SYARIAH

Ada Toleransi Beragama Dalam Penegakan Syariat Islam di Banda Aceh

Syariat Islam berjalan maksimal di Kota Banda Aceh. Meski begitu, tetap ada toleransi beragama bagi masyarakat non Muslim.

Sibernas.com, Banda Aceh-Mendengar nama Banda Aceh, yang pertama kali terlintas di pikiran adalah konflik bersenjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan musibah maha dahsyat Tsunami Aceh 2004. Kurang lebih 500.000 nyawa melayang dalam sekejab di seluruh tepian dunia yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.

Tetapi, ada satu hal yang sangat melekat di hati Rakyat Aceh, yakni Syariat Islam. Ya, Syariat Islam memang diterapkan di Bumi Serambi Makkah. Mengapa? jika diibaratkan manusia, Islam itu bagi Rakyat Aceh adalah paru-paru yang merupakan nafas hidup dan pedoman bagi Rakyat Aceh.

Penerapan Syariat Islam benar-benar terlihat saat redaksi AS Sajidin menyambangi Kota Banda Aceh. Semua perempuan di Aceh, semua menutup aurat, tidak ada yang tidak memakai hijab, kecuali penduduk non Muslim dan wisatawan asing. Bahkan sebagian wisatawan juga menghormati rakyat Aceh, dengan memakai kerudung penutup kepala saat berkeliling kota.

Untuk pria juga sama, tidak terlihat yang memakai celana pendek, meski batas aurat pria sebatas bagian lutut. Sementara saat Salat Jumat, semua aktivas harus dihentikan. Toko-toko tutup sementara, dan kaum Adam harus ke masjid. Sementara di malam hari, banyak aktivitas ibadah seperti pengajian dan dzikir bersama.

Satu lagi, jangan berpikiran ada tempat maksiat atau prostitusi di Aceh, karena praktek seperti itu haram hukumnya. Bagi yang nekat melakukan secara sembunyi, siap-siap menerima hukuman cambuk karena telah melakukan pelanggaran Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

“Di Aceh tidak ada praktek atau tempat prostitusi, itu tidak diperbolehkan oleh pemerintah. Memang sebagian warga ada yang nekat melakukan perzinahan secara tertutup atau hotel. Tapi kalau tertangkap mendapat hukuman cambuk,” kata Febri, salah seorang warga Aceh.

Febri menjelaskan, eksekusi hukuman cambuk merupakan komitmen Pemerintah Kota Banda Aceh untuk menjalankan penerapan qanun syariat Islam. Pelaksanaan hukuman cambuk dilakukan oleh Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Banda Aceh.

“Nantinya terpidana menjalani eksekusi cambuk di halaman masjid di Banda Aceh usai Salat Jumat. Kalau perzinahannya sudah berat, misal dengan istri orang bisa mendapat 100 kali hukuman cambuk. Tidak semua pelanggaran dikenakan hukuman cambuk, hanya beberapa saja seperti perzinahan, mesum, ikhtilath (germo), khamar (minuman keras) dan maisir atau perjudian. Kalau kasus kriminal tetap menggunakan hukuman pidana,” jelas Febri yang bekerja sebagai sopir taksi ini.

Ditambahkannya, penerapan Syariat Islam tidak hanya dilakukan kepada seorang Muslim, tapi juga non Muslim yang kedapatan melakukan perbuatan maksiat.

“Berlaku juga untuk non Muslim. Mereka yang berbuat maksiat juga dihukum cambuk di tempat terbuka. Tetapi memang, yang non Muslim memang boleh tidak berhijab atau bercelana pendek. Tapi memang, banyak non Muslim sudah tahu dengan Syariat Islam di Aceh. Saat berkeliling turis asing banyak yang memakai kerudung dan berpakaian sopan. Pria juga banyak yang memakai celana panjang,” tambahnya.

Lebih lanjut Febri mengatakan, di Aceh ada Wilayatul Hisbah atau Polisi Syariah yang kerap berkeliling melakukan razia kepada kaum pria yang tidak melaksanakan Salat Jumat.

“Penduduk asli yang tidak kedapatan tidak Salat Jumat bisa juga terkena hukuman cambuk, termasuk wanita yang tidak memakai hijab. Tapi bagi wisawatan Muslim yang tidak Salat Jumat saat ke Aceh tidak terkena hukuman. Sedangkan toko yang masih buka saat Salat Jumat akan mendapat peringatan dari Satpol PP,” beber dia.

Randa, pemandu perjalanan di Aceh menambahkan, eksekusi hukuman cambuk dilaksanakan di tempat terbuka, yakni di halaman masjid. Hal ini untuk memberi efek jera terhadap pelanggar dan menjadi pelajaran bagi warga lain agar tidak melanggar syariat Islam yang berlaku di Aceh.

“Nanti algojo yang mencambuk mereka. Untuk terpidana wanita dicambuk dalam posisi duduk, sementara pria berdiri. Prosesi cambuk bisa dihentikan sejenak bila terpidana memberikan kode seperti mengangkat tangan. Saat itu petugas Polisi Syariah dan petugas medis akan memeriksa. Kalau tak sanggup atau pingsan, maka dibawa ke ruangan khusus pemeriksaan. Pencambukan akan dilakukan kembali saat terpidana siap,” beber dia.

Dikatakannya, prosesi pencambukan dilakukan di tempat terbuka, biasanya di pelataran masjid. Sebelum proses hukuman dilakukan, akan diumumkan melalui pengeras suara sebagai undangan bagi warga yang ingin menyaksikan. Kemudian sebuah panggung dibuat khusus dengan pagar di sekitarnya untuk menjaga ketertiban.

“Orangtua terpidana ikut diundang saat prosesi cambuk, tapi biasanya tidak hadir karena malu. Pelaku yang mengulangi perbuatannya dapat diberikan hukuman yang lebih berat,” pungkasnya.

Penulis : Zahid Blandino

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close