WISATA

Akibat Sanksi AS, Pariwisata Kuba Anjlok 8,5 persen

SIBERNAS.com РKetatnya pembatasan perjalanan ke Kuba Karibia oleh Amerika Serikat(AS) membuat parawasita Kuba turun hingga 8,5 persen, turunya pengunjung akan berdampak pada perekonomian Kuba, di mana sektor pariwisata merupakan penyumbang pemasukan terbesar untuk mengimbangi ekspor yang lemah.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump memberikan sanksi kepada Kuba, karena mendukung Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Bulan lalu, Trump melarang kapal pesiar dan pesawat pribadi bepergian ke Pulau Karibia.

“Langkah-langkah itu memicu pengurangan 20,33 persen dalam kegiatan wisata,” Menteri Pariwisata Manuel Marrero, Jumat (12/7).

Marrero memperkirakan 4,3 juta orang akan mengunjungi Kuba pada tahun ini. Target tersebut terbilang lebih rendah dibandingkan dengan target tahun lalu yakni 5 juta wisatawan.

Batasan yang lebih longgar pada perjalanan dari AS ke Kuba di bawah pemerintahan Presiden Barack Obama telah menyebabkan lonjakan pariwisata. Ketika itu, penerbangan komersial dan kapal pesiar dibuka luas. Jumlah wisatawan AS menjadi yang terbesar kedua dalam beberapa tahun terakhir setelah Kanada.

Marrero mencatat, keputusan administrasi Trump mengizinkan tuntutan hukum AS terhadap perusahaan asing yang dianggap telah menjalankan praktik perdagangan orang. Beberapa operator hotel dan unit agen perjalanan onlinetelah ditargetkan dengan tuntutan hukum tersebut. Hal itu menyebabkan penghasilan agen perjalanan dan pelaku industri pariwisata menurun tajam.

“Penghasilan kami turun 80 persen. Banyak restoran harus tutup, sementara yang lain akan kesulitan. Trump mengatakan dia ingin mendukung sektor swasta, tetapi dia tidak (mendukungnya),” ujar pemilik restoran San Cristobal, Carlos Cristobal.

Meski tengah menghadapi sanksi AS, Kuba akan terus mengembangkan sektor pariwisatanya. Pemerintah Kuba sedang merencanakan untuk membangun dolphinarium dan taman hiburan pertama di negara tersebut. Kuba secara tradisional fokus pada pengembangan pariwisata resor atau wisata dengan anggaran menengah.

Mantan profesor Universitas Havana yang mempelajari industri pariwisata Kuba, Jose Luis Parello mengatakan, Kuba tidak boleh terlalu mempertimbangkan perubahan jangka pendek dalam kebijakan AS. Kuba harus memikirkan pengembangan industri pariwisata dalam jangka panjang.

Dikutip dari republika.co Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengatakan, sebagian besar pendapatan yang digunakan untuk belanja negara berasal dari pariwisata. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen akan terus mengembangkan industri pariwisata meski saat ini sedang lesu.

“Sebagian besar dari pendapatan yang kami gunakan setiap minggu berasal dari pariwisata. Untuk alasan ini, kita harus terus bertaruh pada pengembangan pariwisata,” ujar Diaz-Canel.

 

Editor : Handoko

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close