersyukur Allah ridha kepada kalian” (QS. Az-Zumar [39]: 7). Satu ayat yang sangat populer dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Ganjaran Di Dunia dan Akhirat . Janganlah anda menyangka bahwa bersyukur itu hanya sekedar pujian dan berterima kasih kepada Allah. Ketahuilah bahwa bersyukur itupun menuai pahala, bahkan juga membuka pintu rezeki di dunia. Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh orang-orang yang bersyukur akan kami beri ganjaran” (QS. Ali ‘Imran [3] : 145).  Imam Ath Thabari menafsirkan ayat ini dengan membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq, “Maksudnya adalah, karena bersyukur, Allah memberikan kebaikan yang Allah janjikan di akhirat dan Allah juga melimpahkan rizki baginya di dunia”.(Tafsir Ath Thabari, 7/263).

Para ulama  berkata, “Kalau begitu bersyukurlah kalian terhadap nikmat yang telah Allah berikan kepada kalian dan juga terhadap tercegahnya adzab dari kalian. Di dalam syukur harus terkandung pengakuan dan kesadaran bahwa nikmat itu semata-mata dari Allah semata, dzikir dan pujian yang diucapkan melalaui lisannya serta ketaatan anggota badannya untuk semakin tunduk dan patuh dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya”.

Jangan sampai kalian menjadi orang yang ingkar.  Allah juga berfirman yang artinya, “Mereka mengetahui nikmat-nikmat Allah, (tetapi) kemudian mereka meningkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. An-Nahl [16]: 83). Sangat tegas Allah menyebutkannya. Sebab “..Dan tidak ada kenikmatan yang ada pada kalian kecuali datangnya dari Allah.” (QS. An-Nahl [16] : 3).

Lihat Juga :  Sekolah Kebangsaan Putra Jaya Asal Malaysia Berhasil Menangkan Kompetisi Sebagai Sekolah Tersehat Se-Asia Pasifik

Apalagi  Iblis telah berjanji akan mengoda Hamba Allah ini.  Iblis la’natullah alaih, sebelum dia terusir ke dunia, berjanji kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk menggelincirkan manusia dan akan menghalangi mereka untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang bersyukur.  Allah menceritakan perkataan Iblis ini, “Kemudian sungguh akan kami datangi mereka (bani Adam) dari arah depan, arah belakang, samping kanan dan samping kiri mereka, sehingga tidak akan Kau dapati kebanyakan di antara mereka yang bersyukur.” (QS. Al ‘Araf [7]: 17).

Dan terbuktilah apa yang dikatakan oleh iblis, Artinya: “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. Sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh yang artinya, “Dan sedikit sekali golongan hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. As Saba’ [34] : 13).

Termasuk bersyukur adalah kita menerima apa pun yang ada pada kita saat ini, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena pada hakekatnya kenikmatan yang kita terima itu tiada terkira banyaknya. Allah berfirman yang artinya, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Alloh, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya.” (QS. An Nahl [16]: 18).

Barangsiapa yang mengetahui itu adalah suatu nikmat dan mengetahui pula dari mana nikmat itu berasal, namun dia mengingkarinya. Dan kalau  ingkar maka kalian itu sama saja dengan kafir sebagaimana ayat. ”Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.“(QS. An Nahl [16] : 83). Maka dari itu, hendaklah seorang muslim bersyukur atas nikmat dan segala sesuatu yang datang penuh dengan rahmat kepadamu. Agak Allah merahmati, memberkahi dan meridhoi kita.(*)

Penulis: Bangun Lubis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *