KOLOM

Urgensi Keluarga Literat

Oleh : Mukarrom, M.Pd.I

Guru SDIT Al Furqon Palembang

SIBERNAS.com, Palembang – Keluarga adalah bagian yang terkecil dan utama dalam sebuah miniatur kehidupan dalam merangsang pola perkembangan dan menjadi awal perkenalan anak terhadap pola pergaulan sebelum terjun di lingkungan masyarakat, selain sekolah dan lingkungan Oleh karena itu, pembangunan pondasi keluarga harus di mulai sejak akan memantapkan diri untuk membangun sebuah keluarga hingga telah menjalankan peran sebagai orang tua. Untuk itu, sebagai calon keluarga baru, harus mempersiapkan kompetensi sebagai seorang ayah atau ibu yang utuh bagi anaknya.

Dalam mendukung ketercapaian kompetensi sebagai keluarga baru di zaman revolusi industri saat ini. Seminar pranikah yang diadakan oleh beberapa organisasi yang  bertujuan untuk mempersiapkan mental calon orang tua dengan beragam kisah bahagia dan sedih menjadi bagian dari solusi, dengan harapan akan munculnya perkumpulan orang tua yang peduli dengan masa depan anak yang memanfaatkan wadah tersebut untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang pengasuhan anak di rumah. Membahas kiat-kiat menjadi orang tua yang siap menghadapi anak dengan segala permasalahan, agar mampu menumbuhkan karakter-karakter baik yang sudah mulai pudar di telan zaman.

Kegundahan dalam pengasuhan anak

Munculnya semangat calon orang tua untuk mengikuti seminar pra nikah dan pelatihan pola pengasuhan anak dalam keluarga, dilatarbelakangi beragamnya permasalahan yang akan dihadapi mereka dalam mengantarkan anak mereka menuju masa depan yang lebih baik saat ini. Hal itu dikuatkan dengan sering beredar informasi dari media cetak dan online tentang bentuk kejahatan yang dilakukan oleh anak atau terhadap anak dalam masyarakat. Menurut psikolog anak dan remaja, Irma Gustiana A, M.Psi, Psi, penyebab beragamnya permasalahan tersebut dikarenakan hilangnya waktu keluarga dalam kehidupan berkeluarga dan tidak munculnya peran orang tua sebagai pendidik, yang ada hanya  orang tua sebagai pemuas kebutuhan anak. Semua permintaan yang diajukan oleh anak langsung dipenuhi tanpa melihat kelayakan dan kebermanfaatan bagi anak untuk memperoleh benda tersebut.

Dampak dari permasalahan tersebut, karakter dan budaya hidup anak akan diperoleh dan terbentuk dari lingkungan rumah dan sekolah serta tontonan yang berasal dari TV atau gawai yang mereka miliki. Lingkungan yang rusak akan membentuk anak perusak. Tontonan yang tidak beradab akan membentuk jiwa anak yang biadab. Sehingga, mereka lebih senang untuk menghabiskan waktu mereka dengan gawai dari pada berinteraksi dengan anggota keluarga dan teman sebaya yang ada di lingkungan rumah. Mereka lebih asyik mencurahkan isi hati kedalam status Whatsapp, Facebook, Instagram dan twitter dari pada mencurahkan masalah yang dihadapi kepada saudara atau orang tua sendiri.

Namun, semua permasalahan tersebut tidak serta merta disebabkan perkembangan teknologi yang sangat pesat, sehingga meniadakan peran orang tua seutuhnya dalam sebuah keluarga. Pondasi bangunan keluarga yang rapuh, menjadi awal kehancuran benteng-benteng yang mengelilingi pondasi rumah tersebut. Hal itu dikarenakan, orang tua belum mampu menjadikan mereka sebagai pendidik pertama dalam masa perkembangan anak. Orang tua masih menjadi komponen pelengkap dari asuhan yang dilakukan di sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu, kata-kata yang keluar dari perkataan teman, guru dan idola. Lebih dihayati hingga merasuk dalam jiwa dari pada pesan yang disampaikan orang tua. Hal itu sangat bertolak belakang dengan pesan Ki Hajar Dewantara. Seharusnya pokok pendidikan harus terletak di pangkuan ibu dan bapak, karena hanya dua orang inilah yang dapat “berhamba pada sang anak” dengan semurni-murninya dan seikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasih kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta yang tak terbatas.

Dengan adanya beragam permasalahan tersebut, menjadi awal kesadaran untuk menjadi sosok orang tua seutuhnya dengan selalu mengupgrade kemampuan sebagai orang tua. Mengikuti berbagai kegiatan pelatihan pola pengasuhan anak yang diadakan oleh pihak sekolah atau organisasi kemasyarakatan. Dengan harapan, setelah mengikuti kegiatan tersebut mampu memperbaiki pola pengasuhan anak di rumah, sehingga membentuk pribadi yang religius, mandiri, gotong royong, integritas, dan nasionalis.

Salah satu upaya orang tua untuk kembali menjadi pokok pendidikan bagi anak adalah dengan menciptakan suasana interaksi yang lebih akrab tanpa gangguan dunia luar pada waktu yang telah disepakati dalam musyawarah keluarga atau memanfaatkan waktu khusus yang dicanangkan oleh kemendikbud pukul 18.00-21.00 WIB melalui kegiatan literasi keluarga yang dilakukan, seperti curhat, mendongeng, membaca, bermain peran dan lain-lain.

Menurut kepala Badan Bahasa Kemdikbud Dadang Sunendar, gerakan literasi harus dimulai dari tiga poros utama yakni, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Poros utama yang harus dipersiapkan adalah keluarga. Tiga poros yang saling berkaitan dan saling mengikat. Orang tua berperan dalam mendidik dasar-dasar ilmu kehidupan dan sebagai pendorong dalam ruang lingkup keluarga, guru berperan dalam mendidik ilmu pengetahuan dan lingkungan berperan dalam mengambil keputusan yang positif untuk diikuti dan negatif untuk dijauhi.

Diharapkan dengan adanya waktu khusus dan semangat untuk menjadi orang tua yang siap dan bertanggung jawab. Dapat kembali merajut kebersamaan antara anak dan orang tua, sehingga mampu membangun keluarga literat. Keluarga yang mampu menjadi penangkal pengaruh-pengaruh buruk dari lingkungan dan tontonan serta mampu membentuk pribadi yang lebih interaktif dan komunikatif. Sebuah kegiatan yang harus dijadikan budaya hidup secara menetap dan berkesinambungan bukan hanya sekedar lewat dan mampu mengembalikan masa emas antara orang tua dan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close