SUMSEL

HDMY Pidato Perdana di Monpera

Mengapa Monpera ini saya pilih, karena saya ingin mengajak membangun Sumsel dengan keterbukaan. Kita akan membangun secara merata dan apa adanya.

SIBERNAS.COM, PALEMBANG – Empat barong (singa) warna merah, pink, kuning, dan hijau beratraksi di halaman Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera). Keempat  singa ini semakin atraktif saat rombongan Gubernur Herman Deru dan Wakil Gubernur Mawardi Yahya tiba di lokasi untuk menyampaikan pidato perdananya, Selasa (2/10/18).

Hari ini, suasana di Monpera memang berbeda dari biasanya. Berbagai kelompok dan paguyuban yang ada di Kota Palembang berkumpul. Pasangan “baru” pemimpin Sumsel yang dikenal dengan singkatan HDMY ini baru tiba di Palembang. Sehari sebelumnya, mereka berada di Jakarta dan dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Gubernur-Wakil Gubernur Sumsel periode 2018-2023.

Begitu HDMY tiba, barongsai milik Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) semakin atraktif. Diiringi tetabuhan khasnya, keempat singa ini beratraksi di tengah simpatisan HDMY dan awak media, yang menunggu sejak pagi di tempat itu.

SAMBUT – Barongsai menyambut Herman Deru dan Mawardi Yahya. Foto: Suhardi

Singa berwarna kuning membentangkan kain warna merah, yang menjuntai dari mulutnya, bertuliskan “Selamat Datang Bapak Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, S.H., M.M. Sedangkan singa berwarna merah, membentangkan kain serupa, bertuliskan “Selamat  Datang Bapak Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Ir. H. Mawardi Yahya”.

Lihat Juga :  Sekda Sumsel : Tertib Administrasi Dapat Menjaga Pejabat Dari Jeratan Hukum

Tiga Pesan Penting

Acara dibuka dengan pembacaan doa. Sebelum berpidato, Herman Deru menyinggung bencana gempa dan Tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, beberapa hari lalu. “Kita berbelasungkawa dan marilah kita mendoakan saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di Palu dan Donggala,” katanya.

Pemilihan Monpera sebagai lokasi penyampaian pidato perdana ini, kata Deru, atas dasar filosofi semangat perjuangan dan sebagai simbol keterbukaan. “Mengapa Monpera ini saya pilih, karena saya ingin mengajak membangun Sumsel dengan keterbukaan. Kita akan membangun secara merata dan apa adanya, tak ada yang ditutup-tutupi,”kata Deru, disambut tepuk tangan hadirin.

Di samping itu, Monpera dapat mengingatkan masyarakat agar tidak pernah melupakan jasa para pejuang, para pendahulu yang terlah berjuang bersama-sama membangun Sumsel. Deru, yang didampingi Mawardi saat berada di podium,  mengajak masyarakat membangun daerah ini dengan berpegang teguh kepada agama yang dianut. “Agama adalah kontrol utama yang bisa menjaga kita dari perbuatan tercela,” katanya.

Lihat Juga :  Somasi Tak Digubris, Bupati Banyuasin Askolani Resmi Laporkan Balik Saudari NY

Saat diwawancarai awak media, Deru menyampaikan tiga pesan penting dan mendasar yang menjadi tolok ukur dalam kepemimpinannya lima tahun ke depan. “Saya ingin  mengajak semua agar selalu mengingat jasa para pahlawan dan mewarisi semangat perjuangannya. Yang kedua, saya ingin kita membangun keterbukaan, jangan ada lagi kepura-puraan. Yang ketiga, saya ingin agar kita selalu mengingat sang Pencipta,” katanya.

Saat ditanya tentang program kerja seratus hari, mantan Bupati OKU Timur dua periode ini menjawab, “Justru kita akan bekerja selama lima tahun, bukan hanya seratus hari.”

Reporter: Suhardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Contact Us