PENDIDIKAN

Belajar Daring, Orangtua Siswa Keluhkan Minimnya Buku Pelajaran

Sibernas.com, Palembang-Gelombang Pandemi Covid-19 memaksa Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) terpaksa masih ditetapkan dengan dalam jaringan atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Dampaknya adalah banyak yang siap daring, dan tak sedikit yang tak siap daring sehingga tak heran muncul banyak keluhan tentang KBM di era Covid-19.

Seperti dikeluhkan beberapa wali murid atau orangtua siswa yang mengeluhkan soal minimnya buku ajar bagi siswa sebagai bahan acuan untuk daring.

“Ada buku Mapel, hanya dua. Itu pun 1 buku yang di dapat bentuknya sudah foto copy,” keluh Mulyani salah satu wali siswa, Senin (27/7/2020).

Ia menambahkan, proses KBM daring seharusnya banyak buku pendamping yang bisa menjadi bahan ajar siswa. Apalagi, tak sedikit orangtua yang belum memahami bahan pembelajaran yang diajarkan guru.

Lihat Juga :  Disdik Sumsel : Pemalsuan Dokumen Sertifikat Prestasi Maka Akan Didiskualifikasi Pada PPDB Tahun 2024

“Jadi menutupi kekurangan buku itu sebagai bahan pembelajaran, saya mendownload salah satu aplikasi yaitu Rumah belajar oleh Pusdatin Kemendikbud:https://belajar.kemendikbud.go.id sebagai bahan pembelajaran bagi anak saya. Saya berharap buku mapel secepatnya bisa dibagikan dari pihak sekolah,” ujarnya.

Herman, salah satu wali murid sekolah bisa memfasilitasi lebih maksimal. Sebagai siswa masih berjenjang SD perlu banyak buku pendamping. Dan tak cukup hanya satu sampai dua buku saja.

“Yang ada hanya wali murid disuruh oleh guru membeli buku penunjang di toko buku dengan penerbitnya sudah ditentukan,satu buku harganya bervariasi mulai dari Rp70.000,- untuk mapel SD kelas, saya sudah membeli 3 buku,” jelasnya.

Lihat Juga :  Ada Pungli PPDB 2024, Laporkan ke Nomor WhatsApp Ini

Lanjut Herman, cukup besar biaya yang dikeluarkan ditambah belum pengeluaran keperluan lainnya, seperti mengisi kuota untuk pembelajaran daring di masa Pandemi Covid-19.

“Sebagai wali murid, kami mengharapkan materi yang diberikan guru secara PJJ seharusnya diberikan buku dari sekolah. Kami sebagai orangtua tidak lagi memikirkan masalah buku, apalagi perekonomian di masa Covid ini. Kami bukan hanya memikirkan masalah biaya pendidikan, tapi juga harus memikirkan biaya hidup,” pungkasnya.

Reporter : Sugiarto
Editor : Zahid Blandino

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *