KOLOM

Menyongsong Petani Muda

(Tema: Pemuda Pengerak Petani)

Badan Pusat Statistik Republik Indonesia telah mencatat degradasi minat pemuda dalam sektor agraris semakin memprihatinkan. Dimana hal serupa kuat diindikasikan dari perkembangan teknologi dan informasi yang semakin menjadi. Sehinga pantauan anak muda terhadap dunia luar yang menawarkan hidup mewah nan santai terus mengandrungi mereka.

Dari fenomena tersebut tidak sedikit pemuda desa migrasi kedaerah yang urban, dan memutuskan untuk menetap selamanya disana. Ketika hal ini terus begulir dengan seiring waktu, maka tidak menutup kemungkinan regenerasi penghasil pangan dan bahan baku mentah menjadi semakin sedikit.

Ketahanan pangan Indonesia sebagian besar dihasilkan dari mereka yang bercocok tanam, budi daya ternak dan perikanan, lantas bagaimana ketahanan pangan bertopang jika fenomena ini terus terjadi.

Revolusi 4.0 adalah tuntutan zaman yang menafik untuk kita tolak dan beradaptasi denganya. Dari sini, peran pemuda sebagai harapan atas meningkatnya perekonomian desa mendapati kesedihan yang mendalam.

Bisa kita lihat seberapa banyak pemudah yang semakin hari semakin membludak bermigrasi kedaerah urban. Belum lagi pemuda yang apatis terhadap agraris, diam terhadap pencemaran lingkungan, bahkan gengsi yang melebihi kemampuan mereka. Itu cuma beberapa bentuk faktor penolakan pemuda untuk mengantikan estafet penyedia ketahan pangan. Bukan tanpa sebab animo pemuda mendeklarasikan diri mereka dalam bentuk tindakan untuk menolak ambil alih agraria. Dari tidak adanya jaminan pendapatan, penopang gengsi, penguasaan corporate yang mematikan petani kecil, ketimpangan harga yang signifikan, sampai dengan dorongan orang tua tak luput dari alasan pemuda untuk hengkang dari pedesaan yang indentik dengan pertanian.

Lihat Juga :  Amat Besar Dosanya, Mengatakan Sesuatu Tapi Tak Melakukan

Padahal munculnya istilah bonus demografi seharusnya menjadi stimulus bagi pemuda untuk menyongsong perekembangan perekonomian pedasaan, guna untuk mencapai ketahanan pangan yang terlepas dari ketergantungan impor negara lain. Peran pemuda dalam lanskap waktu menuju bonus demografi tersebut sangat diperuntukan disetiap elemen masyarakat.agar sekiranya ide kreatif dan inovatif pemuda tersebut dapat membangkitkan potensi dan efisiensi perekonomian rakyat. Pedesaan khususnya, selain terisolir dari maraknya perkembangan teknologi mereka juga kekurangan kapabilitas yang memumpuni tentang pertanian.

Dari sini jelas dibutuhkan role model yang akan membersamai mereka langsung utnuk beradaptasi dengan kemajuan zaman dan kebutuhan pasar.
Peran pemuda yang potensial dalam meningkatkan produktivitas pertanian digandang akan menawarkan solusi konstruktif yang reformis. Upaya pemberdayaan dan edukasi petani merupakan satu langkah yang bisa diambil pemuda sebagai pertanggung jawabanya terhadap ketahanan pangan. Terlebih jika pemuda memanfaatkan peluangnya dalam rumusan regulasi serta kebijakan pemerintah yang akan memihak petani-petani kecil.

Lihat Juga :  Amat Besar Dosanya, Mengatakan Sesuatu Tapi Tak Melakukan

Tidak dapat dipungkiri penguasaan kaum kapitalis yang mengontrol harga pasar selalu menciptakan kesenjangan pendapatan yang harus diterima petani, belum lagi banyak dari mereka yang mengkerdilkan petani kecil dengan mendirikan corporate sejenis.

Pemudah juga diharapakan dapat mengawasi kebijakan pemerintah dalam implementasi kebijakan pertanian agraria dirasakan secara masif oleh rakyat.
Harapan besar yang tertumpuh dari nawacita Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan UUD 1945 untuk mensejahterakan rakyat, diharapakan kembali mengingatkan pentingnya andil pemuda dalam aspek perubahan tidak terkecuali pertanian. Ketahanan pangan yang kokoh dimasa depan tanpa impor adalah cita-cita kecil yang tersirat dan tersurat untuk diperjuangan pemuda. Lantas siapa lagi yang akan memperjuangkan hal tersebut jika bukan kita?

Penulis : Ari Herliansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close