Uncategorized

Hukum Kode Menepuk Bahu Imam Untuk Ikut Salat Berjamaah

SIBERNAS.com, Palembang-Salat berjamaah memang sangat diutamakan daripada salat sendirian. Namun, ada kalanya ketika di masjid, kita mendapati ada satu orang yang sedang salat sendirian. Bisakah kita menjadikan orang tersebut sebagai imam dan kita menjadi makmum sementara orang tersebut membaca niat salat sendiri?

Pada dasarnya, kalaupun orang yang sedang salat sendirian sudah di tengah-tengah salat (misalnya rakaat kedua), orang lain bisa menjadi makmumnya dengan cara menepuk pundak dan langsung mengikuti gerakan salat orang tadi. Tepukan di pundak tersebut adalah sebagai isyarat bahwa seseorang yang menepuk berniat menjadi makmum orang yang sedang salat.

Praktik yang demikian ini, sudah lazim dilakukan di masyarakat dan dibenarkan secara fikih. Seseorang yang dibaiat menjadi imam itu, tetap dihukumi salat berjemaah meski di awal salat niatnya adalah salat munfarid (sendirian).

Dalam kitab Fathul Muin karangan Imam Zainuddin Al-Malibari dijelaskan bahwa praktik tersebut diperbolehkan, tetapi dengan beberapa catatan.

Beliau menulis, “Niat menjadi imam atau berjemaah hukumnya adalah sunah untuk di luar salat Jumat karena untuk mendapatkan keutamaan salat berjemaah. Seandainya ia niat berjemaah di tengah mengerjakan salat maka ia mendapatkan keutamaan itu. Adapun dalam salat Jumat wajib baginya niat berjemaah ketika di awal salat (takbiratul ihram).”

Dengan demikian, niat menjadi imam boleh diungkapkan di tengah-tengah salat. Adapun cara menepuk pundak dianjurkan tidak terlalu keras agar tidak mengagetkan si imam. Sebab, jika sampai mengagetkan dikhawatirkan akan mengganggu kekhusyukan salatnya.

Bahkan apabila tepukan pundak tersebut sampai membatalkan salat orang lain, maka hukumnya diharamkan.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Mauhibah Dzil Fadl berikut ini:

“Haram bagi siapa pun bersuara keras jika mengganggu jemaah yang lain, baik di dalam salat maupun di luar salat karena membahayakan, misalnya seperti (memperingatkan) orang yang sesat, orang yang membaca atau orang yang tidur. Tidak boleh mengganggu walaupun terhadap orang yang fasik karena kefasikan itu tidak ada yang tahu kecuali dirinya.

Pendapat yang mengharamkan tersebut jelas, namun bertentangan dengan pendapat dalam kitab Al-Majmu’ dan sejenisnya. Tidak diharamkannya jika semuanya tidak terlalu mengganggu. Maksudnya, jika gangguannya ringan maka tidak jadi persoalan, tetapi haram jika sangat mengganggu.

Dalam ungkapan kitab Al-I’ab bahwa keterangan dalam kitab Al-Majmu’ (yang tidak mengharamkan) adalah jika tidak terlalu mengganggu kepada orang lain sehingga dapat ditoleransi, berbeda jika suara keras tersebut sampai membatalkan bacaan (salat) secara keseluruhan, maka hukumnya haram.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa segala sesuatu yang mengganggu orang lain saat salat maka dilarang termasuk tepukan pundak yang terlalu keras meski dimaksudkan sebagai isyarat salat berjamaah.

Sementara menurut Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah, menepuk bahu orang yang sedang salat sendiri, sebagai kode kita jadi makmum dia, tidak ada dalam Alquran, As Sunnah, dan kitab-kitab para fuqaha. Maka, lebih aman cukup langsung saja menemaninya di sampingnya. Dahulu Abu Bakar Ash Shidiq pernah menemani seseorang yang sedang shalat sendiri tapi tidak ada keterangan menepuk itu.

Lihat Juga :  Priska Sahanaya: Mengupas Teknik Public Speaking Efektif Bersama PRONAS di SMP Hati Kudus

Walau demikian, masalah menepuk ini sangat situasional, bisa jadi dia terlarang jika justru mengganggu yang salat, atau dibolehkan jika sekedar colek saja dan dia tidak merasa terganggu, dan dia tidak sadar jadi imam jika tanpa dicolek.
Pada dasarnya tidak ada dalam tuntunan syariah.

Dilansir dari NU Online, masalah menepuk pundak memang banyak diperkatakan orang, dalam isyarat makmum untuk mengikuti imam yang tidak diketahui apakah dia sembahyang sunnah atau sembahyang fardhu. Akan tetapi ibarat (ta’bir) yang sharih belum kunjung saya jumpai dalam kitab-kitab agama.

Walaupun makruh hukum mengikuti orang yang sembahyang fardhu kepada imam yang sembahyang sunnah, tetapi sah jamaah, jika sesuai nazham salat keduanya. Dalam Kitab Taudhihul Adillah jilid kedua pada halaman 189-190, telah kami utarakan hukum salat berjamaah yang seperti ini.

Ilmu itu memang luas sekali, terutama ilmu fiqih yang menjelaskan hukum dari segala sesuatu kejadian dan peristiwa, karena waqi‘ah selama hidup dan berkembang kehidupan umat manusia, tidaklah akan habis-habisnya. Rasanya tidak kurang dari 40 tahun saya mulazamah dengan kitab-kitab fiqih, tetapi belum pernah menjumpai masalah menepuk pundak.

Bahkan menurut zhahirnya, orang yang akan mengikut imam itu belum masuk ke dalam sembahyang, maka jika ditepuknya bahu imam yang sudah masuk dalam sembahyang, yang mungkin akan men-tasywis-kannya (merusak konsentrasinya). Jika banyak tasywis-nya tentulah haram, jika sedikit sekurang-kurangnya adalah makruh.

Wallahua’lam.

Editor: Ferly M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *