SUMSEL

Kondisi Terkini Pesantren Hidayattulah: Lahan Menumpang, Bantuan Operasional Pesantren Terhambat

Sibernas.com, Banyuasin-Pesantren Hidayatullah Kenten Laut, mengalami kebakaran pada, Kamis (26/8/2021) lalu. Pascakebakaran, santriwati masih menumpang di mushola pribadi milik warga. Sementara status pesantren yang belum mendapatkan wakaf alias masih menumpang membuat donatur lebih banyak memberikan sembako ketimbang bantuan pembangunan.

Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah Amir Hamzah menyampaikan, sudah satu bulan lebih pasca peristiwa naas, kebakaran yang menimpa Pondok Pesantren Hidayatullah. Kebakaran yang terjadi selepas adzan Dzuhur tersebut meratakan bangunan permanen bertingkat yang menjadi tempat asrama bagi santriawan dan santriwati Pesantren Hidayatullah.

“Menjelang Dzuhur anak-anak 90 persen sedang di masjid untuk melaksanakan salat Dzuhur hanya ada beberapa santri putri yang sedang didapur memasak untuk persiapan buka puasa karna dihari Kamis santri sedang berpuasa. Ketika santri putri hendak ke asrama melihat api kemudian langsung berteriak,” kata Amir Hamzah.

Amir bercerita hingga kini Santriwati Pesantren Hidayatullah masih menumpang tidur di tempat warga.

“Saya sangat berterima kasih kepada Hj Jannah karena telah sudi memperbolehkan mushalla pribadi miliknya untuk dijadikan tempat tinggal sementara bagi santriwati, dan untuk santriawan sementara tidur di lokal kelas,” kata Amir, Minggu (24/10/2021).

Banyaknya bantuan dari berbagai element sangat disyukuri pihak Pesantren Hidayatullah, namun ragam bantuan yang diberikan mayoritas berupa sembako.

Allhamdulilah mas banyak dermawan yang membantu dari berbagai kalangan, namun jenis bantuan paling banyak berupa sembako, dan sangat minim bantuan perbaikan gedung, mengingat status pesantren kita yang masih menumpang atau belum diwakafkan membuat dermawan sedikit banyak ragu. Tapi tetap kita syukuri dengan sembako kita bisa berbagi untuk warga sekitar dan sebagiannya allhamdulilah terjual dan terkumpul Rp60 juta,” kata Amir.

Lihat Juga :  PT KAI Divre III Palembang Salurkan 23 Ekor Hewan Kurban

Para santri hingga kini pun untuk makan bersama hanya mengelar terpal di halaman depan kelas, dikarenakan kondisi gedung yang masih belum diperbaiki.

Amir bercerita, sejak tahun 2012 atau bergantinya peraturan pemerintah Pesantren Hidayatullah sudah tidak bisa lagi melakukan perbaharuan data dikarenakan terkendala status pesantren yang masih menumpang. Imbasnya Pesantren Hidayatullah dari 2012 hingga kini sudah tidak pernah mendapatkan bantuan lagi dari pemerintah.

Tahun 2005 akhir pesantren diresmikan oleh Bupati melalui Camat Talang Kelapa dan untuk lokasi ponpes merupakan milik H Safei yang juga menjadi salah satu pembina Yayasan Ummi Nusantara.

“Saat peresmian pesantren dalam rencana lokasi pesantren akan diwakafkan ke Yayasan Ummi Nusantara yang menaungi Ponpes Hidayatullah, namun saya juga tidak mengerti apa yang membuat beliau belum memiliki sikap,” ujar dia.

Amir mengungkapkan, pembina Yayasan Ummi Nusantara terdiri dari tiga orang, yakni H Safei, H Nasrul, dan Pugu Pramono.

“Saya sudah berdiskusi dengan pihak yayasan, dan dari pihak yayasan yang penting sekolah jalan, Allhamdulilah untuk sekolah sekarang sudah dialihkan dari kemenag ke diknas, untuk SMP sudah terdaftar di Dinas Pendidikan Kabupaten. Namun untuk pesantren tidak bisa karena mesti dari emis dan kita terkendala update data karena status pesantren yang masih menumpang,” ungkapnya.

Lihat Juga :  PT KAI Divre III Palembang Salurkan 23 Ekor Hewan Kurban

“Saya ini sebagai Ketua Yayasan tapi bersikap lebih tepatnya seperti relawan. Banyak yang mengatakan saya bodoh dan sok idealis, tapi bagaimana lagi ada harapan masyarakat, harapan kaum duafa, harapan rakyat miskin dan itu yang saya jaga,” jelasnya.

Untuk biaya operasional mepet Rp300 ribu – 350 ribu untuk makan minum per hari dikali sebulan dan anak-anak gratis, belum lagi lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang sering datang tetap saya hadapi.

“Saya bersyukur banyak bantuan dana untuk pesantren dari donasi. Selain itu, saya juga aktif syiar agama di TVRI, TVRI Kalimantan Tengah, TVRI Lampung, TVRI NTB dan TVRI PekanBaru. Juga saya sangat berterima kasih kepada semua pembina yayasan yang juga lugas membantu,” ucapnya.

Lulusan Pondok Modern Darusalam Gontor Jatim menambahkan, semua yang berada dalam yayasan berperan seperti relawan karena punya visi dan misi yang sama yakni membahagiakan orang lain, khususnya memberikan pendidikan bagi anak bangsa sehingga kemudian berkumpul karena diperlukan organisasi terbentuk yayasan.

Reporter: Arsen
Editor: Ferly M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *