EKONOMI

Ide Kreatif Sartika, Ubah Barang Bekas Jadi Kerajinan Bernilai

Sibernas.com, Sekayu-Jiwa kreatif dalam berkreasi memang tidak terbatas. Seperti yang dilakukan Sartika, Warga Dusun II, Desa Sungai Batang ( C6 ), Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

Di tengah kesibukannya sebagai petani karet dan ibu rumah tangga (IRT), Ibu Rika-sapaan akrabnya, memanfaatkan barang bekas yang tidak bernilai. Dengan kejelian dan sentuhan tangannya, barang yang tidak terpakai itu justru menjadi tambahan untuk menambah penghasilan.

Tertarik dengan cara yang dilakukan wanita berusia 39 tahun ini, rombongan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Kelompok 12, Angkatan 71, mengunjungi Ibu Tika di rumahnya, Sabtu (3/8/2019). Kedatangan mereka untuk belajar dan mencari tahu lebih dalam tentang kerajinan dari sampah tersebut.

Saat dikunjungi, suasana hangat dan senyum terpancar dari wajah Ibu Tika. Bahkan, sudah banyak hasil karya cantik dari barang bekas yang terjejer di depan teras rumahnya.

Sartika bercerita awal dia tertarik mengelola barang bekas menjadi barang berharga dengan nilai jual tinggi. Kata Ibu Tika, semua berawal dari pengepul rongsokan di sebelah rumahnya. Dia merasa barang barang bekas tersebut masih bisa dimanfaatkan menjadi barang yang bernilai dan berguna.

Idenya bermula ketika ia melihat pameran kreatif di Pemerintah Daerah (Pemkab) Musi Banyuasin (Muba). Sampai pada akhirnya ia mencoba belajar sendiri secara otodidak, tanpa ikut kegiatan pelatihan sama sekali

Bermodal barang bekas di rumahnya, seperti botol plastik, gelas air mineral, sedotan dan lain-lain, dia ubah menjadi barang kreatif dan bermanfaat seperti wadah minuman dan makanan.

“Biasanya Ibu – Ibu bingung harus ngapain, di sini juga sepi. Kalau pagi biasanya pergi ke kebun karet, dan baru pulang siang dan santai sampai sore. Jadi dimanfaatkan untuk kegiatan tangan. Kalau mau terus berusaha pasti bisa,” kata Sartika.

Setelah jadi, semua kerajinan tersebut tinggal dijual. Yang paling mudah tentu dipromosikan dari mulut ke mulut, kemudian mulai ada pesananan dari desa tetangga. Sejurus kemudian, penjualan mulai dilakukan melalui media sosial (Medsos) seperti Facebook.

“Untuk pemasaran melalui media sosial terkendala sinyal, sehingga terbatas. Produk kami juga belum dipasarkan dalam skala besar, sehingga keuntungan belum terlalu optimal. Untuk harga mulai dari Rp80 ribu s/d Rp200 ribu, tergantung dari tingkat kesulitan dan lama pengerjaan,” tambahnya.

Tika menjelaskan, pada dasarnya, barang yang mereka butuhkan untuk bahan dasar sangat mudah didapat. Jadi modal yang dikeluarkan tidak banyak, paling hanya untuk membeli lem atau kawat. Harganya pun tergantung kerumitan saat membuat karya tersebut, namun semua terkendala penjualan yang kurang optimal

“Perlu lagi belajar hal yang baru, baik motif dan lain, atau bisa diikutkan saat pameran. Kalau sekarang apa yang dipesan saya bikin sebisanya,” tukas Tika.

Penulis : Hendy Saputra
Editor : Zahid Blandino

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close