POLITIK

Undang-Undang Cipta Kerja dan Kesalehan Sosial

Penulis: Amidi
(Dosen FEB Univ. Muhammadiyah Palembang dan Pengamat Ekonomi Sumsel)

Pengesahan UU Cipta Kerja oleh DPR RI beberapa waktu lalu menuai protes yang bertubi-tubi dari berbagai elemen masyarakat, yang mereka terjemahkan dalam bentuk demo dan bentuk lainnya sebagai pernyataan sikap “tidak menerima” atas lahirnya UU Cipta Kerja tersebut.

Dari dinamika yang berkembang tersebut, sepertinya kita masih bersikukuh untuk mempertahankan dan memberlakukan UU Cipta Kerja kerja tersebut. Terlepas dari adanya kerusakan sebagai ekses demo mahasiswa dan atau masyarakat tersebut, terlepas dari kritikan berbagai elemen masyarakat tersebut, yang penting UU Citpa Kerja tersebut harus jalan.

Untuk mengakhiri polemik tersebut kita perlu mengkaitkan fenomena ini dengan aspek kesalahen sosial yang sering terlupakan. Kita dituntut agar menjadi umat yang saleh secara individu dan secara sosial. Allah berfirman dalam QS Al-Imron : 110, yang artinya “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’rufndan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan merek adalah orang-orang yang fasik”.

Lihat Juga :  Nandriani Kantongi Identitas Pengerusakan Baliho Miliknya

Kesalehan individual atau kesalehan ritual menekankan dan mementingkan pelaksanaan ibadah ritual, seperti sholat, puasa, zakat, zikir dan seterusnya, hanya mementingkan ibadah yang semata mata berhubungan dengan Tuhan dan kepentingan diiri sendiri. Mereka tidak memiliki kepekaan sosial, dan kurang menerapkan nilai-nilai Islami dalam kehidupan bermasyarakat.

Kesalehan sosial menunjukkan pada perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai Islami, yang bersifat sosial. Bersikap santun pada orang lain, suka menolong, sangat concern terhadap masalah masalah ummat, memperhatikan dan menghargai hak sesama, mampu berpikir berdasarkan prespektif orang lain, mampu berempati, mampu merasakan penderitaan orang lain.

Kesalehan sosial suatu bentuk kesalehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk sujud, puasa, haji, melainkan juga ditandai oleh seberapa besar seorang memiliki kepekaan sosial dan berbuat kebaikan untuk orang lain, sehingga orang merasa nyaman , damai, tentram berinteraksi dan bekerjasama dan bergal dengannya.

Sikap kesalehan individu memang harus dipupuk dan ditingkatkan kualitasnya, tetapi sikap kesalahen sosial harus juga melekat pada diri seorang muslim, agar Ke-Islam-an kita benar-benar tercermin dalam kehidupan secara individual dan tercermin dalam kehidupan kita secara sosial. Selama ini ada yang salah dengan kita dalam mengamalkan ajaran Islam. Hablum Minallah sering tidak kita ikuti dengan Hablum Minan nas.

Kita sering terjebak dengan ritual semata, namun kita lupa dengan emplementasi ritual itu sendiri, yang memang harus diemplementasikan kedalam kehidupan bermasyarakat (sosial). Pada saat kita menjalankan ritual seakan-akan kita tidak akan berbuat salah, seakan akan kita tidak akan menyimpang, seakan akan kita tidak akan menyakiti sesama, seakan akan kita tidak otoriter, seakan akan kita mengayomi umat, dan sifat kita seakan-akan sudah seperti malaikat.

Padahal masih jauh pangang dari api.
Untuk itu mmari kita berlomba-lomba mengedepankan aspek kesalehan sosial tersebut, dalam mengambil kebijakan, dalam menyikapi fenomena yang berkembang di masyarkat, dalam menyikapi penolakan UU Cipta Kerja tersebut, dalam memahami kondisi yang ada, agar kita terhindar dari perbuatan tercela dan benar-benar dapat mempertanggung jawabkan Ke-Islam-an kita. Yakinlah bahwa kesalehan sosial menekan perbuatan keji dan tercela. Selamat Berjuang !!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *