PENDIDIKAN

UN Tak Dapat Dijadikan Alat Ukur Kompetensi Siswa

SIBERNAS.com, PALEMBANG – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadim Makarim, menilai Ujian Nasional (UN) tidak memiliki signifikansi dengan tingkat kecerdasan siwa atau murid sekolah.

Ir. Salamah Syahabudin, MP

Kelemahan UN diantaranya adalah sistem ini hanya mengukur kemampuan siswa dari segi kognitifnya. Ini dianggap tidak adil bagi siswa karena kemampuan setiap anak berbeda-beda. Memang sebagian orang unggul pada aspek kognitifnya, tetapi ada pula orang lain yang kemampuannya menonjol justru unggul pada aspek afektif atau aspek psikomotorik.

Belum lagi UN selama ini dinilai menjadi beban bagi siswa. Mereka dituntut untuk belajar keras menjelang ujian sampai mengganggu kondisi fisik dan psikologisnya. Deretan fakta ini dirasa tidak sejalan dengan besarnya anggaran yang digunakan untuk membiayai UN. Tidak kurang Rp500 miliar anggaran negara dialokasikan untuk membiayai UN setiap tahunnya. Merugikan sekali.

Seorang Praktisi Pendidikan yang Juga Guru di Sekolah SD IT Al Furqon Palembang, Ir. Salamah Syahabudin, MP, ketika ditanya mengatakan, UN bukanlah alat untuk mengukur kompetensi siswa.

Justru portofolio siswa selama belajar 3 tahun untuk SMP dan SMA merupakan alat ukur perkembangan siswa. Karena UN hanyalah angka yg tertera dan berlangsung selama 3 hari. Apakah waktu pelaksanaan UN dapat dijadikan patokan bagi siswa tersebut untuk layak atau tidak lulus dari SMP dan SMA.

“Bukankah siswa dikatakan berhasil dan mempunyai kompetensi bila aspek perkembangan dan skill nya berproses,”ujarnya.

Salamah menyebutkan, bahwa guru dan sekolah lah yang dapat menyatakan siswa lulus atau tidak.  Sangat disayangkan UN selalu menjadi alat ukur prestasi instan bagi sekolah, kota, kabupaten bahkan provinsi. Semua diukur dari nilai yg dihasilkan oleh siswa dlm ujian tsb dan menentukan provinsi mana yg berhasil dalam pendidikan. “ Miris yaa rasanya,”ujar dia.

Padahal dengan mempertahankan UN berarti mempertahankan sistem pendidikan instan yaitu bimbel alias bimbingan belajar. Kalo mau jujur nilai UN apakah benar2 murni nilai anak krn proses pembelajaran selama di sekolah atau kah karena siswa mengikuti intensif belajar di bimbel selama 1 sd 2 bulan?.

“Nggak kebayang kalo UN dihapus para owner bimbel berteriak dan merengek rengek utk tetap didakan alat ukur instan. Saya mendukung bila UN dihapuskan dan diganti dengan report portofolio siswa,”ujarnya.

Editor: Handoko Supriyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *