BERITA UTAMABUDAYA

Ritual Mistis Tradisi Perahu Bidar

SIBERNAS.com, PALEMBANG-Bidar adalah seni dayung tradisional Palembang, yang sudah hidup sejak zaman dahulu kala hingga sekarang. Pada perayaan hari besar, terutama Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) tanggal 17 Agustus, lomba Bidar dilangsungkan di Sungai Musi yang mengalir di tengah-tengah Kota Palembang.

Bidar adalah singkatan dari Biduk Lancar. Biduk sendiri memiliki arti perahu. Pada zaman dahulu kala, Biduk digunakan oleh petugas penghubung atau kurir. Bentuknya kecil dan hanya muat untuk seorang. Akan tetapi, pada perlombaan sekarang, satu perahu didayung oleh belasan orang.

Banyak versi di masyarakat mengenai asal usul Bidar. Yang jelas, berdasarkan penuturan sejumlah orangtua yang hidup sebelum kelahiran Republik Indonesia (RI), lomba perahu Bidar sudah ada pada saat kolonial Belanda menguasai Palembang. Saat itu, lomba perahu Bidar digelar setiap kali kolonial Belanda memperingati hari ulang tahun ratunya, atau adanya pesta yang digelar para pejabat pemerintahan Belanda.

Namun, versi berbeda diungkap beberapa ahli sejarah. Menurut mereka, Bidar sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Sriwijaya atau masa Kesultanan Palembang Darussalam. Bidar saat itu disebut sebagai ‘kendaraan perang’ yang bertugas menjaga keamanan Palembang di perbatasan Sungai Musi.

Nah, berbicara soal Bidar, tidak lepas dari mistis. Mulai dari ritual khusus, doa keselamatan, hingga mitos jika ada buaya Pemulutan yang mendorong perahu dari dalam air. Ada yang bilang, jika 40 persen dari pedayung adalah orang Pemulutan, maka besar kemungkinan memenangkan lomba Bidar.

Redaksi As SAJIDIN berkesempatan mewancarai sesepuh Bidar di Palembang Muhammad Yakub Sulaiman atau yang biasa disebut Ak Jon. Ak Jon mengaku, dia sudah ikut Bidar sejak tahun 1977, saat usianya masih 10 tahun. Kata dia, sejak lama dunia mistis tidak bisa lepas dari bidar.

Menurut dia, memang ada beberapa ritual khusus yang dia lakukan bersama Bidar Tatang Putra Grup, namun ritual itu tergantung kepercayaan masing-masing. Sebelum bertanding, dia terlebih dahulu mengkramasi perahu Bidar dengan menggunakan kembang tujuh warna, lalu disebar ke seluruh bagian Bidar.

Lihat Juga :  Lawan Babel United, SFC Antisipasi Akumulasi Kartu

“Pakai kembang tujuh warna, lalu dipercikan ke Bidar. Ini ritual kepercayaan untuk perlindungan dari orang yang mau berbuat jahat. Tapi itu, tergantung permintaan yang punya Bidar, Alhamdulillah kalau Bidar Tatang Putra Grup semuanya dipercayakan kepada saya,” jelasnya sembari menunjukkan foto lomba Bidar masa lalu.

Selanjutnya, khusus Bidar Tatang Putra Grup, sebelum lomba dimulai terlebih dahulu dilakukan ritual doa bersama, dilanjutkan dengan sedekah keselamatan.

“Itu ritual untuk keselamatan bagi kami semua, termasuk pedayung. Kami memohon perlindungan Allah SWT sesuai dengan syariat Islam. Kalau soal kepercayaan ada buaya yang mendorong dari bawah, itu mitos, namun sebagian memang benar,” ujarnya.

Ak Jon menjelaskan, pedayung di bagian depan bernama Juru Batu, fungsinya sebagai pengatur dan memberi komando kepada rekan-rekannya. Pedayungdi bagian belakang bernama Kemudi. Tugasnya, untuk meluruskan jalan. Pedayung di bagian tengah disebut Penarik, yang berfungsi melihat pergerakan lawan, sementara di tengah ada seorang Penimba yang bertugas membuang air yang masuk ke dalam Bidar.

Kemudian ada satu lagi yang memiliki peran penting yakni Juragan. Posisinya paling tengah dan berdiri sepanjang pertandingan. Juragan bisa disebut juga Pawang Bidar, yang bertugas mengatur kekompakan dan mengawasi gerak gerik musuh.

“Juragan tahu jika lawan mau berbuat jahat. Juragan juga bertugas mengintip pergerakan lawan dan menjaga jarak jika Bidar lawan coba mendekat ke Bidar kita. Juragan juga mengatur hal yang bebau mistis, dan doa keselamatan pendayung tergantung Juragan masing-masing,” ucapnya panjang lebar.

Terancam Punah

Terlepas dari aroma mistis, Ak Jon mengaku, perlombaan Bidar kini terancam punah karena minimnya perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah. Ini terlihat dari terus menurunnya jumlah peserta lomba Bidar dari tahun ke tahun. Belum lagi dibutuhkan dana besar untuk perawatan perahu Bidar dan biaya operasional saat bertanding.

Ak Jon tidak menyangkal jika tradisi Bidar terancam punah dan hanya tinggal nama saja. Kondisi ini bisa terjadi jika Pemerintah Kota (Pemko) Palembang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Palembang, tidak peduli dengan kebudayaan dan tradisi Bidar.

Lihat Juga :  Prediksi Pertandingan : Main Lepas di Laga Pamungkas

Menurutnya, bantuan subsidi sebesar Rp5 juta dari pemerintah untuk modal tampil di lomba Bidar sangat tidak mencukupi. Jangankan untuk biaya operasional pertandingan, untuk biaya perawatan Bidar saja bantuan itu jauh dari kata cukup.

“Jika pemerintah tidak memperhatikan yang punya Bidar maka Bidar terancam punah. Dana subsidi pemerintah Rp5 juta, sementara biaya perawatan Bidar saja mencapai Rp10 juta. Tidak balik modal, malah kita yang nombok,” kata Ak Jon.

Menurut dia, untuk merawat perahu Bidar membutuhkan biaya minimal Rp10 juta per tahun. Sebab jika tidak dirawat, perahu Bidar yang terbuat dari kayu merawan bisa hancur dan lapuk dimakan rayap (sejenis serangga-red). Setiap tahun, kayu perahu dirawat dengan cara diminyaki dengan menggunakan solar, dan bagian dalam perahu dicat pakai pelamir biar awet dan tidak dimakan rayap

“Biaya perawatan besar, paling kecil Rp10 juta. Kalau dirawat secara teratur Bidar yang dibuat dari kayu merawan bisa tahan sampai sembilan tahun, kalau tidak Bidar bisa rusak. Setiap tahun kita perbaiki dengan cara diminyaki pakai solar, didempol dan cat amplas. Belum upah tukang, makanya biayanya mencapai Rp10 juta, termasuk upah tukang. Perbaikan dilakukan memasuki bulan Agustus sebelum lomba Bidar dimulai,” jelasnya.

Ditambahkannya, banyak dana yang harus disiapkan pemilik Bidar sebelum mengikuti lomba Bidar sehingga butuh sponsor untuk bisa ikut lomba. Sebab, jika hanya mengandalkan biaya subsidi Rp5 juta dari pemerintah jelas tidak cukup.

“Belum untuk upah pedayung, uang rokok, biaya makan pedayung dan ofisial, jelas uang Rp5 juta tidak cukup, makanya butuh sponsor untuk menanggung biaya operasional selama lomba. Harusnya subsidi pemerintah itu agak besak sedikit, harus ditambah jangan Rp5 juta, itu tidak cukup. Kisaran subsidi harusnya Rp10 juta sampai Rp15 juta. Jadi, walaupun tidak dapat sponsor pemilik Bidar bisa tetap ikut lomba. Jika tidak dilestarikan jumlah Bidar terus berkurang dan jangan sampai Bidar tinggal nama,” pungkasnya.

Penulis : Zahid Blandino

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close