Uncategorized

Bersedekah Makanan dan Diunggah di Medsos, Bagaimana Hukumnya?

Sibernas.com,-Saat ini banyak pengguna media sosial yang sengaja berfoto saat sedang beribadah lalu diunggah. Tak hanya itu, tak jarang banyak juga orang yang memajang di akun media sosial miliknya ketika ia sedang bersedekah. Fenomena ini marak terjadi dan bahkan mungkin sadar tidak sadar, kita juga pernah melakukannya.

Keberadaan media sosial memang sering membuat banyak orang bebas untuk menampilkan status dan cerita pribadi masing-masing. Tiap orang memiliki haknya sendiri untuk menggunakan akun media sosialnya pribadi.

Salah satu fenomenanya di mana orang bersedekah makanan, tetapi mereka mengunggahnya di media sosial. Hal itu juga banyak dilakukan oleh para influencer, lalu kemudian momen bersedekah tersebut diunggah di media sosial. Tak jarang, video momen bersedekah itu menuai pro dan kontra dari netizen.

Ada netizen yang menilai bahwa mengunggah momen bersedekah dilakukan untuk menginspirasi orang lain. Ada pula yang menilai bahwa hal tersebut termasuk riya. Lantas bagaimana hukumnya dalam Islam?

Menurut Ustaz Abdul Kahfi dalam dakwahnya yang tayang di Trans 7, bersedekah baik makanan maupun uang jika diniatkan untuk pamer dapat merusak amal dari sedekah tersebut.

“Akan tetapi kalau misalkan ni, pengen sedekah tapi kita nampakkan yang pertama niatnya karena ingin mendapat ridho Allah SWT, terus yang kedua agar mengunggah hati orang-orang untuk bersedekah itu diperbolehkan dalam Islam,” ujar Ustaz Abdul Kahfi.

Hal tersebut sesuai dengan Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 271, yang artinya:

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS Al-Baqarah:271).

Lebih lanjut, Ustaz Abdul Kahfi juga menjelaskan bahwa bersedekah boleh diketahui orang lain, tetapi tidak untuk dibangga-banggakan untuk mendapatkan pujian orang. Melainkan untuk meraih ridho dari Allah SWT.

“Karena antara riya dengan bangga, riya dengan ikhlas itu tipis seperti kertas. Gak ada yang tahu kecuali Allah SWT,” tutur Ustaz Abdul Kahfi.

Selain itu, saat bersedekah juga harus memperhatikan perasaan orang yang diberi. Jangan sampai menyakiti perasaan yang menerima sedekah.

Sebab ada kejadian di mana penerima sedekah mengatakan, “Ini gak difoto dulu?,” setelah menerima bantuan makanan. Hal itu dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 262, yang artinya:

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahinya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka,” (QS Al-Baqarah:262).

Maksudnya, pahala bersedekah dapat hilang jika orang yang bersedekah mengungkit-ungkit pemberiannya bahkan hingga menyakiti perasaan orang yang menerima sedekah

Sementara dosen dari Lembaga Pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam, “Ma’had Al-Imarat” Kota Bandung, Ade Abdullah, mempunyai jawaban menarik.
Ade menjelaskan, riya adalah amalan yang bisa menghilangkan pahala sebuah ibadah. Maka jika di era modern ini, dengan kemudahan teknologi, dengan media sosial banyak orang beribadah lalu pamer dengan tujuannya agar diagungkan orang, atau agar dianggap hebat dan pintar, maka sesungguhnya pahalanya akan hilang.

“Rasulullah bersabda, orang yang riya itu ibaratnya orang menanam sesuatu atau menaruh air di atas batu di tengah padang pasir lalu diterpa angin, hilang tak berbekas,” beber Ade.

Dalam situasi lain, sebaliknya jika informasi postingan itu berupa foto atau video yang sedang salat atau bersedekah tujuannya untuk berdakwah, mengajak pada kebaikan, membangkitkan spirit kebaikan. Bisa saja alasannya adalah untuk syi’ar dan mengajak pada kebaikan.

“Jadi semua tergantung hati dan niatnya masing-masing karena ada yang posting niatnya untuk berdakwah, mengajak padahal kebaikan, mengajak berbagi atau berbaur. Jadi Kita tidak bisa menilai ibadah orang dari postingan medsosnya,” ungkapnya.

Menurutnya, semua yang dilakukan untuk keagamaan sebaiknya memang dilandasi niat ibadah karena Allah SWT. Karena secara lahiriah, masalah apakah niat seseorang mengunggah foto salat dan sedekah itu untuk pamer atau tidak memang sukar diketahui secara pasti.

“Tapi kalau untuk ibadah, sebaiknya tidak diposting. Ada situasi-situasi tertentu yang bisa diposting, ada yang tidak. Jadi diutamakan, hanya momen-momen tertentu saja cukup hanya Allah dan kita saja yang tahu,” ujarnya.

Urusan hati dan niat seseorang, lanjutnya, tidak bisa ditebak begitu saja. Karena itu, Ade mengingatkan semua orang yang akan menjalankan ibadah atau yang mau memberikan sedekah dan infak agar selalu mengucapkan niat lillahi ta’ala dari hati.

“Bagaimana pun setiap perbuatan yang kita lakukan itu juga dinilai dari niatnya, bukankah begitu?” katanya.

Editor: Ferly M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *