Uncategorized

Durhakanya Seorang Anak yang Mendoakan Orangtuanya 5 Kali Dalam Sehari

SIBERNAS.com, Palembang-Dengan berdoa, seorang mampu menaiki tangga menuju jalan kesuksesan dan keselamatan. Sebab doa adalah musuh dari musibah, ia mampu meringankan turunnya musibah bahkan menolaknya.

Terlebih untuk seorang anak yang hendak berbakti kepada kedua orang tuanya, hendaklah ia senantiasa mendoakan orang tuanya tersebut.

Namun, karena sebegitu banyak jasa orangtua yang bahkan mungkin tak terhitung jumlahnya, masih dikategorikan durhaka bagi anak yang hanya mendoakan orang tuanya lima kali dalam sehari.

Dikutip dari Islampos.com, berikut penjabaran sebuah kisah mengenai alasan kenapa masih dikatakan durhaka bagi anak yang hanya mendoakan orangtuanya lima kali dalam sehari.

Dikisahkan bahwa sesorang pernah datang ke Kairo, Mesir. Pada saat ada kajian dari Syaikh yang mengisi kajian sambil berjualan buku. Judul bukunya “Melipat gandakan Keuntungan Dengan Berbakti Kepada Orangtua.”

Dalam buku tersebut di bahas mengenai “Adab Kepada Orangtua”. Dimana dikatakan bahwa “Sungguh durhaka seorang anak yang hanya mendo’akan kedua orangtuanya hanya 5 kali dalam satu hari.”

Ia bingung, kenapa kita sudah mendo’akan orangtua sehari 5 kali, kok masih di bilang anak durhaka?
Kemudian ia coba balik lagi ke masjid tempat membeli buku tersebut, di tanyakan kepada pengurus kajian di Masjid itu, di mana saya bisa menemui Syaikh yang kemarin memberi kajian di Masjid ini.

“Dan setelah saya dapatkan nomor ponselnya, saya hubungi dan kami janjian untuk bertemu di sebuah Masjid yang kebetulan beliau sedang mengisi kajian juga,” kata orang itu.

Selesai kajian, saya bertemu dengan beliau, dan saya bertanya, kenapa kok seorang anak yang sudah mendo’akan kedua orangtuanya 5 kali sehari, masih di katakan anak yang durhaka?

Syaikh itu kemudian meminta kepada saya untuk membacakan do’a untuk kedua orangtua. Dan saya bacakan do’a yang biasa saya baca setelah sholat.

“Rabighfirli waliwalidayya.” “Stop,” kata si Syaikh. “Ulangi lagi.” “Rabighfirli waliwali dayya.” “Stop, ulangi lagi.” “Rabighfirli waliwalidayya.” “Stop, ulangi lagi”.

Terus saya ulangi sampai sepuluh kali. Kemudian si Syaikh bertanya kepada saya, “Apakah kamu capek?”

“Tidak, Syaikh.” “Apakah kamu sampai berkeringat?” “Tidak, Syaikh.” “Apakah kamu sampai mengeluarkan uang membaca do’a seperti yang kamu baca tadi?” Kembali saya jawab tidak.

“Kamu gak perlu mengeluarkan uang, kamu gak perlu mengeluarkan keringat, kamu gak perlu mengeluarkan tenaga yang besar hanya untuk membacakan do’a ampunan kepada kedua orangtuamu.”

“Tapi kenapa kamu hanya bisa memintakan ampunan buat orangtuamu sehari semalam cuma 5 kali?”

“Padahal sejak kamu masih berada dalam perut ibumu, berapa banyak keringatnya yang sudah ibumu keluarkan karena beratnya menanggung kamu yang berada diperutnya?”

“Betapa sakitnya ibumu saat melahirkan kamu, berapa besar biaya yang sudah dikeluarkan kedua orangtuamu untuk membesarkan kamu?”

“Dan sebagai balasannya, kamu hanya bisa mendo’akan kedua orangtuamu cuma 5 kali dalam sehari semalam?”

“Padahal satu kali saat kamu membacakan do’a untuk kedua orangtuamu, Rabighfirli waliwalidayya, saat itu juga satu dosa dari orang tuamu dihapuskan ALLAH Subhaanahu Wa Ta’alaa.”

“Dan ada sebuah kisah, dimana ada seorang orangtua yang saat dia dimakamkan penuh dengan dosa, tiba-tiba, saat orangtua tersebut sedang kesusahan di alam kuburnya, ALLAH Subhaanahu Wa Ta’alaa berikan keringanan dan ALLAH berikan kemuliaan.”

“Sampai-sampai si ahlul kubur bingung, kenapa dia diangkat d
erajatnya seperti ini?” “Kemudian jawab malaikat, “Ini berkat do’a anak-anakmu”

Masya Allah, sekarang apakah kita masih berat untuk membacakan do’a untuk kedua orangtua kita sehari lebih dari 50 kali?

Editor: Ferly M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *