WISATA DAN BUDAYA

Pasar 16 Ilir; Perbankan Tumbuh di Pusat Perekonomian

Sekitar tahun 1929, pemerintah menunjuk seorang arsitek dan penasihat perkotaan Pemerintah Hindia Belanda untuk kawasan Jawa, Sumatera, dan Kalimantan untuk membuat masterplan kota. Dimulailah pembangunan secara terarah, walaupun ada bagian dari perencanaan itu yang tidak bersahabat dengan alam.

MELIHAT foto-foto lama yang menunjukkan kondisi Kawasan 16 Ilir tempo doeloe, tampaklah keteraturan. Pendapat ini memang bersifat debatable, misalnya dengan mengatakan, itu saat penduduk Palembang masih sedikit. Namun, harus diakui, penataan yang dilakukan Pemerintah (Belanda) saat itu cukup apik. Harus pula dicatat, bahwa saat itu kawasan ini tetap saja tidak bebas pedagang kaki lima. Artinya, semua berpulang kepada siapa yang mengatur dan bagaimana cara mengaturnya.
***
USAI penimbunan, Sungai Tengkuruk dijadikan jalan. Hal ini terkait dengan program Pemerintah Kolonial dalam penyediaan sarana “cari angin” bagi warga Eropa (soal sarana hiburan, nanti dibahas tersendiri). Ini merupakan rangkaian dari pembangunan jalan di depan Kuto Besak (kini Jl. SMB II), Raadhuisweg (kini Jl. Merdeka), jalan di tepian Sungai Sekanak samping Kantor Walikota saat ini (sekarang, Jl. Sekanak), dan jalan sekitar kawasan Talangsemut.
Setelah pembentukan gemeente lewat Undang-undang Desentralisasi 1 April 1906, yang mangamanaTkan pembentukan kotapraja atau gemeente di lima belas daerah jajahan, salah satunya Palembang, modernisasi terus digalakkan. Sekalipun demikian, Palembang baru memiliki walikota (burgermeester) pada tahun 1919. Walikota pertama, L. G. Lavire. Lebih kurang setahun kemudian, kedudukan walikota digantikan le Cocq d’Armandville (mengenai walikota kedua ini, akan dituliskan tersendiri). Sekitar tahun 1929, pemerintah menunjuk seorang arsitek dan penasihat perkotaan Pemerintah Hindia Belanda untuk kawasan Jawa, Sumatera, dan Kalimantan untuk membuat masterplan kota. Dimulailah pembangunan secara terarah, walaupun ada bagian dari perencanaan itu yang tidak bersahabat dengan alam.

Becak Cina di Pasar 16Ilir. Foto: KITLV

Sebuah foto bertahun 1930, menampakkan salah satu sudut jalan di Pasar 16 Ilir (dilihat dari arah Musem SMB II saat ini), menampakkan jalan dan trotoar yang bersih. Begitupun pengaturan arus lalu lintasnya. Tampak seseorang yang sedang menarik semacam gerobak penumpang. Dalam film-film kungfu Hongkong, becak serupa ini disebut rigshaw. Penariknya, seorang Cina yang rambutnya dikuncir. Tarif yang diterapkan seragam, yaitu sewang atau 10 sen.
Jalan Tengkuruk pun menjadi sarana jalan di samping sebagai sarana ruang publik. Bulevar, yang kemudian bersambung dengan Schoolweg (kini Jalan Jenderal Sudirman) menjadi sarana publiK yang asyik. Namun, penikmatnya, seperti halnya taman lain –di depan Balai Pertemuan Sekanak, Kambang Iwak, dan beberapa tempat lain– kebanyakan adalah orang Eropa.
Pola bulevar memungkinkan jalan ini menjadi sangat sedap dipandang. Selain trotoar yang disediakan bagi pejalan kaki, dan dilengkapi pula dengan lampu hias di bagian tengah (median)-nya dan pepohonan rindang di salah satu sisinya.
Sisi lain, bangunan pertokoan dan perkantoran (kini di bagian Jl. Tengkuruk Permai) tetap dipertahankan. Perlakuan sama juga atas pertokoan –umumnya dua tingkat– di Jl Pasar Baru dan blok di Jalur 11 (nama saat ini).

Lihat Juga :  Wisata Tower Ampera Mulai Beroperasi di 2025

Banjir

Jalan di Pasar Sekanak yang terimbas banjir. Foto: KITLV

KONSEP modernisasi yang tidak ramah terhadap alam –pemerintah tidak memahami Palembang dengan budaya tepian sungai (riverine culture), telah menimbun Sungai Rendang (sesuai nama guguk), Sungai Tengkuruk, Sungai Kapuran, dan sungai di kawasan Sayangan—mengakibatkan banjir di beberapa tempat.

Pemukim Eropa “menikmati” banjir akibat penimbunan sungai di Palembang. Foto: Tropenmuseum

Setelah tahun 1930, air mulai merendam sebagian kawasan Pasar 16 Ilir, Sekanak, dan kawasan Bukit Kecil. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah kemudian membangun dua kolam retensi di kawasan Talangsemut dan kini dikenal sebagai Kambang Iwak Besak dan Kambang Iwak Kecik.

Beberapa foto yang diambil antara tahun 1930-1958, menunjukkan, adanya penataan di kawasan itu yang mengarah kepada bentuk pusat perbelanjaan (pertokoan). Selain bangunan toko –ini tampak pula pada foto-foto yang diambil sebelum tahun 1930-an—yang berjajar, juga tampak adanya arkade. Yaitu, lorong yang diperuntukkan bagi pejalan kaki dengan atap-atap di bagian atasnya.

Aktivitas perdagangan internasional, terutama karet (Hevea brasiliensis), tembakau (Nicotiana), kopi (Coffea robusta, abad ke-20 ini, Sumatera Selatan tidak lagi menjadi penghasil kopi arabika), kapas (Exbucklandia populnea R. Brown), serta hasil bumi lainnya, menyebabkan kawasan ini pun menjadi “pusat” perbankan. Sepanjang tepian Sungai Musi dari Sekanak hingga 16 Ilir dipenuhi oleh rakit-rakit tumpahan. Rakit ini dimaksudkan untuk menampung hasil bumi, terutama karet, dari kawasan Uluan sebelum transaksi dilakukan.
Pada masa ini, bank niaga pertama yang membuka cabangnya di Keresidenan Palembang adalah Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) pada tahun 1900. Sementara De Javasche Bank, sebagai bank sirkulasi untuk bank niaga, membuka cabang di Palembang pada 20 September 1909. Dapat dikatakan, NHM merupakan “pemain tunggal” di Palembang selama dua dasawarsa.
Perkembangan perdagangan getah karet yang luar biasa setelah tahun 1910, membuat beberapa manajemen

Lihat Juga :  Wisata Tower Ampera Mulai Beroperasi di 2025
NHM tahyn 1950. Foto: KITLV

bank membuka cabang di Palembang. Setelah tahun 1920, berdirilah kantor cabang Nederlandsche Indische Escompto Maatschapij, Nederlandsche Indische Handelsbank, dan Hong Ho (perusahaan bank Cina).
Bank-bank yang kesemuanya berkantor di kawasan 16 Ilir ini membiayai hampir semua perdagangan karet dan kopi di Keresidenan Palembang. Sistem yang dipakai kala itu adalah gadai konsinyasi atau kredit yang diterima. Pihak bank membuat daftar dagang berjangka. Semua jenis tanaman yang tecantum di dalam daftar ini dapat dipakai sebagai bahan gadai di bank. Pembelian dan penjualan harus dilakukan melalui pialang yang diakui Kamar Dagang. Para pedagang pun dapat menggadaikan karet atau kopinya kepada bank. Komoditas ini kemudian disimpan di dalam gudang (veem) dan dapat mengambilnya kembali apabila utang sudah lunas. Pedagang juga dapat mengambil kredit di bank apabila memiliki surat tertulis dari pialang yang menyatakan bahwa sang pemohon kredit akan menyerahkan komoditas (misalnya, karet) dalam jangka waktu tertentu. (Bersambung)

Penulis: Yudhy Syarofie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *